Blog tentang dunia militer dan penerbangan

Mengenang Usman & Harun (2)

marinir

Memasuki wilayah Singapura.
Tanggal 8 Maret 1965 pada waktu tengah malam buta, saat air laut tenang ketiga Sukarelawan ini mendayung perahu,Sukarelawan itu dapat melakukan tugasnya berkat latihan-latihan dan ketabahan mereka.
Dengan cara hati-hati dan orientasi yang terarah mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran, dan tugas mengamati sasaran-sasaran ini dilakukan sampa larut malam. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing. Atas kelihaiannya mereka dapat berhasil kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu sebaga Basis II dimana Usman dan Harus bertugas.

Pada malam harinya Usman memesan anak buahnya agar berkumpul kembali untuk merencanakan tugas-tugas yang haru dilaksanakan, disesuaikan dengan hasil penyelidikan mereka masing-masing. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan perundingan tentang langkah yang akan ditempuh karena
belum adanya rasa kepuasan tentang penelitian singkat yang mereka lakukan, ketiga Sukarelawan di bawah Pimpinan Usman, bersepakat untuk kembali lagi ke daerah sasaran untuk melakukan penelitian yang mendalam. Sehingga apa yang dibebankan oleh atasannya akan membawa hasil yang gemilang.

Di tengah malam buta, di saat kota Singapura mulai sepi dengan kebulatan dan kesepakatan, mereka memutuskan untuk melakukan peledakan Hotel Mac Donald, Diharapkan dapat menimbulkan kepanikan dalam masyarakat sekitarnya. Hotel tersebut terletak di Orchad Road sebuah pusat keramaian d kota Singapura.
Pada malam harinya Usman dan kedua anggotanya kembali menyusuri Orchad Road. Di tengah-tengah kesibukan dan keramaian kota Singapura ketiga putra Indonesia bergerak menuju ke sasaran yang ditentukan, tetapi karena pada saat itu suasana belum mengijinkan akhirnya mereka menunggu waktu yang
paling tepat untuk menjalankan tugas. Setelah berangsur angsur sepi, mulailah mereka dengan gesit mengadakan gerakan gerakan menyusup untuk memasang bahan peledak seberat 12,5 kg.

Dalam keheningan malam kira-kira pukul 03.07 malam tersentaklah penduduk kota Singapura oleh ledakan yang dahsyat seperti gunung meletus. Ternyata ledakan tersebut berasal dari bagian bawah Hotel Mac Donald yang terbuat dari beton cor tulang hancur berantakan dan pecahannya menyebar ke penjuru
sekitarnya. Penghuni hotel yang mewah itu kalang kabut, saling berdesakan ingin keluar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Demikian pula penghuni toko sekitarnya berusaha lari dari dalam tokonya.

Beberapa penghuni hotel dan toko ada yang tertimbun oleh reruntuhan sehingga mengalami luka berat dan ringan. Dalam peristiwa ini, 20 buah toko di sekitar hotel itu mengalami kerusakan berat, 24 buah kendaraan sedan hancur, 30 orang meninggal, 35 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Di antara orang-orang yang berdesakan dari dalam gedung ingin keluar dari hotel tersebut tampak seorang pemuda ganteng yang tak lain adalah Usman.

Suasana yang penuh kepanikan bagi penghuni Hotel Mac Donald dan sekitarnya, namun Usman dan anggotanya dengan tenang berjalan semakin menjauh ditelan kegelapan malam untuk menghindar dari kecurigaan. Mereka kembali memencar menuju tempat perlindungan masing-masing.

Pada hari itu juga tanggal 10 Maret 1965 mereka berkumpul kembali. Bersepakat bagaimana caranya untuk kembali ke pangkalan. Situasi menjadi sulit, seluruh aparat keamanan Singapura dikerahkan untuk mencari pelaku yang meledakkan Hotel Mac Donald. Melihat situasi demikian sulitnya, lagi pula penjagaan sangat ketat, tak ada celah selubang jarumpun untuk bisa ditembus. Sulit bagi Usman, Harun dan Gani keluar dari wilayah Singapura.

Untuk mencari jalan keluar, Usman dan anggotanya sepakat untuk menerobos penjagaan dengan menempuh jalan masing masing, Usman bersama Harun, sedangkan Gani bergerak sendiri. Setelah berhasil melaksanakan tugas, pada tanggal 11 Maret 1965 Usman dan anggotanya bertemu kembali dengan diawali salam kemenangan, karena apa yang mereka lakukan berhasil. Dengan kata sepakat telah disetujui secara bulat
untuk kembali ke pangkalan dan sekaligus melaporkan hasil yang telah dicapai kepada atasannya. Sebelum berpisah Usman menyampaikan pesan kepada anggotanya, barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan. Mulai saat inilah Usman dan Harus berpisah dengan Gani sampai akhir hidupnya.

Gagal kembali ke pangkalan.
Usaha ketiga Sukarelawan kembali ke pangkalan dengan jalan masing-masing. Tetapi Usman yang bertindak sebagai pimpinan tidak mau melepas Harun berjalan sendiri, hal ini karena Usman sendiri belum faham betul dengan daerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah ini. Karena itu Usman meminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar ke pangkalan. Untuk menghindari kecurigaan terhadap mereka berdua, mereka berjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang lain
tidak ada hubungan sama sekali. Namun walaupun demikian tetap tidak lepas dari pengawasan masing-masing dan ikatan mereka dijalin dengan isyarat tertentu. Semua jalan telah mereka tempuh, namun semua itu gagal.

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura, mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Kedua anak muda itu menyamar sebagai pelayan dapur.Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi di kapal tersebut.
Tetapi pada malam itu, waktu Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal.

Kalau tidak mau pergi dari kapalnya, akan dilaporkan kepada Polisi. Alasan mengusir kedua pemuda itu karena takut diketahui oleh Pemerintah Singapura, kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 kedua Sukarelawan Indonesia keluar dari persembunyiannya.

Usman dan Harun terus berusaha mencari sebuah kapal tempat bersembunyi supaya dapat keluar dari daerah Singapura. Ketika mereka sedang mencari-cari kapal, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan oleh seorang Cina. Daripada tidak berbuat akan tertangkap, lebih baik berbuat dengan dua
kemungkinan tertangkap atau dapat lolos dari bahaya. Akhirnya dengan tidak pikir panjang mereka merebut motorboat dari pengemudinya dan dengan cekatan mereka mengambil alih kemudi, kemudian haluan diarahkan menuju ke Pulau Sambu. Tetapi apadaya manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.

Sebelum mereka sampai ke perbatasan perairan Singapura, motorboatnya macet di tengah laut. Mereka tidak dapat lagi menghindari diri dari patroli musuh, sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 Usman dan Harun tertangkap di bawa ke Singapura sebagai tawanan.

Mereka menyerahkan diri kepada Tuhan, semua dihadapi walau apa yang terjadi, karena usaha telah maksimal untuk mencari jalan. Nasib manusia di tangan Tuhan, semua itu adalah kehendak-Nya. Karena itulah Usman dan Harus tenang saja, tidak ada rasa takut dan penyesalan yang terdapat pada diri mereka.
Sebelum diadili mereka berdua mendekam dalam penjara. Mereka dengan sabar menunggu saat mereka akan dibawa ke meja hijau. Alam Indonesia telah ditinggalkan, apakah untuk tinggal selama-lamanya, semua itu hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.

TABAH SAMPAI AKHIR
Proses Pengadilan.
Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan dan mereka dengan tabah menunggu prosesnya. Pada tanggal 4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. Usman dai Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court) Singapura dengan tuduhan :
1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah melanggar Control Area.
2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) kedua tertuduh Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu. Hal ini mereka lakukan bukan kehendak
sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang (Prisoner of War).

Namun tangkisan tertuduh Usman dan Harun tidak mendapat tanggapan yang layak dari sidang majelis. Hakim telah menola permintaan tertuduh, karena sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer. Persidangan berjalan kurang lebih dua minggu, pada tanggi 20 Oktober 1965 Sidang Pengadilan Tinggi (High Court) yang dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman dan Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

Pada tanggal 6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. Pada tanggal 5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun. Kemudian pada tanggal 17 Februari 1967
perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London. Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura. Usaha penyelamatan jiwa kedua pemuda Indonesia itu gagal. Surat penolakan datang pada tanggal 21 Mei 1968.

Setelah usaha naik banding mengenai perkara Usman dan Harun ke Badan Tertinggi yang berlaku di Singapura itu gagal, maka usaha terakhir adalah untuk mendapat grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak. Permohonan ini diajukan pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatan kedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan. Kedutaan RI di Singapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapat dijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan kedua sukarelawan Indonesia tersebut. Pada tanggal 4 Mei 1968 Menteri Luar Negeri Adam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usaha yang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan. Pada tanggal 9 Oktober 1968 Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

Pemerintah Indonesia dalam saat-saat terakhir hidup Usman dan Harun terus berusaha mencari jalan. Pada tanggal 15 Oktober 1968 Presiden Suharto mengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untuk menyelamatkan kedua patriot Indonesia. Pada saat itu PM Malaysia Tengku Abdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkan permintaan Pemerintah Indonesia. Namun Pemerintah Singapura tetap pada pendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsip
tertib hukum, Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap dua orang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap kedua mereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukum dengan orang tuanya dan sanak farmilinya. Permintaan ini juga ditolak oleh Pemerintah Singapura tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantung
terhadap Usman dan Harun.

Pesan terakhir.
Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, dimana Pemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepat pukul 06.00 pagi Dunia merasa terharu memikirkan nasib kedua patriot Indonesia yang gagah perkasa, tabah dan menyerahkan semua itu kepada pencipta – Nya.

Seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan nasib kedua patriot ini. Demikian juga dengan Pemerintah Indonesia, para pemimpin terus berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab merupakan masalah nasional yang menyangkut perlindungan dan pem belaan warga negaranya. Satu malam sebelum pelaksanaan hukuman, hari Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan
didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, dapat berhadapan dengan Usman dan Harun di balik terali besi yang menyeramkan pada pukul 16.00. Tempat inilah yang telah dirasakan oleh Usman dan Harun selama dalam penjara dan di tempat ini pula hidupnya berakhir.

Para utusan merasa kagum karena telah sekian tahun meringkuk dalam penjara dan meninggalkan tanah air, namun dari wajahnya tergambar kecerahan dan kegembiraan, dengan kondisi fisik yang kokoh dan tegap seperti gaya khas seorang prajurit KKO AL yang tertempa. Tidak terlihat rasa takut dan gelisah yang membebani mereka, walaupun sebentar lagi tiang gantungan sudah menunggu.

Keduanya segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya. Hanya satu-satunya pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati
oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Sebagai manusia beragama, Brigjen Tjokropranolo mengingatkan kembali supaya tetap teguh, tawakal dan berdoa, percayalah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula
menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum, dan Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya kepadanya. Pertemuan selesai, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat.

Menjalani Hukuman Mati.
Pada saat ketiga pejabat Indonesia meninggalkan penjara Changi, Usman dan Harun kembali masuk penjara, tempat yang tertutup dari keramaian dunia. Usman dan Harun termasuk orang-orang yang teguh terhadap agama. Mereka berdua adalah pemeluk agama Islam yang saleh. Di alam yang sepi itu menambah hati mereka semakin dekat dengan pencipta – Nya. Karena itu empat tahun dapat mereka lalui dengan tenang. Mereka selalu dapat tidur dengan nyenyaknya walaupun pelaksanaan hukuman mati semakin dekat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia mengenang kembali perjuangan kedua pemuda ini dan dengan keharuan ikut merasakan akan nasib yang menimpa mereka. Sedangkan Usman dan Harun dengan tenang menghuni penjara Changi yang sepi dan suram itu. Mereka menghuni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tembok, sedangkan di luar para petugas terus mengawasi dengan ketat. Usman dan Harun yang penuh dengan iman dan taqwa dan semangat juang yang telah ditempa oleh Korpsnya KKO AL menambah modal besar untuk memberikan ketenangan dalam diri mereka yang akan menghadapi maut.

Di penjara Changi, pada hari itu udara masih sangat dingin Suasana mencekam, tetapi dalam penjara Changi kelihatan sibuk sekali. Petugas penjara sejak sore sudah berjaga-jaga, dan pada hari itu tampak lebih sibuk lagi. Di sebuah ruangan kecil dengan terali-terali besi rangkap dua Usman dan Harun benar-benar tidur dengan pulasnya. Meskipun pada hari itu mereka akan menghadapi maut, namun kedua prajurit itu merasa tidak gentar bahkan khawatirpun tidak. Dengan penuh tawakal dan keberanian luar biasa mereka akan menghadapi tali gantungan. Sikap kukuh dan tabah ini tercermin dalam surat-surat yang mereka tulis pada tanggal 16 Oktober 1968, yang tetap melambangkan ketegaran jiwa dan menerima hukuman dengan gagah berani. Betapa tabahnya mereka menghadapi kematian, hal in dapat dilihat dari surat-surat mereka yang dikirimkan kepada
keluarganya:

Sebagian Surat Usman yang berbunyi sebagai berikut:
Berhubung tuduhan dinda yang bersangkutan maka perlu anak anda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda sekeluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas anakanda telah diputus kan pada 17 Oktober 1968, hari Kamis 24 Rajab 1388.

Sebagian isi surat dari Harun sebagai berikut:
Bersama ini adindamu menyampaikan berita yang sangat mengharukan seisi kaum keluarga di sana itu ialah pada 14-10-1968 jam 10.00 pagi waktu Singapura rayuan adinda tetap akan menerima hukuman gantungan sampai mati.

MENGHADAPI TIANG GANTUNGAN
Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Sebenarnya tanpa diperintah ataupun dibangunkan Usman dan Harun
setiap waktu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena sejak kecil kedua pemuda itu sudah diajar masalah keagamaan dengan matang.

Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong
oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali.

Dalam keadaan, lumpuh dan tangan tetap diborgol, Usman dan Harun dibawapetugas menuju ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 pagi hari Kamis tanggal 17 Oktober 1968 tali gantungan kalungkan ke leher Usman dan harun.

Pada waktu itu pula seluruh rakyat Indonesia yang mengetahui bahwa kedua prajurit Indonesia digantung batang lehernya tanpa mengingat segi-segi kemanusiaan menundukkan kepala sebagai tanda berkabung. Kemudian mereka menengadah berdoa kepada Illahi semoga arwah kedua prajurit Indonesia itu mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Mereka telah terjerat di ujung tali gantungan di negeri orang, Jauh dari sanak keluarga, negara dan bangsanya.Mereka pergi untuk selama-lamanya demi kejayaan Negara, Bangsa
dan Tanah Air tercinta.

Eksekusi telah selesai, Usman dan Harun telah terbujur, terpisah nyawa dari jasadnya. Kemudian pejabat penjara Changi keluar menyampaikan berita kepada para wartawan yang telah menanti dan tekun mengikuti peristiwa ini, bahwa hukuman telah dilaksanakan. Dengan sekejap itu pula tersiar berita ke seluruh penjuru dunia menghiasi lembaran massa media sebagai pengumuman terhadap dunia atas terlaksananya hukuman gantungan terhadap Usman dan Harun.

Bendera merah putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung. Sedangkan masyarakat Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondong datang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karangan bunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.

Begitu mendapat berita pelaksanaan eksekusi PemerintaH Indonesia mengirim Dr. Ghafur dengan empat pegawai KedutaaN Besar RI ke penjara Changi untuk menerima kedua jenazah iti dan untuk dibawa ke Gedung Kedutaan Besar RI untuk dise mayamkan. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan dari penjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnya dari Pemerintah Singapura. Pemerintah Indonesia mendatangkan lima Ulama untuk mengurus kedua jenazah di dalam penjara Changi. Setelah jenazah di masukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan Bendera Merah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk di selubungkan pada peti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara. Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI

Mendapat penghormatan terakhir dan Anugerah dari Pemerintah
Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masya rakat Indonesia di KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI-AU. yang akan membawa ke Tanah Air.

Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerah Kalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS dan Paraku. Waktu Presiden diberitahukan bahwa Pemerintah Singapura telah melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun, maka Presiden Suharto menyatakan kedua prajurit KKO-AL itu sebagai Pahlawan Nasional.

Copyright goes to silkworm@indoflyer.net

credit goes to silkworm@indoflyer.net

Copyright goes to silkworm@indoflyer.net

Pada pukul 14.35 pesawat TNI-AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih yang dibawa dari Jakarta. Pada hari itu juga, tanggal 17 Oktober 1968 kedua Pahlawan Usman dan Harun telah tiba di Tanah Air. Puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia menjemput kedatangannya dengan penuh haru dan cucuran air mata. Sepanjang jalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang ingin
melihat kedatangan kedua Pahlawannya, Pahlawan yang membela kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air.

Setibanya di lapangan terbang Kemayoran kedua jenazah Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan seterusnya disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada upacara penyerahan kedua jenazah Pahlawan ini menimbulkan suasana yang mengharukan. Di samping kesedihan yang meliputi wajah masyarakat yang menghadiri upacara tersebut, di dalam hati mereka tersimpan kemarahan yang tak terhingga atas perlakuan negara tetangga yang sebelumnya telah mereka
anggap sebagai sahabat baik. Pada barisan paling depan terdiri dari barisan Korps Musik KKO-AL yang memperdengarkan musik sedih lagu gugur bunga, kemudian disusul dengan barisan karangan bunga. Kedua peti jenazah tertutup dengan bendera Merah Putih yang ditaburi bunga di atasnya. Kedua peti ini
didasarkan kepada Inspektur Upacara Laksamana TNI R. Mulyadi yang kemudian diserahkan kepada Kas Hankam Letjen TNI Kartakusumah di Aula Hankam.

Di belakang peti turut mengiringi Brigjen TNI Tjokropranolo dan Kuasa Usaha RI untuk Singapura Letkol M. Ramli yang langsung mengantar jenazah Usman dan Harun dari Singapura. Suasana tambah mengharukan dalam upacara ini karena baik Brigjen Tjokropranolo maupun Laksamana R. Muljadi kelihatan meneteskan air mata.

Malam harinya, setelah disemayamkan di Aula Hankam mendapat penghormatan terakhir dari pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil, Jenderal TNI Nasution kelihatan bersama pengunjung melakukan sembahyang dan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan
M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pasar Minggu dan akhirnya sampai kalibata. Sepanjang jalan yang dilalui antara Merdeka Barat dan Kalibata, puluhan ribu rakyat berjejal menundukkan kepala sebagai penghormatan terakhir diberikan kepada kedua Pahlawannya. Turut
mengiringi dan mengantar kedua jenazah ini, pihak kedua keluarga, para Menteri Kabinet Pembangunan.
Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Perwira-perwin Tinggi ABRI, Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemuda dan pelajar serta masyarakat. Upacara pemakaman ini berjalan dengan penuh khidmat dan mengharukan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama
Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya.

Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. Suasana bertambah haru setelah diperdengarkan lagu Gugur Bunga.
Pengorbanan dan jasa yang disumbangkan oleh Usman dan Harun terhadap Negara dan Bangsa maka Pemerintah telah me naikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usmar alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Copyright by : Korps Marinir
Sumber: Polar Home

About these ads

March 10, 2009 - Posted by | Marinir, Operasi Militer, TNI AL, TNI Tahun 60an | , ,

40 Comments »

  1. Prajurit Usman dan Harun… Jiwa dan Ragamu telah kau bhaktikan demi Negara dan Bangsa Indonesia, Semoga keikhlasanmu menjadi cermin keteladanan bagi seluruh rakyat Indonesia dan semoga Tuhan YME mengampuni dosa-dosamu serta memberikan tempat yang layak di sisi-Nya, amin…

    Comment by Suspurwanto | June 10, 2009

  2. Marinir memang terbukti yang terbaik

    Comment by bobo19 | June 11, 2009

  3. MARINES NEVER DIE!!!!!!Jaleshu Bhumi Campha Jayamahe

    Comment by Luthfy | June 11, 2009

  4. “hormatku untuk pahlawanku,jiwa ragamu untuk ibu pertiwi”

    Comment by welly umara | July 31, 2009

  5. MARINES best of the best
    once a marines always a marines BROTHERHOOD semper FIDELIS

    Comment by ariel Setiawan Nandar | August 2, 2009

  6. once a marines always a marines corps
    Go…!! Marines brotherhood SEMPER FIDELIS

    Comment by ariel Setiawan Nandar 85914 | August 2, 2009

  7. Saya rasa kedua orang ini adalah korban dari politik konfrontasi

    Comment by supandi | August 13, 2009

  8. tak ada yang menandingi kehebatan dan semangat pengorbanan marine kita dibanding marine negara laen. Yu ha!!

    Comment by ziVEN | October 20, 2009

  9. Majulah Bangsaku.

    Comment by Garuda Dua Tiga | December 31, 2009

  10. SEMPER FI !!!! LONG LIVE KKO AL

    Comment by marxissukarnois | February 9, 2010

  11. bapakku juga ex; KKO AL yang tahun 1968 berpangkat AJUDAN KKO AL sebagai pelatih KKO AL di PUSDIK KOGU Surabaya

    Comment by alboin silalahi | May 30, 2010

  12. majulah bangsaku jayalah negriku…

    Comment by arieberdikarie | August 27, 2010

  13. singapore anjeng……………………………
    hidup indonesia ku…………
    kubersumpah kan kusumbangkan jiwa ragam ku pada mu indonesia ku…..

    Comment by oranje | September 5, 2010

  14. hidup dan matiku untuk bangsa dan negaraku

    Comment by opeh cyank anita | September 29, 2010

  15. usulan saya yang rada “gila” untuk memperkuat kko/marinir :
    1.pemekaran secara bertahap jumlah pasukan
    2.mempertinggi kwalitas pelatihan,teknik dan strategi (mungkin ini sudah dilakukan)
    3.sejata nah ini yang paling krusial, saya hanya urun rembug : tambah lagi ranpur BVP-2,penyediaan ranpur BMP-3f(udah datang belon yah ?),retrofit BTR-50 ama PT-76 harus dimaksimalkan (abisan sayang mo dipensiunin, ikon marinir geeto loh),tambah lagi untuk MLRS RM-70 grad sebagai indirect massive fire support,mmm kalo perlu beli BM-27 URAGAN untuk long range indirect fire support wuiih pasti makin mak nyus,untuk personil banyakin RPG-29 untuk anti tank support (kali ajah buat ngehajar pt-91 nye MALON)
    4.naikkan gaji,insentif,tunjangan dan kesejahteraan prajurit

    Comment by soekarnoismLEFT | October 26, 2010

  16. terharu membacanya…sebagai putra TNI…turut berbangga atas pengorbanan pahlawan kita..

    jaya TNI

    Comment by dhenu | October 26, 2010

  17. Salam keamanan…(MALAYSIA)
    berdasarkan info yang aku dapat, isu ganyang malaysia tercetus apabila malaysia ingin mengambil sabah dan serawak sebagai salah satu negerinya.. betul??(betilkan jika ku tersalah)
    keputusan berdasarkan undi menunjukkan rakyat sabah dan serawak ingin bersatu dengan malaysia.
    terdapat perjanjian yang mana mengikat sabah dan serawak kepada indonesia.. betul?
    berdasarkan dua ini, kedua2 nya sama kukuh, namun mana lebih menguntungkan?(penduduk sabah dan serawak)
    terdapat beberapa persoalam yang ingin ku tanya..
    1. pernahkah rakyat singapura membunuh rakyat indonesia?
    2. apabila seseorang melakukan pembunuhan tampa sebab(undang2)@ membunuh orang awam yang tidak bersalah, bukankah dia lebih layak digelar sebagai penjenayah
    3. bukankah negara yang menyerang itu lebih dianggap “penjahat”.(sbg contoh belanda menyerang kepulauan sumatera@indonesia utk merampas kekayaan tempat tersebut ataupun amerika menyerang viatnam atau israel merampas palestin)

    bagiku sebagai rakyat malaysia, wira adalah orang yang mempertahankan kedaulatan agama,bangsa dan negara dari musuh, bukanya orang yang membunuh orang awam tampa sebab.

    sekiranya hal harun dan usman dari sudut mata dunia(bukan dari pandangan negara), trnyata mereka adalah penjenayah sama isunya israel dan amerika

    aku harap diperjelaskan padaku andaikata pandanganku ini salah. terima kasih

    Comment by M.Redzuan | November 7, 2010

  18. ^
    ^
    atas gw….
    MALON FAGGOT detected…keknye banyak malon ngerusuhin blog2x punya indo guest what ? karena blog punya malon tuh ngebosenin tidak sedinamis blog2x orang indo..jiah dia pake tebar pesona membuat alibi udah gitu penjelasannya SALAH lagi…

    Comment by soekarnoismLEFT | November 8, 2010

  19. sallut,,

    Comment by shandhika | November 9, 2010

  20. Marinir Indonesia lebih baik daripada Marinir Singapura dan Marinir lain di Asia Tenggara

    Comment by Donny Putra Perdana | February 24, 2011

  21. mampus kau anjing jawa babi…hahahha!kami akan hancurkanb pulau jaw!

    Comment by malaysia is great | October 21, 2011

  22. kami bangsa dayak kalbar dan atjeh mau gabung ama malaysia dech!kami nggak maqu mati di bunuh oleh tni….kayak kami nggak ada maruah dimata bangsa indonesia///

    Comment by malaysia is great | October 21, 2011

  23. bebaskan papua….bangsat kamu wahai jakarta…kami support kemerdekaan papua dan ambon!

    Comment by anwar | October 21, 2011

  24. 21 – 23 = Anjeng loe semua , jangan cma ngomong doang…..
    dasar loser…!!!

    Comment by nusantara | November 16, 2011

  25. hidup marinir ! didarat dan dilaut kita jaya !!!

    Comment by adamo | December 8, 2011

  26. mengenang bapaku

    bapaku dulu pernah jadi pelatih KKO di gubeng th 1958 – 1971 aku ga tahu termasuk usman & harus apa tidak, tapi bapaku kenal 2 pahlawan nasional tersebut ! pangkat terakhir bapaku adalah PLT KO yang lengkapnya PLT KO. R. SILALAHI dengan NRP 3093

    aku sangat bangga dengan KKO terlebih aku sangat bangga punya bapak anggota KKO AL dia berani dan tegas, waktu pangkatnya ajudan KKO dia pernah menjemput para perwira AAL yang baru dilantik
    di moro krembangan untuk dibawa ke PPKO gubeng, dengan memerintahkan para perwira baru berlari dengan pakaian dinas dan aga mengerutu, tapi perintah pelatih yang pangkatnya ajudan KKO ga bisa dibantah walaupun yang diperintah adalah perwira perwira baru dengan pangkat letnan muda ! belum lagi dari purboyo jalan kaki sampai ke surabaya ? sudah menjadi rutinitas apabila selesai mendapatkan baret ungu ! dan hal itu dilakukan sejak 1958 – 1971 !

    ada rekan saya yang pernah dilatih oleh bapaku mengakui apa yang saya ceritakan dan mereka bangga punya pelatih seperti bapaku saat itu dan akupun terharu mendengarkan pengakuan tersebut !
    itulah KKO AL yang artinya KORPS KOMANDO ANGKATAN LAUT !

    sekarang bapaku tertidur pulas di taman makam pahlawan dan dia tersenyum bangga melihat generasi penerus KKO / MARINIR ! semoga ini dibaca oleh salah satu jemaatku yang saat ini menjadi DAN PASMAR II di jakarta !

    Comment by alboin | March 18, 2012

  27. SALAM HORMAT KU KEPADA NEGARA TERCINTA…
    KHUSUS KORPS MARINIR..
    JALES VEVA JAYA MAHE
    BERSATU DEMI KEUTUHAN REPUBLIK INDONESIA

    Comment by bang aji banka billiton | March 19, 2012

  28. Bapak ku jg Marinir NRP: 7465….

    Tugas ter akhir merbut Irian barat dengan Komandan laut sat itu Bp. Kol Anumerta YOSUDARSO….

    Bravo MARINIR KU…..JALES VEVA JAYA MAHE…..

    Comment by Bondan Andika | March 23, 2012

  29. sy pribadi ingin mengabdikan nyawa unt bangsa…..seandainya aku ditugaskan unt hal yg sama demi jayanya RI, kenapa tidak? apalagi melawan musang…….aku siiiiiaaaaaaappppppp!!!

    Comment by jun | July 18, 2012

  30. menurut sejarah semenanjung melayu telah dipersatukan oleh nenek moyangku…….PATIH GADJAH MADA……..jadi wajarlah klo ada yang lepas dipersatukan kembali……..hidup Majapahit, hidup Indonesia……hidup Indonesia….

    Comment by jun | July 18, 2012

  31. Klo ada yang merongrong Negaraku, maka aku orang pertama yang siap serahkan nyawa demi harga diri bangsa…….apalagi sama orang yang ngatain anjing…..NKRI harga mati dik……hua ha ha…….

    Comment by jun | July 18, 2012

  32. Ha,ha,ha, dasar 2 orang dg nasib sial, bertugas tanpa tujuan & arah yg jelas, koq sejarahnya mirip teroris nurdin m t.o.p.b.g.t aje, ngebom hotel, korban sipil, dihukum gantung, dijadikan pahlawan pula.. Nasib..nasib..

    Comment by Wedus | August 5, 2012

  33. This is real, negara ini membutuhkan kwalitas manusia seperti usman and harun.

    Comment by budi said | February 7, 2014

  34. USMAN & HARUN gugur dalam melaksanakan tugas NEGARA ( kondisi perang 1965 ).
    Mereka tetaplah pahlawan bagi BANGSA INDONESIA >>>> Abadilah USMAN & HARUN menjadi nama KAPAL PERANG AL INDONESIA.

    Comment by Yansep Parna Tavipma | February 10, 2014

  35. pemberian nama USMAN HARUN pada kapal perang yg membuat singapore “gerah” dan keberatan,”ada urusan apa dg kamu Singapore????”,mencampuri urusan kedaulatan NKRI tidak ada pilihan lain TAMPAR SAJA SINGAPORE,masa TNI KALAH dg tentara Singapore?

    Comment by saiful anwar | February 12, 2014

  36. Indonesia sudah tidak punya power dimata dunia. Singapura yg segede upil aja berani unjuk gigi ? Mana indonesiaku ??

    Comment by watanabe | February 12, 2014

  37. bravo TNI AL

    Comment by sang penantang | February 13, 2014

  38. Ane bingung !!!!! bagi bangsa Indonesia Usman Harun adalah pahlawan dan dibenarkan, tp bagi bangsa Singapore Usman Harun adalah musuh/teroris.
    menurut agama usman harun bisa dibenarkan atau disalahkan ??????

    Comment by Ju2end | February 20, 2014

  39. Btw, berhubung saya baru tahu tentang ini, mohon penjelasannya yang lebih mendetail. Maret 1965 dulu apakah kita memang berperang dengan Singapura atau bagaimana? Soalnya peristiwa 1965 yang paling membekas adalah G30S yang terus-menerus digembor-gemborkan pak Harto.

    Comment by Kuro | February 26, 2014

  40. salam dab hormatku kapada Usman dan HArun
    #Jaya INDONESIA ku
    #MERDEKA

    Comment by m.dzulfahmi | August 17, 2014


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 1,205,707 stats
  • free counters
  • "TNI is not the best-equipped armed forces in the region, but they are the most experienced one. There is no other armed force in the region that has more war experience or more real military-operation experience than them"
  • Top Posts

  • Categories

  • RSS PROUDLY WE SERVE STAND AND FIGHT..

    • Ancaman Ranjau Di Choke Points May 28, 2011
      All hands,Bagi negara-negara maju, salah satu ancaman yang diwaspadai pada wilayah choke points adalah ancaman peranjauan. Tidak sulit untuk menemukan kebenaran akan kewaspadaan itu, karena bisa dilacak pada beberapa latihan rutin Angkatan Laut negara-negara maju yang berfokus pada perburuan dan penyapuan ranjau di choke points. Negara-negara itu memang tela […]
      noreply@blogger.com (Damn The Torpedoes!!!)
  • Comments

    m.dzulfahmi on Mengenang Usman & Harun…
    rio all give a rich on Kemana Mig-21 kita??
    vitamin for tinnitus on Kodam di Perbatasan Malaysia…
    jamar1543 (@qomarud1… on Kemana Mig-21 kita??
    .edu on Homegrown Satellites in Space…
  • Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: