RSS

Kisah di Balik Suksesnya Pembuatan Kapal Perang KRI Krait

12 Jan

Harus Standar Internasional, Tiga Kali Ganti Desain
Pekan lalu, Indonesia mencatat sejarah baru berhasil meluncurkan satu KRI bebahan alumunium yang dikerjakan anak-anak Indonesia di Tanjunguncang. Seperti apa kisah di balik suksesnya pembuatan kapal perang tersebut?

Membuat kapal perang (KRI) berbahan dasar aluminium yang sukses dilakukan di Batam bukanlah sesuatu pekerjaan yang muda. Selain dikejar waktu, KRI itu haruslah sesuai standar marine class.
Bukan saja persoalan waktu, biaya yang diploting dalam anggaran Mabes TNI-AL tidaklah mencukupi untuk membuat sebuah kapal bagus berstandar internasional itu. Buktinya, dalam proses pembuatan saja sudah tiga kali gambar (design) kapal tersebut diganti, hanya untuk suatu alasan yang lumrah, yakni anggaran tak mencukupi.

Desain awal, seharunya kapal perang itu berkecepatan 32 knot. Itu berarti mesin yang dibutuhkan haruslah mesin 2.700 HP (horse power) x 2. Namun, harga mesin sebesar itu mencapai kurang lebih Rp8 miliar sampai Rp10 miliar untuk satu buah mesinnya.

Desain yang telah susah payah dibuat, kemudian diganti dengan merancang kapal berkecepatan di bawahnya, yakni ukuran 1,250 HP x 3 dengan kecepatan 28 knot. Lagi-lagi tersandung pendanaan. Karena selisih harganya tak sedemikian signifikan. Rancangan kapal kembali dirubah terutama pada hull (bawah air) kapal tersebut. ”Dengan perubahan itu, para desainer kapal itu harus bekerja ekstra dan berhati-hati,” kata perwira pengawas (pawas) pembangunan Fasharkan Mentigi Kapten Gatot Arijanto ketika ditemui Batam Pos, belum lama ini.

Akibat terkendala dana tersebut, ia bersama jajarannya kembali mengajukan proposal ulang dengan desain berkapasitas lebih kecil, yakni kecepatan kapal mencapai 20 knot, dengan desain mesin 1250 HP x 2, yakni mesin MAN buatan Jerman berstandar marine class. Setelah mendapat persetujuan Mabes TNI-AL dengan rancangan yang ada, kendala lain terus muncul, yakni tenaga kerja lapangan yang akan membuat kapal tersebut dari titik nol. Perlu shipyard yang berpengalaman dan mampu menyelesaikan pekerjaan kapal tersebut.

Dilakukanlah survei keliling di seluruh shipyard yang ada di Batam. Dari keseluruhan yang dikunjungi, hanya sekitar empat hingga enam shipyard yang sanggup mengerjakan kapal tersebut, namun tak semunya memiliki lisensi seperti yang diharapkan. Alumni teknik perkapalan Universitas Hang Tuah Surabaya itu, mengaku nekat menggandeng PT Batam Express Shipyard (BES) yang nota bene perusahaan galangan milik anak bangsa.

Bersama pimpinan tertinggi Fasharkan Mentigi Uban, yakni Kolonel Sugeng dan dua anak buahnya masing-masing Lettu Syahrul dan Agus Santoso, memutuskan untuk tetap menyelesaikan pekerjaan tersebut. ”Ditetapkan PT BES sebagai pelaksana pekerjaan itu bukanlah tanpa kendala,” kata dia. Pasalnya, PT BES belum pernah membuat kapal perang (KRI) terutama kapal yang memiliki linggi (haluan) yang agak ekstrim serta memiliki spesifikasi khusus.

Sumber daya manusia (SDM) lokal yakni putra-putri Indonesia yang berada di shipyard PT BES yang diawasi Fasharkan Mentigi selama 14 bulan secara bahu-membahu melaksanakan proyek itu. KRI made in Indonesia berbahan aluminium itu adalah kapal pertama yang mampu dikerjakan anak bangsa. Walau buatan dalam negeri, material pembuat kapal itu umumnya didatangkan dari luar negeri. ”Untuk plat aluminium ukuran 4 milimeter sampai 30 milimeter harus dibeli dari Italia, Yunani, bahkan Afrika Selatan. Mesinnya dibeli di Jerman. Sedangkan jaringan elektrikal (Schendier) dari Prancis,” ujar Gatot.

KRI Krait sendiri memiliki sistem pendukung pengaman untuk peluncuran rudal ke permukaan (SSM), radar marting (penandaan) yang bisa membaca nama kapal musuh. Walau terus mengalami banyak perubahan yang kadang membingungkan, namun Direktur PT BES Djuhairi Dahlan kepada Batam Pos, mengaku tetap optimis kapal produksi putra-putri Indonesia itu bakal sukses diselesaikan.

Program alih teknologi antara PT BES dan Fasharkan Mentigi untuk menyelesaikan KRI tersebut akhirnya tercapai. ”Hanya satu tujuan, yakni menunjukkan pada negara lain bahwa Indonesia juga mampu mendesain, membuat, dan memiliki kapal perang berbahan aluminium,” imbuh Djuhairi. Direncanakan KRI Krait buatan Uban-Batam akan diresmikan secara langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam waktu dekat.

WILLIAM, Batam

Sumber : Batam Pos

 
8 Comments

Posted by on January 12, 2009 in KRI, TNI AL

 

8 responses to “Kisah di Balik Suksesnya Pembuatan Kapal Perang KRI Krait

  1. JAHARA

    April 14, 2009 at 12:43 pm

    20 Knots…… ???????? Lah…. ini kapal perang apa kapal ikan ??? Lambat bener………….. ???

     
  2. ibnu mujahid

    July 15, 2009 at 6:09 am

    awas! kalo gak bisa buat perang,dijadiin getek aja

     
  3. indra

    October 25, 2009 at 4:09 am

    jangan lambat2 dong kcptanya.entar kena senapan AK 47.bolong lg….. pak DEPHAN:klo buat kapal perang tu yng BESAR,CEPAT&SENJATANYA LENGKAP. kasihan pasukan TNI kita nanti,mrk mnjaga NKRI dgn susah payah. untuk TNI:MAJU TERUS BELA NEGARA AMPE DARAH TER’AHIR.

     
  4. Tanjung Kurniawan

    January 7, 2010 at 2:26 pm

    Saya pernah berpengalaman di dok kapal ..
    Tepat nya di fasharkhan mentigi ..
    Saya melihat langsung Kri Krait ..
    Menurut saya desain haluan nya terlalu lebar .
    Itu yg membuat kapaltersebut tidak cepat ..
    Berbeda dngan KRI Mata Corra,yg desain haluan nya runcing .
    Kapal yg baru” di luncurkan oleh fasharkan mentigi Tg uban ..
    Tapi tetap semangat buat para TNI ..
    Sukses ..

     
  5. aspiran

    January 13, 2010 at 6:06 am

    kalo mesin 1250hpx2 cuma 20 knt,itu terlalu lambat.kapal saya aja mesin 1250×2 dengan ukuran kapal yang sama bisa mencapai 45 knts.

     
  6. winarno

    January 15, 2010 at 5:46 pm

    harapan yg trakhir untuk indonesia adlh bilamn klo proyek pembuatan rudal dengan unsur uranium alias balistik atau missiel sccud dan lain2 di situlah persenjataan kita sudah selesai sepenuh nya ,memang sa,at ini negara kita msh goncang dngn kondisi ekonomi,para korupsi [tapi teruskan citra anak bangsa di mata dunia ] sebenarx anak indonesia sangatlah pandai tpi terhambatx ekonomi yg menjadi pengaruh,,

     
  7. Pino

    January 29, 2010 at 3:20 am

    Untuk produk pertama nama besar tni dan indonesia taruhannya mestinya sesui spesifkasi awal, tidak begini caranya, dari pada nantinya memalukan dan di cibir tetangga, kalau kurang dana kemana kekayaan bumi gas, emas, batubara, minyak dll, ambil itu semua kenapa diam aja, jadi babu dan penonton kekayaan negara di jarah bule2 petinggi negri spt di hipnotis, sadarlah. Hidup tni, kaulah nasionalis sejati yg tidak pura2.

     
  8. hari

    March 15, 2011 at 11:38 pm

    selamat atas di buatnya KRI imut tsb,
    saya sebagai seorang pelaut melihat / membaca kalimat berita di atas agak janggal / orang yg memberikan berita sangat LUGU ( bhs halus ), kenapa ?…. sebuah radar dapat membaca nama kapal lain bila kapal lain di lengkapi dgn AIS.
    jd kl kapal tdk di lengkapi dgn AIS maka di layar radar hanya bentuk target saja.
    pada kapal sipil ini sudah banyak terpasang. jd bkn kapal musuh, tp kapal sipil.
    jgn malu – maluin kl di baca ama singapore n malaysia mereka pasti tertawa , krn pikiran mereka bahwa tni baru mendapat alat ini.
    tks, pelaut sipil

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: