RSS

Insiden Bawean

15 Jan

f16 tni au full loaded

Tanggal 3 Juli 2003, kawasan udara di atas Pulau Bawean sontak memanas ketika lima pesawat asing yang kemudian diketahui sebagai pesawat F/A 18 Hornet terdeteksi radar TNI AU.

Dari pantauan radar kelima Hornet terbang cukup lama, lebih dari satu jam dengan manuver sedang latihan tempur. Untuk sememntara Kosek II Hanudnas (Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional) dan Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional) belum melakukan tinadakan identifikasi dengan cara mengirimkan pesawat tempur karena kelima Hornet kemudian menghilang dari layar radar.
monitoring room TDAS
Sekitar dua jam kemudian, Radar Kosek II kembali menangkap manuver Hornet. Karena itu panglima Konanudnas menurunkan perintah untuk segera melakukan identifikasi. Apalagi manuver mereka mengganggu lalu lintas penerbangan komersial yang menggunakan jalur tersebut dan terlihat visual oleh awak kokpit pesawat Boeing 737-200 Bouraq yang tengah menuju Surabaya serta sama sekali tak ada komunikasi dengan ATC terdekat.Dalam aturan internasional, jalur penerbangan komersial tidak boleh dipakai untuk manuver provokatif, apalagi sampai membahayakan pesawat lain. Pesawat apa pun yang menggunakan jalur ini harus melapor ke menara, dalam hal ini ke menara Bandar Udara Juanda (Surabaya Director). Laporan tersebut berkaitan erat dengan keselamatan penerbangan yang dituangkan dalam peraturan internasional ICAO (International Civil Aviation Organisation).

carl-vinsonPangkalan Udara Iswahjudi yang hanya terletak sekitar 20 menit penerbangan diperintahkan Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II Marsekal Muda Teddy Sumarno untuk mengirim pesawat F-16 ke lokasi, antara lain karena ada keluhan dari pesawat Bouraq Indonesia Airlines dan Mandala Airlines yang merasa terganggu atas manuver (latihan) yang dilakukan oleh sedikitnya lima Hornet. Jet tempur tersebut berasal dari kapal induk bertenaga nuklir, USS Carl Vinson, yakni super-carrier kelas Nimitz yang sedang berlayar dari arah barat ke timur bersama dua fregat dan sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS. Kapal induk kelas Nimitz mengangkut 100 pesawat tempur, 16 pesawat pengintai, dan enam helikopter, diawaki oleh 3.184 kelasi dan perwira, 2.800 pilot dan awak pendukungnya, serta 70 personel lainnya. Kapal induk ini juga memiliki kemampuan melakukan perang elektronika.

Dua pesawat tempur buru sergap F-16 B Fighting Falcon TNI-AU yang masing-masing diawaki Kapten Pnb. Ian Fuadi / Kapten Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Tony Heryanto / Kapten Pnb. Satro Utomosegera disiapkan.

Misi kedua F-16 itu sangat jelas yaitu melakukan identifikasi visual dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi mengingat keselamatan penerbang merupakan yang utama.

Selain itu, para penerbang diminta agar tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam. Namun demikian, untuk menghadapi hal yang terduga kedua F-16 masing-masing dua rudal AIM-9 P4 Sidewinder dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

fa18_3
Menjelang petang, Falcon Flight F-16 melesat ke udara dan tak lama kemudian kehadiran mereka langsung disambut dua pesawat Hornet. Kedua pesawat Hornet yang menghadang dua F-16 TNI AU melancarkan aksi jamming radar pesawat IAF. Namun, para penerbang F-16 mampu mengatasi perang ECM (Electronic Counter Measure) yang dilancarkan Hornet. Kedua F-16 mengatasinya dengan menghidupkan perangkat anti-jamming kemudian memasang alatnya pada moda otomatis sehingga usaha untuk menutup “mata” F-16 tidak berhasil dilakukan Hornet. Sudah dapat dipastikan, jamming yang dilakukan terhadap kedua F-16 Indonesia tidak dilakukan USS Vinson maupun kapal perusak US Navy. “Kalau mereka yang melakukan, di layar akan keluar kata ’unknown’,” kata Komandan Skadron 3 Letkol Tatang Herliansyah yang diapit oleh keempat penerbang F-16 yang melaksanakan tugas identifikasi tersebut.

Kedua F-16 dalam kecepatan tinggi, sekitar 800 km per jam, masih tetap bisa melihat dengan baik posisi kedua pesawat Hornet. Bahkan, sejumlah Hornet lain yang dikirim oleh kapal induknya juga termonitor pada layar radar F-16. Tidak hanya itu, F-16 bila ingin dapat pula melepas rudal Sidewinder-nya ke sasaran Hornet.

“Menegangkan sekali. Mereka sudah lock (kunci) pesawat kami, tinggal menembak saja. Itu dapat dilihat pada layar (display) ada tanda bahwa kami sudah di-lock,” ujar Kapten Ian Fuady, yang bersama Kapten Fajar mengawaki F-16 dengan call-sign Falcon 1 dalam paparannya di hadapan rombongan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Chappy Hakim, di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, hari Sabtu (5/7).

Guna menghindari dari peluru kendali yang bakal dilepas Hornet, awak F-16 melakukan beberapa manuver penghindar, antara lain hard break ke kiri dan ke kanan atau zig-zagging yang awaknya sampai terkena efek 9g atau sembilan kali gravitasi tarikan Bumi. Manuver ini adalah gerakan yang bisa melepaskan diri dari lock peluru kendali.

“Namun, selama itu posisi kami (Falcon 1 maupun Falcon 2) berada pada posisi menguntungkan, bisa pula (kalau mau) menembak mereka,” tambahnya. Namun karena tugas kedua F-16 adalah misi identifikasi, mereka tidak menunjukkan sikap bermusuhan terhadap kedua F/A 18 Hornet.

Sikap bermusuhan kedua Hornet memudar setelah Kapten Tonny dan Kapten Satriyo melakukan manuver rocking the wing (menggerak-gerakan sayap) F-16 bernomor ekor TS-1602, isyarat internasional bahwa pesawat F-16 bernomor ekor TS-1603 yang diawaki Kapten Ian dan Kapten Fajar tidak mengancam.
Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet yang mencegat mereka. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui bahwa mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional. “We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship”.

“PADA layar (monitor) lampu menyala dan (diiringi) bunyi tit… tit… tit… tit… tit…, mereka sudah mengunci rudal ke pesawat kami,” papar Kapten Pnb Fajar Adriyanto, bersama Kapten Pnb Ian Fuady yang mengawaki F-16 berekor nomor TS-1603 dengan call- sign Falcon 1. Itu tandanya bahwa peluru kendali Sidewinder yang dibawa Hornet sudah siap ditembakkan ke arah Falcon 1.

“Jika bunyi tit-nya panjang seperti tiiiiiiit…. tiiiiiit…., berarti rudal sudah ditembakkan,” ujar Kapten Fajar menambah keterangannya di hadapan KSAU Marsekal Chappy Hakim serta stafnya dan para wartawan. Marsekal Chappy Hakim datang ke Madiun untuk memberi apresiasi kepada mereka yang terlibat dalam tugas intersepsi pesawat Hornet di sekitar Bawean.

Dari hasil rekaman ulang perang elektronika kokpit Falcon 2 F-16 berekor nomor TS-1602 yang diawaki Kapten Pnb Tonny H dan Kapten Pnb Satriyo Utomo, jelas terlihat pesawat Falcon 1 yang sempat juga melakukan gerakan hard break belok dengan kemiringan hampir 90 derajat, secara ketat terus ditempel oleh Hornet 1. Sementara, Hornet kedua menguntit rekannya. Posisi Falcon 2 juga menguntungkan terhadap Hornet 2 sehingga bila suasana bermusuhan menjadi kenyataan, pasangan Kapten Tonny-Kapten Satriyo dapat membantu Falcon 1.

Saat menghindar dari rudal Sidewinder yang bakal ditembakkan setiap detik kepada mereka dengan membelokkan tajam F-16 mereka, mata Kapten Fajar masih sempat melihat kapal perusak US Navy dan langsung melaporkan penglihatannya itu.

“Kami memang sempat close fight dengan mereka, tetapi kita tidak melaksanakan ofensif. Kami mempunyai tugas dari panglima untuk melaksanakan intersepsi guna mencari data pesawat apa jenisnya, kemudian dari negara mana, apa tujuan mereka melaksanakan latihan,” ujar Letkol Tatang Herliansyah.

Menurut para penerbang F-16, kontak visual mereka dengan Hornet terjadi pada ketinggian 15.000 kaki setelah terbang sekitar 10 menit. Pada jarak di bawah 40 mil laut, radar F-16 mereka sudah menangkap target F-18 sehingga kedua pesawat TNI AU langsung menuju ke sasaran terdekat dibantu oleh Surabaya Director. Mereka mendapat informasi ada dua sasaran, jadi pesawat F-18 yang mereka tuju ada lebih dari dua pesawat. Begitu berhadapan, Hornet langsung melancarkan aksi jamming dengan sikap bermusuhan yang ditunjukkan dengan mengunci rudal Sidewinder ke pesawat F-16.

Menurut Letkol Tatang, perang jamming berlangsung sekitar tiga menit karena kedua penerbang F-18 tahu kalau F-16 memancarkan gelombang elektromagnetik dari radar F-16, pesawat Hornet juga menangkapnya. Demikian pula sebaliknya, pada saat pesawat AS memancarkan gelombang yang sama terhadap Fighting Falcon TNI AU, gelombang pesawat AS juga ditangkap radar warning receiver F-16.

“Begitu menangkap jamming mereka, kita pakai anti-jamming yang juga memancarkan beberapa bands (gelombang) dari frekuensi radar F-16. Dengan memakai auto, walaupun mereka berganti-ganti bands, kita bisa mengikuti terus (mereka),” ungkapnya mengenai perang seru ECM F-16 Fighting Falcon versus F-18 Hornet di atas Bawean.

Selama perang ECM, radar warning receiver F-16 tetap mendapatkan sinyal bahwa ada yang mengunci kedua pesawat TNI AU. Ini berarti kemungkinan ada lebih dari satu Hornet lain pada posisi lain yang terus-menerus mengikuti “perang seru” tiga menit antarkeempat pesawat F-16 dan F-18.

Untuk melepaskan diri dari penguncian tersebut, jet tempur F-16 buatan General Dynamics melakukan manuver hard break yang disebut tadi dalam kecepatan tinggi. Manuver ini juga dikenal dengan sebutan defensive manouver, di mana penerbangnya akan terkena gravitasi minimal 6g sampai 9g.

Perang tiga menit, seperti dituturkan oleh Kapten Ian Fuady, berhenti setelah F-16 yang diawaki Kapten Tonny-Kapten Satriyo melakukan gerakan rocking the wing. “Hornet, Hornet, we are Indonesian Air Force…,” terdengar suara Ian dalam rekaman radar ulangan yang ditayangkan gambarnya di Lanud Iswahjudi.

“Indonesian Air Force… we are in international waters, please stay away from our ships…,” terdengar jawaban dari salah satu pilot F/A 18 Hornet. Penerbang F-16 menjawab bahwa kedua Fighting Falcon sedang melakukan patroli dan akan menjauh dari iringan konvoi kapal perang Angkatan Laut AS.

Usai kontak Hornet AS itu terbang menjauh sedang kedua F-16 TNI-AU return to base, kembali ke pangkalannya Lanud Iswahjudi Madiun. Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI-AU juga melihat sebuah kapal perang Fregat yang sedang berlayar ke arah timur.

Setelah kedua F-16 mendarat selamat di pangkalan TNI-AU menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa fligh Hornet merupakan bagian dari armada US Navy.

Namun yang paling penting dan merupakan tolak ukur suksesnya tugas F-16, Hornet AL AS itu baru saja mengontak MCC RAI dan melaporkan kegiatannya.

Di markas Makassar-nya, Marsekal Muda Teddy Sumarno terus mengikuti jalan operasi identifikasi kedua F-16 yang diperintahkan menuju lokasi Bawean. “Kami memperkirakan, konvoi kapal-kapal AS dengan kecepatan 20 knot akan sampai di sekitar Pulau Madura dan Kangean 12 jam kemudian. Tepat seperti dugaan Jumat 4 Juli pagi kemarin, kami kirim pesawat intai Boeing 737 Surveiller ke daerah itu dan benar pada pukul tujuh pagi pesawat pengintai menjumpai iringan kapal induk, sebuah kapal perusak dan dua kapal fregat menuju ke Selat Lombok,” ungkapnya.

Menurut Marsma Teddy Sumarno, ketika Boeing 737 menanyakan dari mana dan ke mana tujuan mereka, hanya mendapat jawaban: “We are in international waters….” Dalam pengintai ini, Boeing 737 TNI AU sempat memotret kapal induk USS Carl Vinson, kedua fregat, dan kapal perusak AS yang dikawal pesawat-pesawat Hornet tersebut. Selama operasi pengintaian itu pesawat surveillance B737 terus dibayangi dua F/A 18 Hornet AL AS. Bahan-bahan yang didapat dari misi itu kemudian dipakai oleh pemerintah untuk melancarkan “keberatan” secara diplomatik terhadap pemerintah AS.

Namun, data dari mana dan akan ke mana iringan konvoi kapal-kapal Angkatan Laut AS sampai Sabtu (5/7) masih belum jelas. Ada dugaan, kapal-kapal itu datang dari utara lalu belok masuk ke ALKI 1 kemudian selama beberapa jam di barat laut Pulau Bawean melakukan latihan. Analisis lain, konvoi datang dari Selat Malaka atau Selat Sunda. Diperkirakan, setelah melewati Selat Lombok, kemungkinan konvoi tersebut meneruskan pelayarannya ke Australia atau langsung ke Samudera Pasifik.

Yang jelas, konvoi kapal induk bertenaga nuklir USS Carl Vinson menorehkan insiden Bawean sewaktu melintas di Laut Jawa. Ia memberi latihan berharga kepada penerbang F-16 TNI AU bahwa latihan sesungguhnya perang elektronika bisa menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Sumber: Angkasa dan Kompas

 
19 Comments

Posted by on January 15, 2009 in Catatan Pribadi, TNI AU

 

Tags: , , ,

19 responses to “Insiden Bawean

  1. arif

    February 1, 2009 at 1:20 pm

    wew ko beritanya tidak sama yah….saya kalo ga salah pernah baca kalo pas kasus di bawean itu penerbang f16 kita sempat lock on juga pesawat us trus mang mereka masuk beberapa mil ke wilayah nkri..ko ini malah kayaknya us yg bener..gimana sih…yang bener yg mana sih..saya baca disini ko cuman us..wah payah nih….

     
  2. adiewicaksono

    February 2, 2009 at 9:17 am

    pertama, klo dibilang masuk ke wilayah NKRI jelas.. tapi tidak masalah karena kapal induknya berada di ALKI, tapi yg jadi masalah f/A 18 tersebut sudah mengganggu jalur penerbangan, makanya dikirim 2 f-16 kita… yang kedua, f-16 kita memang tidak diperintahkan untuk Lock-on karena misinya untuk identifikasi..

     
  3. Saharso

    February 5, 2009 at 5:01 am

    Amerika memang selalu JAHAT. Berbuat USIL kepada negri lain, atau ngeTEST, atau malah ngePROVOKASI. Begitulah karakter pihak yang merasa perkasa. …..Salut buat TNI_AU. Siap mengawal NKRI. Salam Swa Buwana Paksa.

     
  4. Ardian

    February 7, 2009 at 1:30 am

    Intinya bahwa sebenarnya bahwa F/A-18 milik US itu tidak melaporkan kepada Control/Director terdekat (misal makasar center atau ke surabaya Approach). Selain itu juga, mereka (f/a-18) selalu melakukan jamming terhadap radar kita. Oleh karena itu, kita melakukan identifikasi dengan mengirimkan F-16A kita.

     
  5. Adi

    February 10, 2009 at 4:11 am

    Intinya,
    U.S. itu emang rada-rada kurang ajar, mentang2 tau Indonesia alutsista-nya minim dan dalam bayangan embargo. Mereka seenak2nya mengklaim masih berada di International water, padahal boleh jadi mereka sudah ada di ZEE Indonesia.
    Gak cuma U.S., negara2 tetangga macam Singapura, Malaysia, dan Australia juga perlu dikasih pelajaran sopan santun menghormati negara tetangganya.
    F/A-18 RAAF sudah dua kali terbang di atas wilayah NTB, dan cuma dicegat oleh Hawk-200 TNI AU, betul2 dogfight yang nggak seimbang.

     
  6. Andra

    August 11, 2009 at 1:58 pm

    SAYA SALUT KEPADA TNI AU DITENGAH KETERBATASAN ARAMDA PESAWAT TEMPUR TAPI SIAP MENJAGA NKRI DARI NEGARA LAIN DAN SELALU PROFESIONAL DALAM TUGAS HIDUP TNI AU SEMOGA PESAWAT TEMPUR KITA SEMAKIN CANGGIH AMIN

     
  7. Rafli

    September 19, 2009 at 8:28 am

    Presidennya kan masih gila si Bush ya jelas aja

     
  8. panser kutoarjo

    August 1, 2010 at 3:55 am

    amerika cocote assuuuuu

     
  9. Enggar Guntur

    January 13, 2012 at 11:44 am

    pemerintah kita aja yang ga mikirin alutsista,,mikirin perut dan mikirin jadi penghuni neraka

     
  10. Yuli Kristi

    February 16, 2012 at 10:06 am

    Bismillah… manpower kita unggul, alatnya harus update… beri pelajaran au dan al australia yg sering menyusup ke wilayah indonesia timur…

     
  11. ARDY

    February 17, 2012 at 3:15 am

    pengen jadi TNI AU

     
  12. baco'

    October 14, 2012 at 1:05 pm

    buat latihan bagus juga ,hebat auri.

     
  13. wulan

    October 24, 2012 at 7:17 am

    Buat TNI AU & Pemerintah….kalo beli Pesawat jangan Buatan Amerika dueh mending beli dari Rusia aja Biar kalo Pesawat Tempur Amerika Atau Australia Masuk kewilayah Udara NKRI.Bisa duel udara dan nembak jatuh tuh pesawat musuh…..Contohnya F18 AS di Semenanjung Korea yg di Tembak Jatuh SU33 Rusia.bravoooooo TNI AU

     
  14. MasekoX

    November 16, 2012 at 7:14 am

    ga sembarangan lho nembak pesawat tempur negara manapun, coba lihat di setiap pesawat di negara manapun, ada gambar bendera kebangsaannya.
    menjaga keamanan dengan menghormati bendera kebangsaan itu adalah salah satu yang utama dari setiap misi militer.
    dari berita tsb diatas, bukan berati fighter F-16 TNI AU dibilang kalah dari F-18 US, belum tentu..
    pernerbang2 kita TNI AU pun hebat2, berdedikasi tinggi, bermental berani, sapa bilang F16 TNI AU tidak bisa menjatuhkan F18 hornet US?
    dasar utama dari misi identifikasi F16 TNI AU adalah keamanan, tentunya dengan cara TNI kita yg terbaik. bayangkan saja kalo F16 TNI AU menembak jatuh F18 hornet US. sama saja telah membuat kondisi tidak aman bagi NKRI.karena menjatuhkan 1 saja pesawat tempur sama saja sudah menghina sebuah negara, krn kmana sj pesawat tempur itu terbang slalu membawa kehormatan bendera kebangsaannya.

     
  15. sofier

    April 11, 2014 at 3:38 am

    alhamdulillah kita punya sukhoi banyak sekarang, kalo mereka macam2 kirim aja sukhoi

     
  16. Andi J

    October 26, 2014 at 1:21 pm

    Yang bilang international water ya jelas ngawur. Yang namanya ALKI itu tetap kedaulatan wilayahnya punya Indonesia. Tetapi kapal2 negara lain yang melintasi ALKI diberi keistimewaan tidak perlu meminta izin untuk melewatinya. Kedua, yang namanya ALKI itu ketentuannya hanya berlaku untuk kapal laut (apapun jenisnya), sedangkan pesawat yang merupakan bagian dari sebuah kapal induk harus landing. Ketiga, USA tidak meratifikasi konvensi tentang ALKI jadi tidak berhak memanfaatkan ALKI.

     
  17. Afank Lombok

    November 6, 2014 at 12:08 pm

    I obviously do not like the US, whatever their purpose when it entered Indonesian waters is certainly violate the territory of a country ..
    even if the Air Force to shoot down aircraft american hornet, it is clear our side right because they are violated, but because the boss just ordered for identification that is why the pilots ignored the hornet aircraft lockdown, but because of the intelligence of our pilots managed to break the radar war ..
    bravo Indonesian Air Force….!!!

     
  18. Fandi Valensiano

    April 24, 2015 at 12:07 pm

    Hal ini terjadi karena negara kita disepelekan alias dianggap kecil. Coba kalau dengan China atau Rusia, tentu Amerika tidak berani tetap ngotot untuk mempertahankan posisinya. Pasti mereka balik kanan.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: