Blog tentang dunia militer dan penerbangan

Skuadron 17 TNI AU

kereta kencana

Untuk memenuhi transportasi udara untuk mendukung tugas-tugas kenegaraan banyak bergantung kepada kesiapan pesawat angkut yang nyaman dan aman serta tidak lupa dukungan logistik yang diberikan. Berdasarkan kebutuhan inilah dibentuk Skuadron 17 yang dikhususkan sebagai sarana transportasi pejabat negara.

Sejak awal kemerdekaan Indonesia, para pendiri TNI-AU menyadari pentingnya tranportasi pejabat tinggi. Alasan yang paling utama adalah masalah waktu yang lama serta minimnya sarana jalan sekaligus keamanan jika pejabat negara diangkut lewat darat. Hanya berbekal pesawat peninggalan Jepang, angkutan untuk pejabat negara atau Very Important Person (VIP) telah berjalan walaupun belum terorganisasi dan terkoordinasi dengan jelas.

Setelah pengakuan kedaulatan dan menerima limpahan banyak pesawat transport eks Belanda, TNI-AU mulai membentuk skuadron khusus pejabat negara walaupun masih bercampur dengan tugas angkut yang menjadi tanggung jawab Skuadron Angkut 4. Berdasarkan pertimbangan matang, tantangan tugas, dan tanggung jawab kedepan maka KSAU Komodor Udara Suryadarma menganggap sangat perlu untuk memisahkan tugas antara angkut militer/umum dengan tranportasi pejabat negara. Maka dibuatlah keputusan KSAU (dulu Menteri Panglima Angkatan Udara / Menpangau) No. 31 tanggal 1 Agustus 1963 dibentuklah skuadron baru yang terpisah dari Skudaron 4. Tanggal inilah yang dianggap sebagai hari lahirnya Skuadron 17 sementara angka 17 yang dipakai merupakan angka yang diambil dari tanggal kemerdekaan Indonesia.

Skuadron dengan lambang kereta kencana / kereta raja ini merupakan skuadron yang unik dan elit. Mengapa ? Karena skudron inilah yang paling sipil di antara skuadron tempur militer karena armadanya berisikan pesawat non-combat dan bertugas hanya sebagai satuan angkut. Yang diangkut juga bukan logistik ataupun peralatan militer, melainkan khusus pejabat tinggi, tamu negara, menteri kabinet bahkan presiden yang notabene adalah orang nomor satu di negara Indonesia.

Tugas pokok yang berat ini membuat Skuadron 17 menjadi skuadron elit karena memikul tanggung jawabnya yang sangat besar. Dukungan logistik dan suku cadang bahkan diprioritaskan melebihi skuadron lainnya yang mengoperasikan pesawat sejenis. Pilot yang menerbangkan juga spesial. Untuk Kopilot Senior minimal mengantongi 500 jam sementara Captain Senior minimal 1,500 jam terbang per tipe pesawat ! Atau dengan kata lain sangat berpengalaman. Ini juga belum cukup karena penampilan pribadi, dedikasi motivasi, dan displin malah menjadi pertimbangan utama selain jam terbang yang tinggi.

Untuk melayani tamu didalam pesawat, pramugari Skuadron 17 diambil dari Wanita Angkatan Udara (Wara) dari berbagai satuan kerja, didiklatkan khusus terlebih dahulu di pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) awak kabin Garuda dan setelah lulus harus mengikuti latihan dan tes refreshing di skuadron dengan penekanan pada safety dan service excellent. Melihat syarat-syarat ketat diatas tidak aneh pula bahwa pilot dan awak pesawat Skuadron 17 kebanyakan senior dan bahkan tidak jarang pula komandan skuadronnya sendiri turut memimpin langsung serta menerbangkan pesawat.

Prosedur penerbangannya pun juga unik. Demi alasan keamanan untuk mengantar presiden misalnya, sebelum dioperasikan ada birokrasinya. Permintaan dari Sekretariat Negara (Setneg) sudah harus sampai lima hari sebelumnya. Setneg meminta kepada Panglima TNI dari sana diteruskan ke KSAU lalu ke Pangkopsau I (yang membawahi Bandara Halim Perdana Kusuma dan Skuadron 17) baru kemudian ke skuadron. Pesawat diuji kesiapan dan uji terbang lalu dikarantina bisa di hangar atau di apron (untuk pesawat besar).

Pesawat dijaga pula oleh pasukan penjaga lanud, intel udara (intelud), dan pasukan pengaman presiden (Paspampres), dilingkari tali keamanan dan tidak boleh ada yang naik kedalamnya. Disamping itu juga Skuadron 17 juga menyiapkan pesawat cadangan dengan kesiapan setara. Tiga jam sebelum keberangkatan baru pesawat disiapkan. Intelud menyerahkan pesawat kepada Flight Security Officer (FSU) dengan nota penyerahan resmi. Tim FSU inilah yang ikut serta dalam penerbangan dan bertanggung jawab baik dua jam sebelum pesawat tinggal landas maupun dua jam setelah pesawat mendarat.

Protokol dan pakaian juga diatur. Sebelum dan sesudah terbang para awak pesawat harus berjajar di samping pintu pesawat dan melakukan penghormatan kepada tamu. Pakaian yang dikenakan harus pula sesuai yaitu untuk VVIP (Presiden/Wakil atau tamu setingkat Kepala Negara) dan VIP (Panglima TNI, Kepala Staf, Menteri Kabinet) diwajibkan mengenakan seragam khusus lengan panjang biru muda lengkap dengan dasi. Sementara untuk golongan Special dengan perlakuan VIP (Kepala Asisten Umum TNI, Wakil Kepala Staf, pejabat negara dan daerah, serta jenderal bintang tiga) awak diperbolehkan mengenakan overall kecuali untuk pramugari.

Untuk antisipasi permintaan terbang mendadak, para awak juga punya jadwal standby crew walaupun hal ini sangat jarang terjadi dan selain itu para awak juga telah dilatih untuk perduli bahkan menganggap pesawat adalah rumah kedua mereka atau dapat disingkat dalam slogan “Pesawatku Istanaku”. Peduli dalam hal ini bukan saja menyangkut keamanan yang telah menjadi tugas primer melainkan juga kenyaman dan kebersihan. Meskipun “dari sananya” sudah merupakan pesawat yang terbaik dari yang terbaik dengan kenyaman dan interior pesawat kelas eksekutif, tugas para awak yaitu membersihkan jendela, membersihkan toilet, mengelap kursi, dan menyemprotnya dengan pengharum ruangan adalah pekerjaan sehari-hari. Di bagian eksterior, pesawat juga harus tampil bersih, terawat, tanpa karat, dan bahkan pantang melihat ada tetesan oli atau bahan bakar disekitar pesawat ! Semua dianggap penting bahkan untuk yang sekecil-kecilnya dan dianggap sepele sekalipun. Itulah seninya tugas operasional di dalam Skuadron 17 “Kereta Kencana”. (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2007)

ARMADA SKUADRON 17

Meskipun dengan pesawat bekas peninggalan Jepang, TNI-AU telah memiliki pesawat VIP seperti Diponegoro I, modifikasi pembom Kawasaki Ki-48 diterbangkan oleh Abdulrahman Saleh dan Diponegoro II, aslinya pembom Nakajima Ki-49, diterbangkan Adisucipto sebagai pesawat transport Jenderal Sudirman dan pejabat TNI lainnya. Sayang kedua pesawat ini hancur saat Agresi Militer Belanda I.

Setelah penyerahan kedaulatan, Indonesia menerima pesawat peninggalan Belanda diantaranya adalah sebuah pesawat pembom B-25 Mitchell varian angkut (B-25C) beregistrasi M-456. Pesawat ini sering digunakan untuk mengangkut pejabat tinggi militer dari Jakarta ke daerah. Selain itu pesawat amphibi PBY-5 Catalina, UF-2 Albatros, dan tentu saja pesawat angkut C-47 Dakota juga dipakai untuk pesawat angkut VIP.

Tapi itu semua masih tergabung dalam Skuadron Angkut 4. Baru setelah pembentukan Skuadron 17, armada VVIP/VIP berkembang dengan lebih jelas. Selain pesawat eks Skuadron 4, Skuadron 17 menerima pula pesawat Ilyushin Il-14 Avia beregistrasi T-401 menjadi pesawat kepresidenan yang dinamakan “Dolok Martimbang” sementara sebuah yang lain beregistrasi T-405 atau “Merbabu” untuk menteri dan pejabat negara. Kekuatan bertambah lagi dengan ditambah tiga unit pesawat jet eksekutif kepresidenan Lokheed Jetstar yaitu “Sapta Marga”, “Pancasila”, dan “Irian”.

Pasca Orde Lama tumbang, sama seperti skuadron lainnya, Skuadron 17 juga mengalami penurunan drastis armada akibat ketidakadaan suku cadang dan banyak diantaranya dipensiunkan. Saat itu pula para pejabat negara lebih memilih menggunakan pesawat Garuda atau charter pesawat untuk sarana transportasi. Baru pada tahun 1980-an, armada Skuadron 17 kembali beroperasi dengan masuknya pesawat baru.

Saat ini Skuadron 17 mengoperasikan 5 jenis pesawat tipe berbeda dengan kemampuan yang berbeda pula bahkan juga memiliki helikopter ! Ini keunikan dari skuadron yang lain yang hanya boleh memiliki satu atau maksimal dua tipe pesawat berbeda tapi tetap berkemampuan sama, misalnya : CN235 dengan Fokker F27 (sebagai pesawat angkut sedang dan jarak pendek) dengan pertimbangan efisiensi, pasokan suku cadang, dan kelancaran tugas operasional.

Keunikan juga terletak pada pemilihan kamuflase pesawat. Bila pesawat pada skuadron lain cenderung memakai warna loreng hijau kehitaman ala militer maka Skudaron 17 memakai warna khas abu-abu dibagian bawah dan putih diatas dipisahkan garis hitam. Yang paling menunjukan identitas dari Skuadron 17 adalah bagian ekor yang terdapat garis tebal warna kuning dengan batas hitam sebagai tanda internasional pesawat non combat.

Fokker F27 Friendship- Pesawat twin turboprop dari series 400M (Military) memiliki kapasitas 30 kursi untuk penerbangan VVIP/VIP atau 44 kursi untuk misi non VIP. Sempat dimiliki oleh Skuadron Angkut 2 sebelum ditransfer ke Skuadron 17 tahun 1980-an. Satu-satunya Fokker F27 dalam Skuadron 17 beregistrasi A-2701 ini dipakai untuk melayani penerbangan jarak pendek.

Fokker F28 Fellowship- Total ada tiga unit Fokker F28 twin turbofans beroperasi di Skuadron 17 dan semuanya diperoleh dari proses hibah. Yang pertama F28 Mk.1000 beregistrasi A-2801 berkapasitas 33 kursi VVIP/VIP hibah Pelita. Yang kedua dan ketiga sekaligus diperoleh dua unit F28 Mk.3000 (A-2802 dan A-2803) berkapasitas 38 kursi VVIP/VIP hibah Garuda Indonesia. Digunakan untuk penerbangan jarak pendek dan menengah (regional).

Fokker F28 Fellowship

C-130 Hercules- Ada dua unit Hercules yang dioperasikan yaitu dari tipe L-100-30 Super Hercules (A-1314) dan C-130HS (A-1341). Angka ini tidak berdasarkan nomor urut sesuai prosedur melainkan semata-mata demi hoki ! Penjumlahan angka-angka itu akan menghasilkan angka keberuntungan 9. Berbeda jauh dengan versi “kuda beban” yang dipakai Skuadron 31 dan 32, Hercules ini telah menanggalkan kemampuan angkut barang. Dengan A-1314 berkapasitas 40 kursi VVIP/VIP dan A-1341 berkapasitas 46 kursi VVIP/VIP jelas sangat lapang untuk diisi interior khas kantor lengkap dengan kursi eksekutif, meja kerja, dan peralatan kantor lainnya plus peredam suara untuk menetralisir deru dan getaran empat mesin Allison 501-D22A Turboprop.

C-130 Hercules

Boeing B707- Merupakan satu-satunya pesawat terbesar yang pernah dimiliki Skuadron 17 sekaligus satu-satunya memiliki kemampuan terbang langsung jarak jauh antar negara. Pesawat ini resmi telah menjadi milik TNI-AU awal 1990 lewat proses hibah tapi sebelumnya Skuadron 17 telah mengoperasikannya sejak 1980-an walaupun dalam kapasitas menyewa (atas nama pemerintah Indonesia) dari pemilik pesawat yaitu Pelita Air Service (PK-PJQ). Sama dengan C-130 V/VIP harusnya sesuai prosedur diberi nomor A-7001, tapi diberi angka A-7002. A-7002 memiliki kapasitas 104 kursi untuk penerbangan VVIP atau 164 kursi untuk penerbangan VIP atau 188 kursi untuk standar ekonomi. Yang terakhir ini dikhususkan untuk tugas bakti negara seperti mengantar atlit Sea Games 1999 dan pemulangan TKI/TKW dari Arab Saudi saat Perang Teluk 1991. Selain itu A-7002 juga pernah mengantarkan bantuan makanan dan obat-obatan untuk misi kemanusiaan. Tidak masalah karena Boeing B707 ini merupakan series 3M1C, dengan huruf “C” terakhir berarti Convertible yang mampu diubah sewaktu-waktu menjadi pesawat kargo/angkut barang.

Meskipun dengan prosedur kerja Skuadron 17 yang matang toh pernah ada kejadian tidak mengenakan pula. Bulan Juni 2001 saat menerbangkan rombongan Presiden Gus Dur ke Australia, B707 mengalami trouble kebocoran oli di salah satu mesin. Pesawat lalu di-divert ke Melbourne dan rombongan melanjutkan terbang terus ke Sydney dengan pesawat Australian Air Force. Sebenarnya penerbangan dengan tiga mesin ke Sydney masih mampu dilakukan tapi karena mengangkut orang nomor satu maka tindakan prosedur preventif dilakukan. Berbeda dengan pendapat media nasional yang menganggap tidak profesional, malah Skudron 17 mendapat penghargaan khusus dari presiden karena telah mengambil keputusan yang tepat. Tahun 2003, B707-3M1C A-7002 mengakhiri tugas, tidak diterbangkan lagi sebelum dipensiunkan dua tahun kemudian dan dijual ke Omega Air, Irlandia untuk di-scrap.

Boeing B737- Seharusnya Skuadron 17 menerima pesawat baru Boeing B737-800 BBJ (Boeing Business Jet) senilai 50-60 juta dollar sebagai pengganti B707 atas permintaan Presiden Gus Dur September 2000, tapi gagal karena ditolak DPR. Sebagai gantinya tahun 2003, TNI-AU membeli B-737 dari series -2QB Advanced yang merupakan pesawat eks Bayu Indonesian Airlines (PK-BYD). Sesuai prosedur, pesawat ini beregistrasi berakhiran “02” sesuai dengan pesawat yang digantikan tetapi karena bisa dianggap rancu dengan Boeing B737 sejenis (AI-7302) yang dioperasikan Skuadron Intai 5 maka diberi registrasi A-7304.

NAS-332 Super Puma- Ada lima unit helikopter Super Puma dalam jajaran Skuadron 17. Dua unit merupakan produk PT. DI (H-3321 dan H-3322) dibeli tahun 1993 dan tiga unit dibeli langsung dari Aerospatie, Perancis (H-3301, H-3302 dan H-3304) semasa pemerintahan Presiden Gus Dur tahun 2000. Ada dua tipe yaitu L1 (H-3301, H-3203 dan H-3221) berkapasitas 10 kursi VVIP dan H-3306 kapasitas 15 kursi VIP. Untuk tipe L2 H-3204 dan H-3222 masing-masing berkapasitas 8 dan 10 kursi VVIP/VIP.

Heli kepresidenan RI Super Puma 332

Helikopter ini berbeda dari versi standar. Selain bagian badan diperpanjang, Super Puma VVIP/VIP juga dilengkapi perangkat avionik canggih (Sextant NADIR Mk.2) dan GPS (Global Positioning Systems) dimana memiliki kemampuan navigasi akurat serta mampu mendarat di helipad primitif sekalipun dengan aman. Super Puma ini juga dilengkapi peralatan float buatan Zodiac untuk pendaratan darurat di air serta memiliki mesin Turbomeca Makila 1A1 yang lebih kuat 18 persen dari versi standar yaitu Makila 1A.
Sekarang yang ada di Skuadron 17 hanya 3 unit karena dua Super Puma mengalami kecelakaan tanggal 24 April 1999 dan tanggal 23 Desember 2005. Yang pertama dialami oleh H-3222 jatuh akibat rotor belakang lepas dari kedudukannya dan terpaksa mendarat darurat di persawahan samping Pasar Ciamis, Jawa Barat. Helikopter dalam misi penerbangan uji untuk mengantar Presiden Habbibie dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Darussalam tanggal 1 Mei. Untungnya walaupun helikopter patah dua dibagian ekor dan total loss, kesepuluh orang yang terdiri atas lima awak dan lima Paspampres selamat.
Sementara yang kedua yaitu H-3201 jatuh di pegunungan Dieng, Wonosobo dekat Desa Surenggede, Kecamatan Pejajar. Super Puma yang nahas itu rencananya dari Malang kembali ke Jakarta setelah melakukan terbang latihan navigasi. Helikopter yang dimuati delapan penumpang perwira TNI-AU yang hendak pulang ke Jakarta dan enam crew meninggal dunia.

Sumber: Indoflyer

About these ads

December 17, 2008 - Posted by | Skuadron TNI AU | ,

6 Comments »

  1. maju terus TNI AU saran saya perbanyak pesawat2 jet tempur siluman super canggih, pesawat bomber siluman super canggih & satelit luar angkasa penghancur alutsista musuh…..semaaangat maaajuuu teeeruuus….

    Comment by agam | August 10, 2009

  2. tetap semangat rekan-rekan di TNI-AU…walo persenjataan kita masih minim,. semoga pemerintah bisa menganggarkan dana tuk ganti peswat2 yang dah usang kyk c-130b dan ov 10 bronco… serta bisa nambah sukoi… semangat…

    Comment by yono | August 16, 2010

  3. gimana mo maju…anggaran pemeliharaan dan perawatan aja kurang…..apalagi mo beli pesawat baru. harusnya (idealnya) buat pesawat vvip tuh sekelas boeing 737-900ER atau airbus A321 yang dimodifikasi untuk kepentingan tamu vvip dan ada perangkat khusus untuk pengacau radar untuk keamanan jika terlacak musuh dan ada alat pendeteksi dini semacacam E-2C hawkeye.

    Comment by argoprameks | September 18, 2010

  4. yeah..totally right, TNI AU must upgrade their air fighter since now a days, war already diferent (i already post my opinion under the S27 picture but no harm sharing in other thread to show my support to TNI-AU). All the aset on the surface (sea) of land is open for strategic bombing from enemy aircraft..without air cover from air fighter, all the naval aset (Flotilla TNI-AL) and land aset (TNI-AD) will be easy to destroy. No need to said about anti aircraft since within a safe distance (stand off distance), the anti aircraft system is nothing.

    So far, TNI-AU already has F16 basic, Su30MK standard model and Su27 which is also basic model. For a good start, TNI-Au can modenise the Su30MK with jammer pod and latest version of radar. Then, TNI-AU must doing a procurement ont the misile (anti air misile).WVR Misile (within visual range) such as R27 misile will be good enough, then upgrade to BVR misile such as R77 acher or R73. Or else, TNI-AU can do a purchase other air craft if the manufacture for F16 and Sukhois look hard to cooperative. Saab Grippen and Dessalt Rafel will be good choice. The improvement must be do as soon as posible..

    Why I said like that..

    look at RAAF of Aussie Air force, they already purchase new FA18E/F Superhornet, which is MRCA fighter 4.5 generation complete with deadly misile and be able to do strategic bombing far for range of anti air system own by TNI-AU / AD/AL. Only good air fighter (F16, Su30MK and Su27) without air to air misile is useless to them) can intercept them.

    look at RSAF of Singapore, they already purchase F15SG which is completed with deadly (BVR, WVR, RVR) misile. Moreover, they air fighter already has AESA radar, very good to detect TNI-AU air fighter far away before shoot them wiht misile.

    look at RTAF of Thailand, they new toys is Saab Grippen, also completed with deadly misile. They have a good aset to give a good punch>

    look at TUDM of Malaysia, their Su30MKM are upgrading version jamming pod, radar (western origin of SAAB and Thales), and also with Trust Vector Configuration (TVC) to more agile. More over, they already has BVR (R77 acher – can be shoot 80km away beyond visual, R73) and WVR (R27) for close combat. In fact, although they already received 18 unit Su30MKM, and owning 8 unit FA18D hornet for night and all wheather bombing, 14 unit Mig29 for air intercept and 24 Baehawk for close air support..the general of TUDM now in process of getting second MRCA (Maybe Superhornet slightly same like Aussie, Saab Grippen, Dessault Rafale or maybe adding number of Su30MKM).

    So, refer to air power of Indonesian neighbour..purchasing a good air asset is crucial. TNI-AU must do something to encounter and balancing the air power of the region. No need so shout loudly on the NKRI spirit and them dying because been bomb and cannot fight back, all because lack of good aset.

    Just my opinion..

    Comment by hajiwan | November 16, 2010

  5. @hajiwan 100% agree…kita lihat sejarah era 1960 an TNI AU dan TNI AL adalah angkatan yang paling disegani ke dua di belahan bumi selatan disamping RRC, mengapa 2 angkatan ini diperkuat apakah karena BK lebih “menganakemaskan” keduanya ? kalo ada yang beranggapan seperti itu maka sungguh KEKANAK KANAKAN ! BK melihat spektrum geopolitik 30-40 tahun kedepan adalah perebutan sumber daya alam bukan lagi ideologi khususnya kekayaan LAUT !..dan sekarang terbukti setelah perang dingin usai kekuatan dunia menjadi unipolar bukan lagi bipolar (soviet vs NATO)masing2x negara secara perlahan namun pasti saling mengklaim daerah2x yang kaya sumbar daya alam..INDO sebagai negeri yang berlimpah sumber daya alamnya sering kali kebobolan menghadapi hal ini (contoh kasus sengketa AMBALAT dan perairan RIAU) kekuatan TNI-AU dan TNI-AL merupakan parameter kuat atau lemahnya suatu negara apalagi negeri kepulauan seperti kita bila kita kuat di LAUT dan UDARA kita punya BERGAINING POSITION yang kuat dimata dunia internasional disertai juga kekuatan DIPLOMASI luar negeri oleh karena itu janganlah setengah2x dalam membangun kekuatan armada tempur udara dan laut kita..siapa bilang kita tidak punya uang? yang bilang seperti itu hanyalah para KORUPTOR dan politisi busuk ! HEI PEMERINTAH DAN DPR tidak usah banyak debat dan argumen AURI dan ALRI kita sudah cukup digembosi pada masa ORDE BARU skarang waktunya untuk bangkit kembali menjadi kekuatan yang PROFESIONAL,modern dan merakyat !

    Comment by soekarnoismLEFT | November 22, 2010

  6. Mas Adie…saya lagi pingin bikin model kit herky skala 1/72. masing bingung kamulfasenya. kalau SQDRN17 itu warna abu-abu nya kecenderungannya ke arah mana ya? kalau saya pilih kamuflasei SQDRN yang lain, pilihan warnya apa ya?

    trims sebelumnya
    Danu

    Comment by danumurthi mahendra | July 12, 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,222,794 stats
  • free counters
  • "TNI is not the best-equipped armed forces in the region, but they are the most experienced one. There is no other armed force in the region that has more war experience or more real military-operation experience than them"
  • Top Posts

  • Categories

  • RSS PROUDLY WE SERVE STAND AND FIGHT..

    • Ancaman Ranjau Di Choke Points May 28, 2011
      All hands,Bagi negara-negara maju, salah satu ancaman yang diwaspadai pada wilayah choke points adalah ancaman peranjauan. Tidak sulit untuk menemukan kebenaran akan kewaspadaan itu, karena bisa dilacak pada beberapa latihan rutin Angkatan Laut negara-negara maju yang berfokus pada perburuan dan penyapuan ranjau di choke points. Negara-negara itu memang tela […]
      noreply@blogger.com (Damn The Torpedoes!!!)
  • Comments

    hydrozone on Dua Sukhoi Dilock Missile
    Best Au Pair Agency… on Kodam di Perbatasan Malaysia…
    herman suroso on N-250 dimana dirimu kini…
    sundoro on Produk yang dihasilkan Divisi…
    m.dzulfahmi on Mengenang Usman & Harun…
  • Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: