RSS

Profil SA-2 Guideline

24 Jan

Berikut adalah profil SA 2 Guideline yang bersumber dari forum disitus Alutsista

sa-2 guideline

Rudal Pertahanan Udara TNI (Tempo Doeloe)

Perjalanan sejarah pertahanan udara di Indonesia tidak bisa terlepas dari keberadaan peluru kendali V-75 buatan Rusia ini. Rudal jenis SAM-75 atau di negara pembuatnya Uni Soviet diberi kode V-75 “Dvina” (NATO diberi kode SA-2 “Guideline”) petama kali dibuat pada tahun 1953 oleh pabrik Lavochkin OKB sebagai pengganti R-113 (kode NATO SA-1 ‘Guild’) yang dirasa kurang mampu dalam melumpuhkan target yang ada. Rudal darat ke udara ini dirancang untuk menghancurkan target pada ketinggian menengah dan tinggi dengan sasaran non- manoeuvering target seperti pesawat pembom dan mata-mata.


Ketika ancaman perang dengan Belanda kembali muncul, Bung Karno langsung menggelar crash program: modernisasikan militer! Untuk tugas itu, Kolonel AH Nasution dipercaya mengelus-elus Uni Soviet dan konco-konconya agar bersedia melepas persenjataannya kepada Indonesia. Selanjutnya militer Indonesia menjelma menjadi kekuatan paling utama di Asia Tenggara dan Pasifik.

Konon AURI paling diuntungkan dari pembelian ini. Seperti membalik telapak tangan, AURI yang sebelumnya mengoperasikan pesawat-pesawat peninggalan Belanda semasa Perang Pasifik, kelimpahan alutsista baru dari negara-negara Blok Timur. Satu dari ratusan sistem persenjataan yang dipasok adalah peluru kendali (rudal) darat ke udara V-75 yang oleh kalangan militer Amerika Serikat (AS) diberi kode SA-2 dan NATO menyebutnya Guideline sementara kalangan TNI AU mengenalnya dengan SA-75. Sementara dalam terminologi Barat rudal jenis darat ke udara biasa disingkat SAM (surface to air missile)

Ada sebuah cerita menarik tentang keberadaan rudal SA-75 dengan seseorang yang bernama Subagiyo Surodiwiryo, berikut ini kisah perjalanan beliau dalam mengemban misi mendatangkan rudal SA-75 yang sangat fenomenal dalam sejarah TNI Angkatan Udara.

Agak sulit bagi Marsda (Pur) Subagyo Surodiwiryo mengingat peristiwa yang telah berlalu 40 tahun silam itu, hanya saja bagi Subagyo yang saat itu menjabat koordinator di Skadron Pendidikan Peluncur Rudal dan Tehnik Wing 100 Lanud Kalijati dan sempat menjabat asisten logistik KSAU, hadirnya SA-2 sudah cukup membuat negara tetangga dan negara Blok Barat merinding. “Sayang ketangguhannya urung teruji karena Trikora berakhir di meja runding,” jelas Subagyo sambil menambahkan bahwa persenjataan dari Uni Soviet itu dibeli justru untuk berjaga-jaga andaikata Belanda dibantu para Sekutunya.

Bagi Subagyo, keterlibatannya dalam urusan senjata pemusnah serangan udara ini sebenarnya kurang relevan dengan latar belakang korpsnya di AURI yang aeronautik. Tapi jalur pendidikan weapon system yang dialaminya sejak tahun 1958, suka atau tidak suka telah menarik Subagyo kepada tetek-bengek perudalan. Rencana pembelian rudal darat ke udara sebagai realisasi kunjungan Nasution, membuat Subagyo harus berangkat ke Uni Soviet bersama tim AURI untuk meneruskan perjanjian yang telah disepakati kedua negara. Tim yang dipimpin Kolonel Sudarjo itu berangkat ke Uni Soviet pada 1960. Khusus merealisasikan pembelian SA-2 dimana Subagyo terlibat, tim kecil ini dipimpin Mayor Imam Sukotjo.

Sesuai dengan “petunjuk“ dari Jakarta bahwa pembelian merupakan crash program, tim AURI ini juga tidak berlama-lama di negara tirai besi (saat itu). Dalam kunjungan sekitar sebulan itu dibicarakan segala sesuatu mulai dari jumlah yang akan dibeli, bagaimana pengirimannya, bagaimana dan dimana pendidikannya hingga garansi lainnya yang mesti tertera di dalam kontrak. Sayang sekali, Subagyo lupa berapa jumlah yang berhasil dibeli. Persiapan mulai terlihat di sana-sini. Mulai dari hanggar, shelter, perkantoran, hingga asrama pun dibangun. Daftar nama personil mulai dari bintara hingga perwira yang akan dikirim ke Uni Soviet untuk mempelajari pengoperasian SA-2 juga sudah dikantongi. Satu di antara rombongan itu dinamai “Naya 2“.

Seratus orang diberangkatkan pada tahun 1962, mereka direkrut dari bintara-bintara yang memang bertugas di satuan-satuan radar TNI AU, sedangkan pendidikan radarnya dilaksanakan di Polandia, berikut penuturan saudara Budhi yang terlibat dalam proyek pembelian rudal tersebut , “Kami tidak dikirim ke Rusia, tapi ke Polandia. Di sini pendidikan khusus bagi calon operator radar di skadron rudal,” aku Budhi Katamsi, mayor purnawirawan yang menutup karirnya sebagai staf Dinas Penerangan TNI AU.

Diakui Budhi yang ditempatkan di Skadron Peluncur 101 Cilodong, tidak semata mempelajari bagaimana mengoperasikan radar satu situs rudal SA-2 mengoperasikan radar IFF (identified friend or foe) dan radar penuntun malah yang membuat mereka harus “mendekam“ selama, persisnya, 18 bulan di Polandia, justru bagaimana mengutak-atik jeroan radar itu sendiri. “Jadi kami diajarkan mulai dari menyolder (soldering, mematri) sampai menggulung trafo, sementara pelajaran radarnya sendiri sebentar dan itu pun tidak terlalu sulit,” beber Budhi.

Sistem pendidikan sapujagat seperti ini jelas diarahkan dengan harapan pasukan mampu beroperasi secara mandiri. Sekali dayung dua pulau terlewati. Saat bersamaan di Jakarta juga mulai dilakukan perekrutan personil baru, terutama untuk memenuhi kebutuhan perwira. Selain memanfaatkan perwira yang sudah ada, puluhan mahasiswa maupun jebolan ITB Bandung digiring bergabung dengan AURI dalam kondisi tertentu negara berhak memaksa warganegaranya bergabung dengan militer demi tujuan bela negara, mereka inilah yang dididik pada tahap awal di Kalijati.

Secara administratif persiapan AURI cukup hebat tentu tidak terlepas dari lampu hijau yang diberikan Bung Karno. Presiden pertama menyebut pengadaan SA-2 ini sebagai “Proyek A“. Menurut Budhi, sebagai contoh, dua rudal lengkap dengan peluncur telah datang dan terpasang pada 1962. “Namun belum ada yang mengoperasikan,” jelasnya.

Sebagai rudal darat ke udara (surface to air), kedatangan SA-2 tentu akan mewujudkan sebuah sistem pertahanan udara yang boleh dibilang canggih kala itu. Puluhan pesawat tempur telah berdatangan (MiG 15, 17, 19, 21), pula artileri-artileri pertahanan udara telah dimiliki AURI. Alhasil sebagai sistem pertahanan udara lapis kedua (areal defence) setelah pesawat tempur dan sebelum pertahanan titik (hanud pasif, point defence), kehadiran SAM yang baru diproduksi 1956 dan ditempatkan dalam skala besar di beberapa titik di Uni Soviet pada 1958, tak pelak lagi akan menjadi pergunjingan yang tak kalah hebatnya dibanding Tu-16 dan MiG-21 yang telah hadir lebih dulu. Mengingat hingga 1960, selain sudah terpasang mempertahankan fasilitas-fasilitas vital di bagian barat Uni Soviet, Pakta Warsawa sendiri baru menggelarnya pada 1960.

Indonesia betul-betul seperti kekasih bagi Uni Soviet, jauh dikangeni dekat dimanja. Buktinya persenjataan itu. Kembali ke sistem pertahanan udara, melalui Surat Keputusan Menteri/Pangau No 39 tahun 1963 tertanggal 15 Agustus, dibentuklah Komando Pertahanan Udara (Kohanud). Sebagai sebuah sistem pertahanan, Kohanud ditongkrongi kesatuan-kesatuan yang ditampung dalam tiga wing pertahanan udara (Hanud). Wing Hanud 100 (peluru kendali), Wing Hanud 200 (radar), dan Wing Hanud 300 (buru sergap).

Dalam perkembangan selanjutnya, menurut buku “50 Tahun Emas Pengabdian TNI Angkatan Udara” (1997), Wing Hanud 200 dibagi menjadi Wing Hanud 200 dan Wing Hanud 400 karena bertambahnya jumlah radar. Setiap wing membawahi beberapa skadron. Wing Hanud 100 mengawaki tiga skadron peluncur (Satpel) dan satu skadron tehnik rudal (Skadron 101, 102, 103 dan Skadron 104 Tehnik). Skadron 101 di Cilodong, 102 di Cilincing, 103 di Tangerang, dan 104 di Pondok Gede. “Rencananya juga akan ditempatkan di Bekasi dan Surabaya, namun perangnya (Trikora) urung. Surabaya pertimbangannya karena di sana pusat angkatan laut,” urai Subagyo. Kalau tiga skadron pertama merupakan skadron operasional, maka Skadron 104 merupakan skadron penyiap (Satpen) yang bertanggungjawab menyiapkan rudal-rudal yang akan ditempatkan di ketiga skadron operasional. Sementara dua wing lainnya, Wing 200 membawahi tujuh skadron radar (210 sampai 270), Wing 300 tiga skadron buru sergap (11, 12, 13) dan Wing 400 membawahi tujuh skadron radar lainnya (410 sampai 470).

Pada tanggal 1 Mei 1960 rudal ini membuktikan keampuhannya pada saat menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika U-2 ‘Dragon Lady” pada ketinggian 50.000 feet dan berhasil menangkap pilotnya Francis “Gary” Powers. Selain itu peristiwa lain yang mencatat keberhasilan rudal ini dari berbagai variannya adalah insiden U-2 Taiwanese ditembak jatuh oleh tentara RRC di atas Narching, Oktober 1962 U-2 Amerika hilang ditembak oleh tentara Cuba di atas pangkalan angkatan laut Banes yang kemudian memicu krisis missile Cuba. Berikutnya adalah di ajang Vietnam dengan korban pesawat tempur F-4C Phantom pada bulan Juli di tahun yang sama.

Selama kampanye Trikora, SA-2 disiapkan membentengi Jakarta. Tidak banyak cerita seputar masa genting itu, mengingat pada 1962 Belanda dan Indonesia sepakat menyelesaikan pertikaian di meja runding. Namun satu peristiwa pantas disimak yang kalau saja terjadi akan memberikan sejarah lain kepada bangsa ini. Siang itu, seperti biasa, anggota Skadron Peluncur 102 bersiaga seperti hari-hari sebelumnya. Hingga keluar perintah yang menegangkan, sebuah pesawat intai strategis U-2 Dragon Lady melintas di Teluk Jakarta. Kejadian itu segera dilaporkan ke Panglima Kohanud. Oleh panglima diteruskan kepada presiden lewat jalur “telepon merah“ untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara operator radar sudah mengunci posisi U-2. Kalaulah Bung Karno ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, tidak seorang pun bisa membayangkan. Pilihannya memang bisa tembak atau tidak, tapi apapun itu tetap akan lain ceritanya.

 
7 Comments

Posted by on January 24, 2009 in TNI Tahun 60an

 

Tags: ,

7 responses to “Profil SA-2 Guideline

  1. marxissukarnois

    February 8, 2010 at 8:35 am

    AURI WAS THE BAD ASS MOFOS AT THAT TIME !!! SECOND WAS THE ALRI..MAN I WISH WE COULD TURN BACK TIME…BUT…HARTO FUCKED ‘EM UP REALLY BAD…FUCK S’HARTO ! MAY YOU BURN IN HELL…

     
  2. Andre

    February 15, 2010 at 8:19 am

    Jujur, salut buat TNI-AU dengan swa bhuwana pakca. Seandainya boleh, dimana saya bisa mendapatkan nomer telepon Bpk Budhi Katamsi, karena antara tahun 1977 s/d 1984 saya bertetangga dengan beliau di LANUD BALIKPAPAN…

     
  3. jabon

    August 30, 2010 at 6:35 am

    auri harus memoderinisasi alutista

     
  4. jabon

    September 6, 2010 at 4:39 am

    maju terus auri

     
  5. soekarnoismLEFT

    October 26, 2010 at 6:59 am

    keknye perlu diidupin lagi deh squadron PSU TNI-AU : radar jarak menengah/jauh, SAM (survace to air missile) pantsir untuk dekat, sa-6,sa-8 untuk menengah dan s-300 untuk jarak jauh (ada kloninganye buatan tiongkok HQ-9 cocok untuk yang berkantong cekak) atau upgradean sa-2 buatan tiongkok juga masih okeh tuh…sebar deh di pangkalan2x udara strategis… ini seh khayalan gw aje sebagai anak bangsa yang ingin angkatan udara negaranya disegani dan punya daya penggetar..

     
  6. eko budi wibowo

    July 30, 2011 at 5:37 am

    saudaraku menhan,menurut hemat kami DPRT PAN PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL,…sudah saatnya TNI.AU di skanud kupang,perlu ditambahkan RUDAL SA-6,SA-8 kemampuan jarak menengah, dan perkuat dengan adanya RUDAL S-300,S-400 kemampuan jarak jauh.kita sering kecolongan dengan blackflight dari negara tetangga.selain itu kita perkuat skanud tsb dengn pespur SU.33,SU.35 S,MIG.29,MIG.31 sebagai buru sergap.

     
  7. eko budi wibowo

    July 30, 2011 at 5:52 am

    saudaraku menhan,tidak ada salahnya skadron tsb kita percayakan kepada TNI.AL,…selain ke TNI.AU. Buka kesempatan agar TNI.AL dapat mendidik dan melatihnya,skadron latpur dengan jenis MIG.AT,YAK.130…( di SKADRON PENERBANG ANGKTN.LAUT ).maka DPRT PAN PONDOK KARYA PONDOK AREN TANGSEL,percaya dan meng-amanatkan hal tsb kepada TNI.AL.Kami yakin bahwa amanat uang rakyat tersebut tidak dikhianati…trimakasih.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: