RSS

Panser Buatan Sendiri, Asing Tak Baca Kekuatan

30 Jan

panser buatan BPPT dan PT PINDAD

Uji coba suspensi independen panser beroda enam karya BPPT dan PT Pindad.

Berbeda dengan panser impor, penggunaan kendaraan lapis baja untuk angkatan perang buatan bangsa sendiri ini akan sangat menentukan kekuatan yang tidak bisa ”dibaca” negara asing.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan PT Pindad telah mewujudkannya dengan hasil rancangan panser pada 2004. ” Impor teknologi pertahanan dan keamanan (hankam) oleh suatu negara memudahkan bagi negara lain untuk ’membaca’ kekuatannya. Itulah alasan pentingnya membuat sendiri panser maupun teknologi hankam lainnya,” kata Deputi Pusat Teknologi Industri Hankam pada BPPT Joko Purwono, Selasa (20/1) di Jakarta.

Sejak awal Joko terlibat dalam perancangan panser yang masih menggunakan mesin merek Renault dari Perancis. Semula pembuatan panser ini ingin mengandalkan mesin produk PT Texmaco untuk memenuhi kriteria sepenuhnya sebagai produk dalam negeri. Namun, itu gagal akibat perusahaan yang bersangkutan kemudian bermasalah.

Ia bersama tim di BPPT menggarap rancangan produksi panser ini dimulai dari penentuan konfigurasi hingga rasio tenaga yang dihasilkan. Rancangan lalu diserahkan ke PT Pindad untuk dibangun di Bandung, Jawa Barat.

Dari hasil pengerjaan sendiri, kecuali produk mesin, ujung- ujungnya diperoleh penghematan. Joko enggan merumuskan persentase penghematannya, tetapi menuturkan penggunaan produk lokal sudah diupayakan melebihi kapasitas 60 persen.

Keandalan panser lokal dengan poros roda dan suspensi yang independen ini mampu menelusuri berbagai kondisi medan dengan tetap mengoptimalkan kenyamanan 12 penumpang di dalamnya. Ini ditunjang masing-masing roda yang memiliki suspensi. Dengan demikian, kenyamanan akan diperoleh di dalam panser berpendingin udara tersebut.

Jenis panser yang sudah diproduksi PT Pindad hingga saat ini dengan roda ban sebanyak empat dan enam buah. Penggunaan roda ban untuk panser memang memiliki kelemahan. Ketika panser digunakan di medan berlumpur dalam dan licin bisa ”slip”. Namun, bobot panser darat yang mencapai 13 ton dengan rasio tenaga mencapai 20,75 tenaga kuda per ton diharapkan untuk mengatasi kelemahan itu.

Kepala Bidang Teknologi Industri Hankam Matra Darat BPPT Abdul Azis menuturkan, untuk kavaleri TNI Angkatan Darat hingga kini sudah dibuat 20 unit. Jumlah yang ingin dicapai dalam waktu dekat mencapai 150 unit.

Kompetitif

Joko mengakui, kuantitas produksi panser sebagai hasil inovasi dalam negeri itu masih tersendat. Penyebabnya mudah diraba, yaitu minimnya anggaran pemerintah sebagai pengguna. Namun, ia menyatakan, produk panser dengan mesin yang bisa dibeli di pasar bebas itu memiliki daya saing tinggi, kompetitif untuk diekspor ke negara lain.

”Persoalannya, negara pengimpor akan terlebih dahulu menanyakan, sudah berapa banyak yang digunakan sendiri di dalam negeri,” kata Joko.

Pembuatan sekitar 20 unit panser dari 150 unit yang ditargetkan, menurut dia, belum bisa untuk meyakinkan negara lain agar mau mengimpor panser dari Indonesia. Dengan kualifikasi andal maupun harga rendah sekalipun, citra yang diperoleh dari tingkat penggunaan negara produsen sendiri jadi tolok ukur yang sangat penting.

Apalagi, Indonesia jumlah penduduknya mencapai 220 juta jiwa dengan sistem wilayah pemerintahan yang sangat luas. Maka, akan dapat dibaca kebutuhan panser bagi angkatan perangnya tentu berlipat-lipat dari jumlah 150 unit yang ditargetkan itu.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dalam berbagai forum sering menyatakan, panser rancangan BPPT dan PT Pindad ini sangat bisa dibanggakan. Panser ini pun patut disandingkan di Perancis sebagai negara produsen mesin panser tersebut, yakni dengan merek Renault.

Jenis amfibi

Joko beserta anak buahnya sebagai perekayasa panser dalam negeri itu kini sudah merancang versi lainnya. Salah satunya, panser amfibi yang masih dalam tahap penyempurnaan sistem penahan airnya.

Panser amfibi sangat bermanfaat bagi wilayah-wilayah yang dipenuhi dengan perairan darat seperti sungai dan danau. Keandalannya bergerak di darat dan air ini makin menunjang operasional militer di lapangan.

PT Pindad sendiri sebagai badan usaha milik negara (BUMN) bukan hanya berorientasi memproduksi panser, tetapi juga berbagai kelengkapan utama sistem persenjataan angkatan perang lainnya. Apalagi produksi panser amfibi juga tergolong baru bagi PT Pindad sehingga Joko memaklumi penyempurnaan teknologi penahan air panser amfibi terkesan lamban.

Berkenaan dengan konsentrasi para perekayasa BPPT ke Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong, Tangerang, Joko mengatakan, laboratorium kerja untuk mendukung uji tekanan air panser amfibi sedang diusulkan.

Menurut Abdul Azis, teknologi penggerak yang digunakan panser amfibi tidak jauh berbeda dengan panser darat. Bedanya, panser amfibi dilengkapi dengan sistem baling-baling (propeller jet) yang dirancang mampu mendorong dengan kecepatan 9 kilometer per jam.

Kecepatan di air itu memang masih relatif rendah jika dibandingkan dengan kecepatan ketika di darat yang bisa mencapai 110 km per jam. Perbedaan berikutnya adalah mengenai bobot yang harus diturunkan.

Bobot panser darat seberat 13 ton itu harus diturunkan hingga 10,6 ton untuk panser amfibi. Caranya, bahan baja diganti dengan aluminium pada bagian- bagian tertentu tanpa mengurangi aspek keamanannya.

Proses menciptakan dan mengembangkan teknologi panser dalam negeri sejauh ini masih banyak tantangan. Namun, semangat untuk menjadikan kekuatan bangsa tak bisa ”dibaca” negara lain tak boleh padam.

Sumber: Kompas

Advertisements
 
12 Comments

Posted by on January 30, 2009 in PT Pindad, Ranpur

 

Tags: , ,

12 responses to “Panser Buatan Sendiri, Asing Tak Baca Kekuatan

  1. aryasepa

    June 3, 2009 at 9:46 am

    SAMPURASUN
    wah saya sangat takjub dengan bangsa indonesa saya sangat terpukau melihat ahli-ahli negeri sendiri. TERUS MAJU JANGAN MENGANDALKAN PRODUK LUAR KITA PUN BISA MELEBIHI MINIMAL MENYAMAI KUALITAS ASING. SAYA YAKIN ITU… BANGKITKAN KEMBALI SINGA ASIA DI MUKA BUMI UNTUK KEDAMAIAN….

     
  2. teuku harliansyah O.R

    June 30, 2009 at 4:15 am

    pakai semua karya anak bangsa,
    indonesia cukup banyak sda yg kurang perhatian….
    jika pemerintah perhatian sama anak bangsa!
    saya yakin insyaallah indonesi, jadi negara yang mandiri, dan maju, tanpa bisa dibaca kekuatan perang nya !
    jangan memetingkan diri sendiri….

     
  3. ganang andi

    July 3, 2009 at 10:00 am

    OK ARTIKELNYA.. aku suka !

    Ganang Andi – AEROPAPERMODEL
    Miniatur peswat tempur dari kertas..Unik dan angka !
    http://geocities.com/indonesia_papermodel/miniatur_pesawat.html

     
  4. Ama

    July 10, 2009 at 5:35 am

    Bravo PINDAD..!
    Baru kali ini AKU bangga..dengan negeriku..!
    Kalau MAU kita BISA…!
    Sejak tahun 60-an pun sebenarnya kita sh bisa bikin RUDAL sekalipun….! BANGKIT..!
    Salam
    10 Juli 2009

     
  5. anggi widodo

    August 31, 2009 at 5:44 am

    aku benar2 bangga terhadap negeriku sendiri, kepada PT. PINDAD aku boleh ngasi usul atau masukan, dikit aja ,: bangsa kita udah mampu menciptakan panser, senjata SSI.V1 , SSI. V2, pistol,dan senjata berondong laennya bahkan saat ini rudal pun akan segera dikembangkan, mengapa kita tidak mencoba membuat pesawat tempur, aku sebagai putra negara mau memberikan sedikit kontribusi kepada negaraku agar semakin maju. majulah INDONESIA ku..

     
  6. Ediyanto

    September 5, 2009 at 3:49 am

    Wuih!!… Hebat. Gw jd deg2an. Tinggal bikin pesawat tempur…
    Pak presiden gmn klo ga dana, seluruh bangsa indonesia siap buat pete2…!! Tapi jgn dikorupsi…
    Biar malaysia mpot2an

     
  7. atiq

    October 26, 2009 at 7:36 am

    ternyata Indonesia juga bisa membuat panser, saya bangga sekali

     
  8. Edi

    January 1, 2010 at 1:44 am

    Aku bangga dgn negara ini tp aku lebih bangga bila negara ini sdh bisa buat pesawat tempur sama hebat dengan pesawat suko. Sehingga pertahanan kt kuat dan tdk bisa di baca negara lain

     
  9. putra Lombok Indonesia

    May 31, 2010 at 2:46 pm

    sperti apapun kualitasnya.. yg pnting bs mandiri… gk trgantung ma negara lain… okaylah klo saat ini msin msi impor,, tapi kdepan buat msin sndiri…

     
  10. rakhmad

    August 2, 2010 at 4:16 pm

    pemerintah tambahin dong anggarannya biar bisa buat pesawat tempur sekalian nuklirnya biar negara kita tidak di injak2. selama ini negara kita di anggap kaya bencong.

     
  11. macan tutul

    September 22, 2010 at 9:12 am

    kalo di tuker dengan proton bukanny dengan mudah negara lain mempelajari pembuatan panser alias teknologi panser akan dicontek

     
  12. sigit pramono

    February 20, 2011 at 1:54 pm

    saya memiliki dua buah konsep tentang mesin konversi energi,yang berbeda dengan mesin-mesin konversi energi yang ada sekarang ini. Saya dikaruniai Tuhan kemampuan rancang bangun,sebagai anak bangsa yang merasa terlupakan oleh negara,yang ingin menyumbangkan karya terbaik untuk bangsa dan negara,juga untuk dunia. Tapi tak memiliki akses untuk itu,saya masih bersyukur sebagia karyawan swasta,untuk menghidupi keluarga saya. Dengan kemampuan yang terpendam tak tersentuh oleh tangan pemerintah,untuk memiliki kesempatan mengembangkan karya-karya besar anak bangsa. Terimakasih

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: