Daftar Kecelakaan Pesawat Terbang Di Indonesia

Berikut adalah Daftar Kecelakaan Pesawat Terbang di Indonesia, baik pesawat komersil Indonesia yang mengalami kecelakaan dinegara lain maupun pesawat komersil Negara lain yang mengalami kecelakaan di Indonesia.
22 April 1974
Kecelakaan pesawat registrasi N446PA Boeing 707 Pan American World yang menabrak gunung di Bali, lima menit menjelang mendarat di bandar udara Ngurah Rai. Tragedi 22 April 1974 itu menelan korban 107 orang tewas.
4 Desember 1974
Pesawat Martin Air yang disewa Garuda Indonesian untuk penerbangan haji jatuh saat akan mendarat di bandar udara Kolombo, Sri Lanka, dan menyebabkan 191 korban tewas.
29 Maret 1979
Pesawat Twin Otter Merpati Nusantara Airlines jatuh di Gunung Tinombala dalam perjalanan dari Palu ke Tolitoli, Sulawesi Tengah, dengan 13 orang korban tewas.
6 Maret 1979
Garuda Indonesia Penerbangan 553 adalah pesawat Fokker F-28 Garuda Indonesia yang sedang dalam penerbangan tanpa penumpang dari Denpasar menuju Surabaya dan menabrak lereng Gunung Bromo di ketinggian 6.200 kaki. Keempat awaknya tewas.
11 Juli 1979
Sebuah pesawat Fokker F-28 Garuda Indonesia terlibat musibah pada 11 Juli 1979. Pesawat bernama Mamberamo itu dalam penerbangan dari Bandara Talang Betutu (Lampung) menuju Medan dipiloti Kepten A.E. Lontoh menabrak dinding Gunung Pertektekan, anak Gunung Sibayak dalam pendekatan (approaching) untuk mendarat di Bandara Polonia, Medan. 4 awak dan 57 penumpangnya tewas.
13 Januari 1980
DC-9 Garuda yang rusak berat akibat mendarat keras di Banjarmasin
20 September 1981
Pesawat DC-9 Garuda Indonesian mendarat darurat akibat kerusakan mesin, sewaktu mendarat kedua ban belakang kiri pecah mengakibatkan pelek ban menghunjam landasan hingga sulit dipindahkan. Tak ada korban jiwa.
20 Maret 1982
Pesawat Garuda Indonesia jenis Fokker F-28 PK-GVK mendarat dalam cuaca hujan lebat, mengalami overrun dan tercampak ke areal persawahan di luar Bandara Branti, Bandar Lampung, Indonesia. 4 awak dan 23 penumpang tewas.
11 Juni 1984
DC-9 lainnya, patah dua di landasan Kemayoran sewaktu mendarat setelah terbang ferry, tidak ada korban.
30 Desember 1984
DC-9 Garuda patah tiga di rawa-rawa akibat overshoot waktu mendarat di bandar udara internasional Ngurah Rai, Bali tidak menelan korban.
4 April 1987
Pesawat DC-9 Garuda Indonesian PK-GNQ jatuh dan terbakar di landasan Bandara Polonia menewaskan 26 awak dan penumpang serta 19 orang luka berat. Pada ketinggian 1.700 kaki menjelang mendarat, pesawat mengalami gangguan dalam cuaca buruk, hujan, kilat dan angin berkecepatan 4 knot.
1 Februari 1988
Pesawat HS 748 PK-HIS milik maskapai Bouraq Airlines mengalami tire blown out pada nose wheel pada saat landing di Gorontalo. 5 Crew dan 28 penumpang selamat.
18 Juni 1988
VC-828 Merpati Nusantara dari Jakarta tujuan Polonia, Medan mendarat darurat di landasan rumput akibat kerusakan pada sistem hidrolik pendaratnya. Ke-67 penumpang dan lima awaknya selamat.
2 Januari 1990
Pesawat CASA C212 PK-PCM milik Pelita Air Services mengalami masalah pada mesin saat berada dil Laut Jawa, pilot memutuskan ditching (mendarat di laut) namun gagal dan tenggelam. 3 crew dan 13 penumpang tewas.
25 Januari 1990
Pesawat HS 748 PK-OBW milik Airfast menabrak gunung Sangkareang, Lombok karena cuaca buruk. 3 crew dan 16 penumpang meninggal.
9 Mei 1991
Pesawat Fokker F27 PK-MFD milik Merpati Nusantara terbang dalam kondisi cuaca tidak baik dan menabrak gunung Kelabat, Manado. 5 crew dan 8 penumpang meninggal.
24 Juli 1992
Pesawat Vickers Viscount VC-8 milik Mandala kehilangan komunikasi saat mendarat menyebabkan pesawat menabrak dataran tinggi barat daya bandara Patimura airport. Menewaskan 7 crew dan 63 penumpang.
28-Aug 1992
Pesawat Vickers Viscount VC-8 PK-IVX milik Bouraq Airlines terbakar setelah landing di bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. 23 orang cedera.
18 Oktober 1992
Pesawat CN 235 PK-MNN milik Merpati Nusantara, menabrak gunung Puntang, Garut. 4 crew dan 27 penumpang meninggal.
9 Januari 1993
Pesawat HS 748 PK-IHE milik Bouraq Airlines mengalami kebakaran pada mesin kanan setelah mendarat dibandara Juanda, Surabaya. 23 orang cedera dan 16 orang meninggal.
31 Januari 1993
Pesawat SC-7 Skyvan Pan Malaysia Air Transport beregistrasi 9M-PID hilang 35 menit setelah lepas landas dari Polonia. Pesawat dengan 11 penumpang dan 3 awak jatuh di kawasan hutan Aceh Timur, hingga kini belum ditemukan reruntuhannya.
1 Juli 1993
Pesawat Fokker F-28 milik Merpati Nusantara mengalami musibah di Sorong saat akan mendarat di Bandar Udara Jefman. Pesawat terbang terlalu rendah dan salah jalur, menabrak bukit kecil setinggi pohon kelapa, mematahkan pesawat menjadi tiga bagian. 41 orang tewas dan dua cedera
25 April 1994
Pesawat BN-2A PK-ZAA milik Dirgantara Air Services menabrak gunung Saran, Kalimantan Barat. Kecuali Ny. Nur Intan Fitriani yang lolos dari maut, 10 penumpang dan pilotnya tewas.
18 Juni 1994
Fokker F-27 PK-MFI Merpati Nusantara Airlines yang menabrak lereng Gunung Kalora sekitar empat menit sebelum mendarat di Bandara Mutiara, Palu, Sulawesi Tengah. 5 crew dan 7 penumpang tewas.
4 November 1994
Twin Otter Trigana Air Service menabrak gunung dekat Kebu, Irian Jaya, menewaskan empat penumpangnya.
30 November 1994
F-28 Merpati Nusantara tergelincir di Semarang melukai 77 penumpangnya.
10 Januari 1995
Pesawat DHC 6 PK-NUK milik Merpati Nusantara hilang ketika melewati Selat Molo, NTB (dicurigai ledakan pada Compartment Cargo). 4 crew dan 10 penumpang hilang.
9 Agustus 1995
Pesawat HS 748 PK-KHL milik Bouraq Airlines menabrak gunung Kumawa, Kaimana, Irian Jaya. 7 awak dan 3 penumpang tewas.
3 Oktober 1995
Sabang Merauke Raya Air Charter kehilangan CASA 212 PK-ZAG yang jatuh di Bakongan Kaimana, Tapak Tuan, Sumatera Utara. 5 cidera dan 1 tewas.
13 Juni 1996
Garuda Indonesia 865, pesawat terbakar setelah overrun akibat aborting take off oleh penerbangnya di Bandara Fukuoka, Jepang saat akan take off menuju Jakarta, Indonesia. 16 cedera dan 3 tewas.
7 Desember 1996
Pesawat C212-200 PK-VSO milik Dirgantara Air Services jatuh di bandara Wamena, Irian Jaya setelah take off karena mesin kanan terbakar. 2 crew dan 15 penumpang tewas, pesawat jatuh 2.5 k m barat daya airport dan menimpa sebuah rumah, dua orang tewas didarat.
19-Apr 1997
Pesawat BAe-ATP PK-MTX milik Merpati Nusantara jatuh saat menjelang landing di Bulu Tumbang, Belitung. 15 orang meninggal.
26 September 1997
Garuda Indonesia Penerbangan GA 152 adalah sebuah pesawat Airbus A300-B4 yang jatuh di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Indonesia (sekitar 32 km dari bandara dan 45 km dari kota Medan) saat hendak mendarat di Bandara Polonia Medan pada 26 September 1997. Kecelakaan ini menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 222 orang dan 12 awak dan hingga kini merupakan kecelakaan pesawat terbesar dalam sejarah Indonesia.
Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Medan dan telah bersiap untuk mendarat. Menara pengawas Bandara Polonia kehilangan hubungan dengan pesawat sekitar pukul 13.30 WIB. Saat terjadinya peristiwa tersebut, kota Medan sedang diselimuti asap tebal dari kebakaran hutan. Ketebalan asap menyebabkan jangkauan pandang pilot sangat terbatas dan cuma mengandalkan tuntunan dari menara kontrol Polonia, namun kesalahmengertian komunikasi antara menara kontrol dengan pilot menyebabkan pesawat mengambil arah yang salah dan menabrak tebing gunung.
Dari seluruh korban tewas, ada 44 mayat korban yang tidak bisa dikenali yang selanjutnya dimakamkan di Monumen Membramo, Medan. Di antara korban jiwa, selain warga Indonesia, tercatat pula penumpang berkewarganegaraan AS, Belanda dan Jepang.
19 Desember 1997
SilkAir Penerbangan 185 adalah layanan penerbangan komersial rutin maskapai penerbangan SilkAir dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, Indonesia ke Bandara Changi, Singapura. Pada tanggal 19 Desember 1997, sekitar pukul 16:13 WIB, pesawat Boeing 737-300 yang melayani rute ini mengalami kecelakaan jatuh di atas Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Seluruh 104 orang yang ada di dalamnya (97 penumpang dan 7 awak kabin) tewas, termasuk pilot Tsu Way Ming dan kopilot Duncan Ward.
14 Januari 2002
Lion Air Penerbangan JT-386 adalah sebuah penerbangan Lion Air dengan pesawat Boeing 737-200 yang jatuh setelah lepas landas di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, Indonesia pada tanggal 14 Januari 2002. Saat itu pesawat sedang menuju Batam. Tidak ada korban jiwa. Pesawat mengalami kerusakan pada sayap bagian kanan.
16 Januari 2002
Garuda Indonesia Penerbangan 421 merupakan pesawat Boeing 737 yang menerbangi jalur Mataram-Yogyakarta-Jakarta. Pada 16 Januari 2002, pesawat melakukan pendaratan darurat di Bengawan Solo. Kecelakaan ini mengakibatkan seorang pramugari tewas dan melukai 12 penumpang lainnya. Kecelakaan itu terjadi pada pukul 15:05 WIB. Alasan utama kecelakaan pesawat ini ialah karena dalam keadaan cuaca badai dan mengalami kerusakan mesin. Akibatnya pilot terpaksa mendarat darurat di sungai.
25 Mei 2002
Pesawat DHC 6 milik Trigana Air Service, yang terbang dari Wamena menuju Enarotali jatuh dipegunungan di Papua. 2 crew dan 4 penumpang tewas.
3 Juli 2004
Lion Air Penerbangan 332 di Palembang
30 November 2004
Pesawat MD-82 milik Lion Air dengan kode penerbangan JT 538 tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Adisumarmo di Solo dan menewaskan 26 orang. Pesawat tersebut lepas landas dari Jakarta dengan tujuan Surabaya (transit di Solo) pada pukul 17.00 WIB sambil membawa 146 penumpang. Menurut penuturan salah seorang penumpang, cuaca pada saat keberangkatan sudah buruk karena adanya hujan besar disertai petir. Saat pendaratan pada sekitar pukul 18.15 WIB, menurutnya, pesawat terasa seperti tidak dapat dihentikan dan akhirnya masuk ke sawah di bandara sebelum akhirnya berhenti di dekat kuburan. Pesawat tersebut patah di tengah, tepatnya di bagian tulisan ‘Lion’ pada badan pesawat. Beberapa pengurus NU, termasuk Ketua Komisi VIII DPR, KH Yunus Muhammad, juga termasuk penumpang yang meninggal.
Berdasarkan hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), penyebab kecelakaan adalah karena landasan pacu yang tergenar air atau peristiwa yang dikenal sebagai hydroplanning sehingga pesawat tergelincir dan tidak dapat dikendalikan.
10 Januari 2005
Lion Air Penerbangan 789 gagal lepas landas dari Kendari, Sulawesi Tenggara.
15 Februari 2005
Lion Air Penerbangan 1641 terperosok di Bandara Selaparang, Mataram, NTB.
5 September 2005
Mandala Airlines Penerbangan RI 091 merupakan sebuah pesawat Boeing 737-200 milik Mandala Airlines yang jatuh di kawasan Padang Bulan, Medan, Indonesia pada 5 September 2005. Kecelakaan ini terjadi saat pesawat sedang lepas landas dari Bandara Polonia Medan. Pesawat tersebut menerbangi jurusan Medan-Jakarta dan mengangkut 116 orang (111 penumpang dan 5 awak). Sebelumnya diberitakan pesawat tersebut mengangkut 117 orang namun seorang penumpang ketinggalan pesawat. Penumpang yang selamat berjumlah 17 orang dan 44 orang di darat turut menjadi korban.Pada 12 Oktober 2006, KNKT menyatakan bahwa menurut hasil penyelidikan, Penerbangan 91 jatuh akibat kondisi flap dan slat (alat penambah daya angkat pesawat saat lepas landas) yang tidak turun serta prosedur check list peralatan yang tidak sesuai persyaratan.
4 Maret 2006
Lion Air Penerbangan IW 8987 dari Denpasar – Surabaya yang membawa 156 orang tergelincir saat mendarat di Bandara Juanda karena cuaca buruk, semua penumpang selamat.
5 Mei 2006
Batavia Air Penerbangan 843 jurusan Jakarta – Ujung Pandang – Merauke setelah beberapa saat mengudara pilot meminta balik ke bandara, pada saat mendarat ban pecah dan pesawat tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, 127 penumpang selamat, 4 orang luka-luka.
5 Mei 2006
Pesawat Twin Otter milik Trigana Air Service dengan 9 penumpang pejabat pemerintah daerah Puncak Jaya, Papua dan 3 awak jatuh dan menewaskan semua penumpangnya. Pesawat diduga menabrak dinding gunung.
1 Januari 2007
Adam Air Penerbangan KI-574 adalah sebuah penerbangan domestik terjadwal Adam Air jurusan Surabaya-Manado, yang sebelum transit di Surabaya berasal dari Jakarta, yang hilang dalam penerbangan. Kotak hitam ditemukan di kedalaman 2000 meter pada 28 Agustus 2007. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 hilang dan dianggap tewas. Pada 25 Maret 2008, penyebab kecelakaan seperti yang diumumkan oleh Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) adalah cuaca buruk, kerusakan pada alat bantu navigasi Inertial Reference System (IRS), dan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat.
7 Januari 2007
Batavia Air Penerbangan 524 dengan tujuan Jakarta dan membawa 135 penumpang dan 3 bayi gagal lepas landas dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang karena kerusakan di roda ketika pesawat bergerak di landasan pacu. Akibatnya pesawat berjalan oleng.
17 Januari 2007
Mandala Airlines Penerbangan 660 tujuan Jakarta-Makassar-Ambon terpaksa kembali ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Pesawat ini sempat mengudara 30 menit namun kemudian diketahui mengalami kerusakan roda.
17 Januari 2007
Batavia Air Boeing 737-400 rute Manado-Balikpapan-Jakarta dengan 147 penumpang dengan empat pramugari gagal melanjutkan perjalanan karena satu roda pesawat rusak.
21 Februari 2007
Adam Air Penerbangan KI 172 merupakan pesawat Boeing 737 yang menerbangi jalur Jakarta-Surabaya. Pada
21 Februari 2007, pesawat melakukan pendaratan keras di Bandara Juanda. Kecelakaan ini mengakibatkan bagian tengah badan pesawat patah. Akibat dari kecelakaan ini jadwal penerbangan sempat terganggu dan seluruh Boeing 737-300 milik Adam Air sempat dilarang terbang untuk inspeksi lebih lanjut olah KNKT.
7 Maret 2007
Garuda Indonesia Penerbangan GA-200 adalah sebuah penerbangan dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Yogyakarta, yang meledak ketika terperosok saat melakukan pendaratan pada tanggal 7 Maret 2007 pukul 06:55 WIB di Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta setelah lepas landas dari Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng, Jakarta pukul 06:00 WIB. Pesawat ini membawa 133 penumpang, 1 pilot, 1 copilot, dan 5 awak kabin. Pilot pesawat adalah Kapten Marwoto Komar.[2] Jumlah korban tewas adalah 22 orang (21 penumpang dan 1 awak pesawat). [1] Beberapa tokoh Indonesia juga ikut dalam penerbangan ini antara lain yaitu Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin (luka ringan)[3], kriminolog Adrianus Meliala (luka), dan mantan rektor UGM Yogyakarta Prof Dr. Kusnadi Hardjosumantri (meninggal).[4]. Pesawat tersebut juga membawa 19 warga negara asing antara lain dari Jepang, Brunei Darussalam dan 8 orang warga Australia yang merupakan rombongan jurnalis yang akan meliput kunjungan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer di Yogyakarta.
Saksi mata mengatakan api dipicu dari meledaknya ban depan saat mendarat sehingga menjalar ke badan pesawat. Dilaporkan pula bahwa badan pesawat terbelah memanjang dari bagian kabin hingga ekor pesawat, sementara salah satu sayap pesawat pecah dan terbelah
12 Maret 2007
Batavia Air Penerbangan 200 dengan tujuan Jakarta batal berangkat dari Bandar Udara Tjilik Riwut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Seorang penumpang mengaku mendengar ledakan keras yang diduga dari bagian mesin saat pesawat telah melaju sekitar 500 meter di landasan pacu bandara. Pilot mengerem pesawat, lalu pesawat kembali ke apron.
23 Maret 2007
Merpati Nusantara Airlines Boeing 737-300 pecah kaca depannya dalam penerbangan dari Denpasar ke Kupang. Pesawat dengan 96 penumpang mendarat dengan selamat di Kupang, namun penerbangan kembali ke Jakarta harus ditunda.
19 April 2007
Trigana Air Fokker 27 melakukan pendaratan darurat di ujung bandara Wamena, Papua, setelah salah satu bannya pecah. Tak ada korban yang jatuh.
Sumber : Wikipedia, angkasa-online.com dan KNKT
18 Comments »
Leave a Reply
| Next »
Blog Stats
- 918,224 stats
Top Posts
Categories
- Alutsista
- Buku
- Catatan Pribadi
- Cost Guard
- Denjaka
- Dephan RI
- Depkes RI
- helikopter
- Indonesia Jets Fighter
- Industri Strategis
- Kapal selam
- KONGA
- KRI
- Lapan
- latihan anti teror
- LIPI
- Marinir
- Negara Lain
- News
- Operasi Intelijen
- Operasi Militer
- Paspampres
- Pasukan Khusus
- Penerbangan
- Perang
- Persenjataan
- Pesawat Militer
- Presiden RI
- PT Dirgantara Indonesia
- PT PAL
- PT Pindad
- PT Sentra Surya Ekajaya
- PT. LEN
- Puspenerbal
- Ranpur
- Skuadron TNI AU
- TNI
- TNI AD
- TNI AL
- TNI AU
- TNI AU 60'an
- TNI Tahun 60an
- Uncategorized
PROUDLY WE SERVE STAND AND FIGHT..
- Ancaman Ranjau Di Choke Points May 28, 2011All hands,Bagi negara-negara maju, salah satu ancaman yang diwaspadai pada wilayah choke points adalah ancaman peranjauan. Tidak sulit untuk menemukan kebenaran akan kewaspadaan itu, karena bisa dilacak pada beberapa latihan rutin Angkatan Laut negara-negara maju yang berfokus pada perburuan dan penyapuan ranjau di choke points. Negara-negara itu memang tela […]noreply@blogger.com (Damn The Torpedoes!!!)
Comments
| adidong on N-250 dimana dirimu kini… | |
| Gugun ahmad hilal on N-250 dimana dirimu kini… | |
| adam on N-250 dimana dirimu kini… | |
| aninditablog on Kendaraan Tempur Bawah Air (KT… | |
| Sidik Khairus on Produk yang dihasilkan Divisi … |






moga moga jangan ada kejadian lagi.
kecerdasan dan ketenangan seperti ini yang harus kita latih supya tidak terjadi kesalahan prosedur penyelamatan penumpang
hebat sang pilot
trim
…..Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-2 ….. demikian potongan lyrik salah satu dari lagu yang dipopulerkan oleh Ebiet G.A.D. yang akhir-2 ini sering kita dengar merupakan gambaran kualitas mentalitas kita sehingga masih sering, suka, bahkan bangga melakukan suatu bentuk pelanggaran.
Hal inilah yang mungkin merupakan embryo dari sikap perilaku yang mengakibatkan potensial accident atau dengan kata lain yang namanya tindakan disiplin belum membudaya dilingkungan kita sehingga demikian rendah kualitas “Budaya Safety” yang hampir terjadi diseluruh strata mulai dari manajemen, crew, juga penumpang, calon penumpang serta komponen lain yang berkaitan dengan kegiatan penerbangan. Ada baiknya kita sadari bahwa ….. ini bukan hukuman, hanya satu isyarat bahwa kita harus banyak berbenah, memang bila kita kaji lebih jauh dalam kekalutan masih banyak tangan yang tega berbuat nista ….. demikian lanjutan tembang dari mas Ebiet … Untuk Kita Renungkan
Mas.. terimaksih untuk infonya. Saya ikut dalam tim pencariannya. Kisah selengkapnya akan saya tulis di website.
http://www.indonesiaku.net. Kalau suka nulis silahkan gabung bersama kami.
Maksud saya ikut tim pencarian pesawat HS 748 PK-OBW milik Airfast yang jatuh di lombok pada tahun 1990.
Boleh donk saya ingin minta data kecelakaan pesawat di Indonesia tahun 2009, karena data yang ditampilkan hanya sampai tahun 2007 dan sepertinya tidak up-date.
mohon saya minta diinformasikan data-datanya.
terima kasih
saya salah satu anak korban dari kecelakaan tersebut,
tapi saya lihat dr daftar atas, sampai bawah..saya tidak menemukan HILANGnya pesawat yg ayah saya tumpangi..
sampai sekarang, saya belum juga menemukan jasadnya ato menemukan serpihan pesawat tersebut,
saya tidak tahu pasti itu pada tahun brapa, yg psti wktu itu saya brusia 4thn [sekarang 23tahun], dan pesawat yg ayah saya tumpangi Bouraq menuju kalimantan tengah..
saya sangat mngharapkan informasinya..
.trims.
@diaz: klo boleh tau… pesawat berangkat dari mana, menuju kemana???
http://vkatalogah.ru/ – автоматический прогон по каталогам
PESAWAT YG HILANG SETELAH BERLEPAS DARI AIRPORT POLONIA KE BANDA ACHEH HILANG TANPA KESAN SEJAK 30 JANUARY 1993.DIBERITAKAN HARI INI, IA DIJUMPAI DITENGAH HUTAN ACHEH TIMUR. KETIKA ITU PESAWAT MALANG JENIS SC-7 SKYVAN ITU MEMBAWA 11 PENUMPANG DAN 4 ANAK KAPAL. JIKA ADA GAMBAR KAWASAN NAHAS HARAP E-MAIL KEPADA SAYA UTK RUJUKAN
http://www.sempreaggiornati.com
Possibly the most influential paper that I have read this year…
rupa penerbangan indonesia yg menyedihkan?
ratusan ribu jiwa(nyawa)melayang,. padahal mereka berharap menggunakan tranportasi itu agar lebih cepat sampai pd tujuan,. tp nyatanya????????,..blammm…. hilang sudah semua impian mereka,. tak bisa menyalahkan takdir/hanya berkata moga2 tak terjadi lagi,. sperti pepatah,. lebih baik diam,daripada berhayal hal yg kita tak pernah lakukan,. seperti juga,yg di katakan pihak terkait di penerbangan indonesia.”kami akan bekerja sekeras mungkin di lanjut hari yg akan datang”dan mnoga2 saja esok tak ada lg kejadian yg memilukan lg”,. hmmmm… “kita tak tau apakah meraka benar2 bekerja memperbaiki kekurangan mereka/hanya tambal sulam,ckckc.. cukup menggelikan mendengar beribu alasan meraka yg itu2 saja,.
kecelaka’an yg di sebabkan oleh human eror,eror enginering/ sampai cuaca pun dipersalahkan,. sungguh menggelikan.. alasan yg benar2 cukup bersembunyi tangan rapat2,.
1-human eror(kesalahan manusia/pilot), kita menyadari bahsanya pilot adlah manusia yg jg bsa berbuat salah,.tp apakah alih2 manusia biasa itu harus ditukar oleh ribuan nyawa?:) konyol…,jika saja pengecekan skil/fondamental +faktor generik pilot,lebih di getolkan pemeriksaan nya,mungkin smw ini bisa lebih di minimalisir,karna pilot jg butuh refresh psico,yg kadang sering di lupakan maskapai,. dan yg pasti lebih ada lg pengecekan penerapan respons” dalam sebuah permasalahan penerbangan,dan pilot yg kadang gagap mental dalam sikon seperti itu,coret dan buang namanya,memang benar skill number one,tp agresifitas respons pilot lebih signifikan,.dan kebanyakan regulasi pengecekan ability pilot oleh maskapi itu di nomer duakan,dan hanya skill yg di utamakan,bisa anda pilah sendiri,skill/respons situations yg lebih penting.
2-engenering problem(kerusakan mesin)- maskapai penerbangan di indonesia rata2 rasio umurnya sudah lebih dari 10ttahun,. bayangkan saja,panel,mesin,body&perangkat lainya yg usianya sudah cukup uzur tetapi masih di paksa terbang berjam-jam dalam sehari,membawa beban puluhan ton,andai saja burung besi itu bisa bicara.pasti hanya satu yg ingin dia katakan “help ME”,saya sudah lelah.kami juga sangat menyadari kenapa pesawat berusia uzur masih di terbangkan,jawabnya kami sangat tahu”karna faktor keterbatasan dana,.dan itu alasan yg cukup harus kami mengerti selama RATUSAN TAHUN.harga tiket pesawat kita pun juga tw harganya tidak murah,sekarang kita pikir secara simple saja, ratusan ribu’X'ratusan kursi,per/flight penerbangan. hasilnya puluhah juta keuntungan netto maskapai per rute, kalikan saja berapa kali rute fliht dalam sehari,cukup besar netto yg mereka dapat dalam sehari.dan kalikan lagi 30hari,wowww,.. jumlah yg cukup fantastis keuntungan bersih setelah di potong pungutan pajak,dll dalam sebulan.
sudah bukan isu lagi bahwa perawatan pesawat terbang secara berkala dalam waktu bertahun,adl perawatan KANIBAL” YG ONDERDIL/SEPAREPART nya,tidak baru(second sparepart)
selayak-layaknya sparepart secccond,sparepart itu mempunyai titik lemah,yg dapat muncul sewaktu-waktu.pikir saja dengan akal sehat kenapa sparepart itu bisa menjadi second” jawabny:karna sparepart itu pernah bermasalah.dan konyol sekali sparepart yg pernah bermasalah di perbaiki titik lemahnya,dan di pasangkan kembali pada mesin pesawat, sungguh judi yg nilai nya sangat fantastis,bkn uang yg kita pertaruhkan tp NYAWA,sungguh judi gelap yg sangat SADIS”.
sejenak coba kita bertanya kemana dana keuntugan penerbangan mereka dalam bertahun-tahun??kita pun tak kan pernah tahu,biar itu jadi dosa mereka di akhir hayat nanti. blm lagi subsidi dinas perhubungan pada tiap kelayakan tranportasi indonesia.di kemanakan dana-dana itu oleh maskapai penerbangan?. dalam hati kita smw pasti bisa menjawab,.dan KITA,KITA.NYWA KITA. yg menjadi judi mereka,. hmm… amat memprihatinkan.
3-FAKTOR CUACA.dengan kata lain menyalahkan sang pencipta,. sungguh berdosa nya mereka.cuaca adalah perputaran regulasi alam,kata lain nya adalah kodrat kehidupan alam itu,. mengapa alam bisa di jadikan faktor berbagai kecelakaan maskapai penerbangan,satu lg komen saya KONYOL.,HAhaha..
kita punya bnyk teknologi,bahkan asing pun menjual teknologi untuk membaca cuaca saat ini&sesaat kemudian.orang terampil dalam membaca itu pun kita juga punya,harusnya mereka sudah bisa membca donk,berapa detik lg cuaca akan seperti apa,karna pergerakan cuaca sebenarnya tak pernah ekstrim,mereka pasti menunjukan pergerakan yg hanya ahlinya yg bisa membaca(trafic control/menara pengawas penerbangan),tp kenapa mereka tak pernah bisa membaca situasi tsb,yg hasilnya fatal menyisakan ribuan yatim piatu.klo ada alsan karna terbatas nya teknologi, apa indonesia tidak mampu membeli,kemana APBN kita?hmm….
sudah tidak ada alasan lg,cuaca bergerak berotasi seperti semestinya.dan itu terulang tiap detik,tahun,abad. apakah kita smw sudah pikun,jawabnya tanya diri kalian masing2..
mungkin tulisan saya ini bisa membuat para pembaca lebih berpikir sedikit. universal conflight yg di alami penerbangan kita karna faktor:a.b,c./ketidak becusan pengelola yg terkait,. bisa para pembaca renungkan sendiri.
dan mungkin bila ada pihak terkait yg membaca tulisan ini, mohon untuk koreksi.. saya bukan orang pintar/sekelasnya,. tp saya orang INDONESIA,yg berhak mengeluarkan suara atas terpuruk nya dunia penerbangan DI TANAH AIR..
WSS…
Dimana recording daftar kecelakan pesawat terbang di Papua? yang jumlahnya sudah mencapai hampir mencapai ratusan pesawat. Pernah dengar kata orang di Papua merupakan kuburannya pesawat berbadan kecil. Jangan pernah menyalahkan faktor alam, cuaca atau mekanisme pesawat, karena sebenarnya semua hal-hal tersebut bisa di cegah dengan hikmah dan akal budi yang sudah ada pada kita sebagai manusia ciptaanNya.
Kadang ego, ketidak tahuan, ketidak mampuan dan ketidak disiplinan lah yang membuat kecelakaan pesawat amat sering terjadi di Indonesia. Ubah dulu pola pikir dan mental yang baik, agar kita bisa semaksimal mungking menghindari kecelakaan penerbangan.
Saya pernah ke Curug Cilengkrang (Kab. Bandung) di sana ada salah satu curug yang dinamai Curug Leknan konon katanya dahulu tahun 1950-an ada pesawat militer jatuh di dekat curug tsb. berpangkat letnan. Di mana saya dapat memperoleh data kecelakaan pesawat militer sekitar tahun 1950-an ya? Cari2 di situs TNI tidak ketemu.
Kecelakaan itu wajar, namanya juga musibah,Tapi jangan sampai keseringan musibah kayak gini,saya pun ga ngerti apakah ini human eror atau kata orang sering menyalahkan alam itu sendiri,
Kalau kecelakaan pesawat terjadi di indonesia, sebagian besar karena faktor alam,saya pun kurang mengerti apakah alam bisa di vonis besalah,tanyalah pada rumput yang bergoyang.