RSS

Operasi Woyla

28 Dec

simulasi pembebasan pembajakan pesawat

Berikut adalah kutipan tentang pembajakan pesawat Woyla, satu-satunya pembajakan pesawat yang terjadi di Indonesia, yang dikutip dari buku biografi Benny Moerdani

Sabtu pagi 28 Maret 1981, pesawat Garuda Indonesia GA 206 tujuan Medan tinggal landas dari Bandara Talangbetutu, Palembang.Captain Pilot Herman Rante, menerbangkan DC 9 Woyla berisi 48 penumpang. Tiba-tiba, Copilot Hedhy Juwantoro mendengar suara ribut di arah belakang. Baru saja akan berpaling, seorang menyerbu kokpit sambil berteriak, “Jangan bergerak, pesawat kami bajak…”

Pembajak meminta pesawat terbang ke Kolombo, Sri Lanka. Permintaan tersebut tidak mungkin dipenuhi, sebab bahan bakar terbatas. Pembajak lantas mengatakan “Pokoknya terbang sejauh-jauhnya dari Indonesia” teriak Mahrizal, seorang pembajak.

Berita pertama pembajakan tersebar pukul 10.18, saat Captain Pilot A. Sapari dengan pesawat F28 Garuda yang baru tinggal landas dari Bandara Simpang Tiga, Pekan Baru mendengar panggilan radio dari GA 206 yang berbunyi “..being hijacked, being hijacked”. Berita tersebut langsung diteruskan ke Jakarta, berita yang mengejutkan petugas keamanan karena pada saat bersamaan juga diadakan latihan gabungan yang melibatkan semua unsur pasukan tempur di Timor-Timur hingga Halmahera. Berita tersebut diterima Wakil Panglima ABRI Laks. Sudomo yang masih berada di Jakarta. Sudomo langsung meneruskan berita tersebut kepada Kepala Pusat Intelijen Strategis Benny Moerdani yang langsung menghubungi Asrama Kopasandha (Sekarang Kopassus) yang diterima oleh Asisten Operasi Kopasandha LetKol Sintong Panjaitan. Benny memberitahu tentang dibajaknya pesawat Garuda, berapa jumlah pembajak, apa motivasinya, kemana tujuan dan apa tuntutannya masih belum diketahui “.. yang pasti, saya langsung diperintahkan menyiapkan pasukan”, kenang Sintong, yang pada saat itu kakinya digips sehingga tidak berangkat latihan gabungan.

Dari Thailand dikabarkan bahwa pesawat mendarat di bandara Don Muang, Thailand. DiJakarta Sabtu malam pukul 19.25, Kepala Bakin (sekarang BIN) Jenderal Yoga Sugomo berangkat ke Bangkok. Menurut berita yang dia peroleh, para pembajak lima lelaki berbicara bahasa Indonesia. bersenjatakan pistol, granat dan kemungkinan dinamit. Para pembajak menuntut Indonesia membebaskan tahanan Peristiwa Cicendo, komplotan Warman serta Komando Jihad. Para tahanan diminta diterbangkan disuatu tempat diluar Indonesia dan meminta uang sebesar 1.5 juta dollar AS. Jika tuntutantersebut tidak dipenuhi, mereka mengancam akan meledakkan Woyla beserta penumpangnya.

Sabtu malam pukul sepuluh lebih, Kol teddy Rusdi, Benny Moerdani dan Sudomo diterima Pak Harto DiCendana. Hasil akhir pembicaraan menyimpulkan bahwa opsi militer akan dilakukan untuk membebaskan pesawat tersebut.

Minggu pagi telepon di meja Benny berdering. Dubes Amerika Serikat Edward Masters mengkhawatirkan akan keselamatan warganya yang berada di GA 206 apabila opsi militer dilakukan. “I am sorry sir, but this is entirely an Indonesian problem. It is an Indonesian aircraft” jawab Benny. Ditegaskan Indonesia berhak mengambil segala langkah dalam meringkus pembajak dan tidak perlu izin dari negara lain. We don’t guarantee anything..”

Minggu malam pukul 21.00, setelah mendapat clearance dari pemerintah Thailand

bahwa pasukan anti teror boleh mendarat, Indonesia diizinkan mengirim pesawat terbang untuk menjemput sandera. Benny memutuskan menggunakan Garuda DC-10 Sumatera, pesawat ini lebih cepat dan lebih lama terbang dari DC 9. “..karena antisipasi pesawat yang dibajak kemungkinan akan dipakai terbang sampai ke Libya” kenang Subagyo HS yang saat itu berpangkat mayor di Grup IV Kopasandha.

Latihan 2 hari di hanggar garuda dengan pesawat DC 9, telah memantapkan tekad pasukan khusus anti teror untuk secepatnya meringkus pembajak. Sudah dua tahun pasukan khusus anti teror terbentuk, mereka terus berlatih tapi belum pernah punya kesempatan muncul. Baru kali ini, mereka akan melakukan operasi dan yang lebih membanggakan, bertempur diwilayah negara asing. Pasukan belum berangkat menunggu perintah Benny, penanggung jawab operasi.

Begitu Benny datang bukan perintah berangkat yang didengar, tetapi “Bagaimana latihan kalian?”. “Siap pak” jawab Sintong mantap.Dalam kesempatan itu, Benny juga membagikan kotak amunisi.

Sintong lansung ingat sewaktu Operasi Dwikora. Perlengkapan baru sering malah bisa menyulitkan. Sering terjadi peluru tidak meledak, akibat belum dibiasakan penggunaannya. Trauma tersebut masih membekas, karena itu dia merasa yakin, sebuah peralatan yang belum pernah dicoba serta dibiasakankan. penggunaannya, bisa membahayakan.

Dengan mengumpulkan segala keberanian, Sintong kemudian berkata, “Jangan Pak, jangan bagikan peluru tersebut. Kami belum terbiasa.”

“Lho, ini peluru bagus, yang terbaru. Gunakan saja..” Tegas Benny

“..Kami harus mencobanya dulu.” Sintong menolak.

Terlihat nada kesal dalam jawaban Benny, “..ya sudah, cobalah”

Pasukan segera mencari tempat untuk uji coba. peluru dibagikan dan ditembakkan.Yang terdengar justru bunyi, “Pakh, pakh,pakh..pakh”. Ternyata tidak satupun peluru meletus.

Benny terkejut menyaksikan kejadian itu. Meski bukan kesalahannya, tetapi perasaannya lebih galau, melebihi semuanya. Dalam hati, Sintong bergumam, “Untung belum berangkat..”

Benny langsung menyuruh anak buahnya ke Tebet untuk mengambil amunisi baru. Pasukan khusus anti teror memang sengaja dibekali dengan jenis peluru yang mematikan tapi tidak akan menembus dinding pesawat. Sehingga, kalau berlangsung pertempuran dalam kabin, dinding pesawat tidak bakal rusak. mengingat sifatnya, jenis peluru termaksud hanya bisa tahan enam bulan sudah harus diganti baru. masalah tersebut agaknya terlalaikan petugas perlengkapan. Sesudah kiriman peluru pengganti tiba dan diujicoba, Benny memberi isyarat untuk berangkat. Sintong melirik jamnya, penerbangan mereka sudah tertunda lebih dari satu jam.

Pesawat DC 10 tiba di Don Muang pukul 00.30, dengan berkamuflase menjadi pesawat Garuda yang baru terbang dari Eropa. Pesawat diparkir dilokasi yang agak jauh dari Woyla. Kendaraan pasukan angkatan udara Thailand tiba, dan seorang perwira penghubung membawa benny menemui Menlu Thailand Siddi Savitsila. Perundingan yang deadlock menyebabkan clearance untuk menyerbu pesawat tidak bisa diberikan, maka menlu Thailand mempertemukan Benny dengan PM Thailand Prem Tinsulanonda esok paginya.

Senin pagi pukul 06.00, Benny bersama Yoga Sugomo, Dubes Indonesia untuk Thailand Habib dan Dirjen Perhubungan Udara Sugiri bertemu PM Thailand dikediaman resminya. Dalam pertemuan tersebut, pada awalnya pemerintah Thailand tidak bersedia memberi izin operasi militer, sementara pemerintah Indonesia tetap meminta izin Thailand, untuk menyelesaikan sendiri pembajakan tersebut. Akhir perundingan, PM Prem menyatakan akan memberi keputusan pada pukul 11 hari itu juga. “Saya selalu menganggap nasi goreng Bangkok terenak di dunia. Maka Benny ditemani Kolonel Rosadi, atase pertahanan makan pagi, sementara lainnya pulang ke hotel. Ditempat itu Benny bertemu dengan Chief Station CIA untuk Thailand. Dalam pembicaraan yang berkembang, Benny kemudian meminjam flak jacket, karena lupa membawa dari jakarta. Tapi ternyata didalam pesawat DC-10 sudah tersedia, maka flak jacket itu tidak jadi dipakai. Meski nantinya memunculkan wacana, seolah-olah AS memberi bantuan peralatan tempur kepada pasukan Indonesia.

Selepas tengah hari clearance untuk menyerbu sudah diberikan oleh PM Prem, Benny menetapkan, serbuan akan dilakukan sebelum fajar. Tak lupa pula dia meminta petugas Garuda di Don Muang menyiapkan 17 peti mati.

Sementara itu suasana tegang semakin ganas dengan menetapkan deadline atas tuntutan mereka, Yoga dengan sabar melayani segala macam tuntutan tersebut sambil mengulur waktu. ketegangan yang sama juga terasa di kabin DC 10, menunggu adalah pekerjaan yang paling menjengkelkan. Tanpa ada pemecahan maka anak buahnya akan tegang tanpa guna, maka Sintong memerintahkan anak buahnya untuk tidur. “Hampir semuanya langsung tertidur, merasa lepas dari beban. Mereka saling mendengkur, adu keras..”

Senin malam 30 Maret 1981, pasukan anti teror satu demi satu turun dari pesawat DC 10. Sekali lagi mereka melakukan latihan ulangan menggunakan DC 9 Digul. Pada kesempatan tersebut, Sintong mengajak pilot Garuda untuk ikut menonton. Sebelum Sintong turun dari pesawat, Sintong sudah memutuskan untuk membuang tongkat penyangga kakinya. “.. masa, perwira komando, memimpin operasi dengan tongkat.” Latihan ulangan berlangsung dengan baik, semua anggota tahu apa yang harus dilakukan, Sintong memperkirakan dalam lima menit pasukannya sudah dapat menguasai pesawat.

Begitu latihan selesai, seorang pilot Garuda mendekati Sintong, “Pak.. maaf Pak”. ” Ya ada apa?” tanya Sintong ingin tahu.

” Tadi waktu bapak latihan, memang semuanya bisa demikian. kalau pintu samping dibuka dari luar, dengan mudahanak buah bapak bisa menyerbu masuk. Tetapi kalau pintu darurat yang dibuka, yang langsung keluar karet peluncur untuk pendaratan darurat..”

“Yailah..” teriak Sintong. Terimakasih, terimakasih” Bisa dia bayangkan, tanpa ada pemberitahuan tersebut, dalam penyerbuan masuk ke kabin, anak buahnya pasti berhamburan terlempar ke bawah dari pintu darurat, dihantam tangga peluncur emergency.

Sekali lagi latihan diulang. Faktor munculnya tangga penyelamat dari pintu darurat, diperhitungkan,. Dengan masukan tambahan tersebut, Sintong justru menemukan langkah penangkal. Begitu pintu darurat dibuka dari luar, seorang anggota wajib menahan munculnya tangga pendaratan darurat. Pada saat bersamaan, anggota lain sudah harus menyerbu masuk kabin.

Benny memutuskan serangan dilakukan pada pukul 03.00. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00, pasukan sudah siap dengan perlengkapan tempur, pakaian loreng dan baret merah. Briefing terakhir sudah selesai. “Tunggu apa lagi? Saya segera perintahkan, berangkat…” kenang Sintong.

Mereka dijemput mobil. Untuk menjaga kerahasiaan, seluruh pasukan diminta berbaring dilantai kendaraan. “Saya duduk di atas anak-anak, injek-injekan” kata Benny. Sintong sangat terkejut, ketika pasukan sudah meninggalkan mobil dan berjalan menuju Woyla, tiba-tiba saja Benny menyusup masuk ke dalam barisan. Ini diluar skenario.

Tubuh Benny terlihat jelas, ditengah deretan pasukan berseragam. Dia memakai jaket hitam, tangan kanannya memegang sepucuk pistol mitraliur. Perwira tinggi tersebut nampak menonjol karena satu-satunya yang tidak berseragam dan tidak juga memakai baret merah. Sambil berbisik, Sintong memerintahkan anak buahnya yang jalan paling dekat. “So, Roso, keluarkan dia. Jangan biarkan Pak Benny ikut..”. “Pak, saya nggak berani”, jawab Letnan Suroso, juga dengan berbisik.

Sementara itu dalam pikiran Benny, “Tempat terbaik bagi saya, harus bersama mereka..”

Tentu saja dia mengabaikan kenyataan, bahwa dirinya seorang jenderal dengan tiga bintang. Benny juga bukan komandan lapangan, yang memang harus selalu ikut menanggung resiko menghadang maut digaris depan. Dia juga tidak mempedulikan, kemungkinan peluru nyasar, justru akan bisa menyeret akibat fatal.

Tetapi Benny tetap dalam doktri pribadinya. Seorang pemimpin harus bersama anak buah. Sesuatu yang memang sudah dia buktikan selama terjun dalam berbagai palagan. “Saya beranggapan, nilai politik psikologinya besar sekali. kalau pun saya ikut mati tertembak, tetap bisa membuktikan, pemerintah Indonesia tidak pernah menyerah dalam menghadapi tuntutan pembajak.”

Tepat pukul 02.45, serbuan dimulai. Menurut kesaksian penumpang, dalam kegelapan malam, semua pintu kabin pesawat segera terdengar didobrak dari luar. Sekejap kemudian bunyi tembakan riuh membangunkan seluruh isi pesawat.

Hendrik Seisen, seorang penumpang berkewarganegaraan Belanda melukiskan, “I woke up when I heard a lot of noise and what certainly looked like shooting (sic!). It seemed like in the time of two seconds the whole plane filled up with commandos..” Seisen menambahkan, “When the shooting started we ducked below the seats. I didn’t want to look. I Was terrified” Dengan cepat semua sandera dibebaskan. Pesawat Woyla sepenuhnya dikuasai Kopasandha. MImpi buruk yang dialami semua awak pesawat dan penumpang sejak sabtu pagi, berakhir selasa dini hari.

Begitu Woyla sudah berhasil dikuasai, Benny menyambar mike. “This is two zero six, could i speak to Yoga please?”

“Yes, Yoga here”

“Pak Yoga, benny ini..” teriak Benny.

“Diancuk. Neng endi kowe..?” tanya Yoga sambil mengumpat.

“Dalam pesawat Pak”

“Jangan main-main kamu..”

“Saya memang dipesawat. Sudah selesai semua, beres..”

Kecuali anggota pasukan yang dia pimpin, Benny memang tidak menceritakan rincian rencana penyerangan pembajak yang dia rancang. Juga tidak kepada Yoga.

Dalam skenario awal, pasuka anti teror akan mendobrak pintu depan kiri. Disusul pendobrakan bersama, pintu darurat dan belakang. Setelah tahap ini selesai, seluruh pasukan serentak menyerbu ke kabin. Skenario tersebut tidak sepenuhnya terlaksana runtut.

Pembantu Letnan Achmad Kirang dari arah pintu belakang sudah terlanjur masuk sebelum pintu depan didobrak. Pembajak yang berjaga di bagian belakang sempat terjaga dan langsung menembak. Akibatnya, Kirang tidak sempat menunduk ketika sebuah peluru menembus tubuhnya. Tepat kena perut, bagian yang tidak tertutup flak jacket.

Dalam pertempuran singkat di dalam pesawat tidak semua pembajak langsung tertembak mati. Sementara itu Achmad Kirang dan Captain Herman Rante justru luka parah kena peluru. Tiga pembajak tewas seketika ditangan pasukan penyerbu. Dua pembajak lain menderita luka parah. Tetapi yang paling melegakan seluruh penumpang tidak ada satu pun mengalami cedera berarti.

Selasa pagi pukul 05.00 pesawat DC 10 Sumatera meninggalkan Don Muang, membawa pulang pasukan khusus anti teror. Dua pembajak yang luka parah tidak sempat diselamatkan nyawanya oleh tim kesehatan Kopasandha. Sehingga kelima maya pembajak, Machrizal, Zulfikar, Wendy M Zein, Abu Sofyan dan Imronsayah, langsung diterbangkan ke Jakarta pagi itu pula. Sementara Achmad Kirang meninggal tanggal 1 April dalam perawatan di RS Bhumibhol, Bangkok, begitu pula CAptain Herman Rante, meninggal di Bangkok, enam hari setelah operasi penyergapan berlangsung.

Dari Udara, pemandangan kota Jakarta siang itu terasa elok. Sejak pagi masyarakat sudah dibangunkan dengan berita radio sekitar keberhasilan pasukan khusus anti teror menyergap pembajak Woyla. Semua bangga, drama mencekam selama tiga hari akibat pembajakan telah berakhir, Pemerintah Indonesia terbukti tidak mau menyerah kepada pembajak. Kabar tersebut menjadikan warga Jakarta berbondong-bondong ke Bandara Halim Perdanakusuma.

Pukul 08.00 lebih beberapa menit, roda-roda pesawat DC 10 Sumatera menyentuh landasan Halim Perdanakusuma. Benny dengan wajah serius tanpa senyum, menyelinap keluar dari pintu di ekor pesawat, tanpa memperhatikan sambutan ratusan penjemput. Baju safari warna gelap yang dia pakai, sangat kontras dengan seragam loreng berbaret merah pasukan khusus antiteror yang keluar dari pintu depan.

“It isn’t that Indonesians don’t deserve the same credit and honor that Israel and the West German commandos earned for similiar gallantry at Entebbe and Mogadishu. it is a pity because there is abroader point to be made”. Tajuk rencana koran The Asian Wall Street Journal tersebut segera menambahkan, negara-negara dunia ketiga selalu dianggap tidak pernah memiliki disiplin dan tidak bisa bekerja dengan efisien. Demikian juga umumnya komentar terhadap penampilan tentara Indonesia. “well it took a high order of soldiering to rescue a planeload of hostages without taking one innocent life”. Lebih lanjut koran tersebut menunjukkan, “From hijack to the last gun shot, the entire operation lasted about 60 hours. It required a high degree of organisation and planning. It also required courage, efficiency and discipline”.

Seorang anggota pasukan anti teror, TJP Purba ketika diwawancara koran The Bangkok Post mengatakan, “Our principle is simple, silent, decisive and aggressive”

Sebagai tambahan informasi, pasukan Kopasandha yang melakukan penyerbuan pesawat Woyla menjadi embrio terbentuknya unit anti teror di Kopassus saat ini, yaitu Sat 81 Gultor

Sumber: Pour, Julius. Benny: Tragedi seorang loyalis. Kata Hasta Pustaka. Jakarta. 2007
Foto adalah simulasi pembebasan sandera pada Latgab Antiteror TNI-Polri 2008

 
27 Comments

Posted by on December 28, 2008 in Pasukan Khusus

 

Tags: , , ,

27 responses to “Operasi Woyla

  1. Angga

    February 22, 2009 at 2:17 pm

    Wah keren banget. Baru nonton film dokumenter nya di MetroTV malam ini, ternyata ada adegan detik per detiknya. Thanks ya, maju terus TNI🙂

     
  2. Gideon

    February 23, 2009 at 1:55 pm

    great bro… nulis ke Commando bwt artikel gt ?

    mo ngirim tp tentang “Gustav”

     
  3. zha

    March 26, 2009 at 11:17 am

    great,..
    semoga bisa terus menjaga existensi RI. dan bekerja demi kepentingan bangsa dan rakyat indonesia

     
  4. deris

    March 31, 2009 at 7:46 am

    latihan latihan dan latihan adalah kunci sukses itu yang di tunjukan pak Sintong dan teamnya serta kerendahan hati untuk mendengarkan saran walaupun hanya dari seorang pilot yang tidak mengetahui taktik militer. semoga kejadian ini menjadi contoh bagi prajurin prajurit TNI sekarang.

     
  5. woyla

    April 6, 2009 at 6:11 pm

    hmmm…..
    seandainya orang memahami apa maksud pembajakan tersebut.
    seandainya orang dapat melihat dari sisi yang lain.
    seandainya orang dapat membuka mata lebih lebar.
    seandainya orang dapat mengerti…..
    tujuan sebenarnya…..

     
  6. ditz

    April 16, 2009 at 8:24 am

    dibikin film pasti keren banget tuh.

     
  7. belva

    April 19, 2009 at 3:21 pm

    baca komando lebih detail lg tuuh..
    kyknya u suroso pangkatny uda kapten deh.
    greeat broo

     
  8. adiewicaksono

    April 20, 2009 at 10:36 am

    @belva, tulisan diatas saya kutip dari bukunya benny moerdani.. dan disitu tertulis letnan suroso..

    tapi dibukunya sitong panjaitan ditulis kapten suroso.. nampaknya ada sedikit perbedaan tentang kepangkatan disini, tapi saya kira hal itu tidak mengurangi esensi dari operasi pembebasan sandera yg sukses…

     
  9. gng

    September 7, 2009 at 10:27 pm

    mantap bro…level 1 Hijack and the best cntra teror troops…yg model gitu ko’ gak ada lg ya di TNI generasi baru, meski dgn peralatan yg mahal…

     
  10. ubaidillah Nalapraya

    September 18, 2009 at 6:20 pm

    terang aje berhasil,karena orang yang dihadapi orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang senjata/bahan peledak.Mereka adalah orang-orang yang hanya mempunyai semangat doang.karena ingin membebaskan saudara-saudaranya yang ditahan rejim suharto.pengetahuan mereka sama sekali nol,tentang senjata,apalagi untuk menggunakannya bisa juga tidak.karna mereka baru pertama kali memegang pistol hasil dari rampasan polisa di Cicendo.karena pernah kejadian waktu itu Mahrizal sebelum berangkat membajak pesawat Woyla mengokang pistol dia tidak bisa mengembalikannya,sampai-sampai pistol itu diikat dengan tali rapia.maka yang mengembalikannya itu Nazamudin.yang inteljen itu (dialah yang propokator,agar jamaah mencari senjata)dan detonator saja dari sumbu petasan (mana mungkin TNT bisa meledak)dan granat itu juga granat yang sudah tidak aktif.karena itu granat bekas latihan kopasanda di batujajar. seandainya saja mereka(para pembajak)mempunyai pengetahuan seperti Dr Azhari belum tentu kopasus berhasil secepat itu.orang yang dihadapi orang yang tak bisa apa-apa.mereka memegang senjata baru kali itu saja.sebelumnya mereka tak pernah memegang,apalagi menggunakannya.

     
  11. haryo

    November 15, 2009 at 4:13 am

    Excelent,hebat,heroik,,,tanpa banyak publikasi,banyak omong
    tapi efektiv…patut di contoh kesatuan laen,,,bukan senjata,peralatan yang menentukan.Tapi keberanian,mental dan disiplin yang tinggi dan semangat mengabdi nusa dan bangsa yang menentukan keberhasilan..

     
  12. bso

    August 11, 2010 at 4:36 am

    Menurut info yg saya dengar bhw Alm Capt Herman Rante, gugur krn friendly fire.. saat penyerbuan berlangsung. Benarkah? Putra Alm yg dulu msh bayi saat ayahnya gugur, kini bekerja sebagai tenaga outsourcing/ tenaga kontrak di bandara Soetta.

     
  13. Amn

    September 21, 2010 at 7:03 am

    Salam dari Malaysia,
    Seorang dari ahli keluarga saya adalah “negotiator” di Pulau Pinang yang berunding dengan pengganas/pembajak sehingga semua penumpang berjaya dibebaskan di lapangan terbang Pulau Pinang sebelum pesawat berlepas ke Thailand/Colombo. Beliau juga masih ingat kata-kata akhir juruterbang sebelum pesawat meninggalkan ruang udara Malaysia.

     
  14. Acheesa

    January 20, 2011 at 10:03 am

    Cool, Capt. Rafdi dikampus jg prnah cerita tuh!

     
  15. soekarnoismLEFT

    January 22, 2011 at 2:30 am

    @ubaidillah,mmm…menanggapi komen ente ada benernye juga seeh…lah pentolan2x komando jihad khan orang2x “binaan” opsusnye ali murtopo..jaman itu opsus adalah kek “negara di dalam negara”…dan satu lagi fakta adalah pada awalnya PGT/KOPASGAT/PASKHAS TNI-AU lah yag pertama kali diberikan tugas untuk operasi pembebasan sandera namun akibat pertimbangan “politik” suharto membatalkannya dan mengalihkannya ke RPKAD

     
  16. thenakulo

    April 11, 2011 at 10:24 am

    Gan Mantap tuh ceritanya ijin aku sharing ke FB

     
  17. Priyono

    June 14, 2011 at 1:35 pm

    terang aje berhasil,karena orang yang dihadapi orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang senjata/bahan peledak.Mereka adalah orang-orang yang hanya mempunyai semangat doang.karena ingin membebaskan saudara-saudaranya yang ditahan rejim suharto.pengetahuan mereka sama sekali nol,tentang senjata,apalagi untuk menggunakannya bisa juga tidak.karna mereka baru pertama kali memegang pistol hasil dari rampasan polisa di Cicendo.karena pernah kejadian waktu itu Mahrizal sebelum berangkat membajak pesawat Woyla mengokang pistol dia tidak bisa mengembalikannya,sampai-sampai pistol itu diikat dengan tali rapia.maka yang mengembalikannya itu Nazamudin.yang inteljen itu (dialah yang propokator,agar jamaah mencari senjata)dan detonator saja dari sumbu petasan (mana mungkin TNT bisa meledak)dan granat itu juga granat yang sudah tidak aktif.karena itu granat bekas latihan kopasanda di batujajar. seandainya saja mereka(para pembajak)mempunyai pengetahuan seperti Dr Azhari belum tentu kopasus berhasil secepat itu.orang yang dihadapi orang yang tak bisa apa-apa.mereka memegang senjata baru kali itu saja.sebelumnya mereka tak pernah memegang,apalagi menggunakannya.

    GAK URUSAN, ORANG SIPIL DAN BAWA-BAWA SENPI DAN PELEDAK, DI DALAM PESAWAT LAGI.MAHIR ATAU TIDAK, PIHAK KOPASSUS TIDAK AKAN PERNAH MENGANGGAP REMEH SI PEMBAJAK YANG MAHIR ATAU TIDAK…..
    ITU SUDAH TUGAS TENTARA MENGATASI ORANG BERBAHAYA…..

     
  18. lukisan pemandangan

    November 7, 2011 at 4:46 pm

    keren-keren ceritanya,,

    saya baru tau🙂 heheh

    salam kenal ya

     
  19. anak bangsa yang mencintai negeri ini dengan sikap positif

    January 30, 2012 at 9:08 am

    Padamu negeri kami berbakti…… bagimu negeri jiwa raga kami…!! Saluuut untuk TNI! Siapapun pemimpin bagnsa yang pernah menerima amanat rakyat untuk memerintah negeri ini, maka hal itu bisa terjadi pasti atas kehendak Tuhan. Jadi terimalah dengan hati syukur kepada-Nya. Sungguh lebih arif dan mulia untuk merefleksi diri sendiri, apa yang sudah kubaktikan bagi negeriku Indonesia tercinta. Jayalah Indonesia..!!

     
  20. Tilang Mangsa

    March 26, 2012 at 8:46 am

    Saat itu, Letkol Sintong Panjaitan dalam posisi tidak menguntungkan. Kakinya patah, di gips, pakai tongkat. Sementara sebagian besar anggotanya sedang mengikuti latgab ABRI di Indonesia Timur. Tapi dengan segala keterbatasannya, Sintong mampu menyiapkan tim, memimpin langsung dan berhasil dengan gemilang. Tidak ada seorang penumpang pun yang cedera. Korban memang ada, Captain Pilot Herman Rante, dan Capa Achmad Kirang.
    Banyak kalangan mengapresiasi keberhasilan operasi Woyla ini. Sejajar dengan operasi sejenis yang dilakukan oleh satuan elit Israel sewaktu membebaskan sandera pesawat Israel di Entebe, Uganda. Mau pun operasi di Mogadishu oleh satuan elit GSG-9, Jerman (Barat waktu itu). Operasi Woyla malah dianggap lebih hebat dari GSG-9. Mengingat GSG-9 Jerman, waktu itu dibantu oleh beberapa personil SAS, Inggris.

     
  21. Tilang Mangsa

    April 17, 2012 at 3:43 am

    Operasi Woyla memang lebih hebat dari Operasi Entebe maupun Mogadishu. Operasi di Mogadishu oleh GSG-9, dibantu 2 anggota SAS Inggris. Israel dibantu oleh GSG-9 (Komandan GSG-9, Kol. Urick Wegener) dan ada korban dipihak sandera. Kopassus, murni sendirian, tidak dibantu oleh tentara mana pun dan tidak ada sandera yang jadi korban.

     
  22. jjlea

    November 1, 2012 at 7:07 am

    Operasi Woyla dilakukan oleh gabungan tiga kekuatan ABRI, yaitu : KOPPASUS AD, KOPASSUS AL dan KOPASSUS AU, jadi bukan hanya dari AD saja.

     
  23. joe

    March 12, 2013 at 8:01 am

    MALAYSIA TAI, MALAYSHIT TENTARA NYA BANCI SEMUA….MALINGSHIT NEGARA MALING,,,KLO PERANG MALAYSIANJING BAKAL HABIS SMA KOPASSUS

     
  24. bagol

    March 19, 2013 at 3:31 pm

    buat gua ini menjadi kebanggaan tersendiri. buat ente yg ngira kenapa pembajaknya kalah karena gak mahir senjata, ente SALAH KAPRA! kalo ente tahu tuh cerita menyeramkan waktu perang timor-timor. ane diceritakan oleh kakaknya bapak ane, wktu itu beliau bertugas di timor-timor dan menceritakan bagaimana seramnya perang tersebut, disamping seramnya keganasan pasukan Kopassus. Apakah mereka bisa dikatakan orang gk mahir senjata dari pasukan timor-timor?intinya kopassus gk akan pandang bulu, mau mahir atau tidak asalkan NKRI tidak ada yg MENODAI!

     
  25. Roy

    January 25, 2016 at 6:06 am

    wawww skripsi gua nih bro

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: