RSS

Permasalahan MTA dengan Singapura yang tak kunjung selesai

31 Mar
MTA 1 dan 2

MTA 1 dan 2

Seperti yang bisa anda lihat diatas, MTA 1 merupakan wilayah udara Indonesia yang diperkenankan untuk latihan angkatan udara Singapura (RSAF) dan MTA 2 merupaka wilayah laut Indonesia yang diperkenankan untuk latihan angkatan laut Singapura (RSN). Perjanjian ini diatur dalamAgreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of Singapore on Military Training in Areas 1 and 2 yang ditandatangani pada tanggal 21 September 1995 oleh Jenderal TNI (Purn) Edi Sudradjat (Menhankam RI pada waktu itu) dan Dr.Tony Tan (Menhan Singapura pada waktu itu). Perjanjian ini nampaknya saat ini menjadi kerikil didalam sepatu kita.

MTA-1 dan MTA-2 ini sebenarnya secara formal disahkan oleh Kepres No 8/1996, dan sesuai Pasal 5 isi Agreement itu sendiri, masa berlakunya memang seharusnya sudah habis di tahun 2001 bila tidak diperbaharui. Tapi sampai sekarang anehnya, walaupun secara De jure perjanjian MTA-1 dan MTA-2 telah berakhir tetapi secara de facto wilayah itu khususnya MTA 1 terus berada dalam pengawasan Singapura.

Seperti yang anda dapat baca pada berita sebelumnya, adanya MTA 1 membuat pesawat transport dan militer kita harus memutar jauh, dikarenakan Singapura melarang adanya pesawat kita melintas didaerah tersebut. Pertanyaan paling mendasar adalah mengapa hal itu bisa terjadi sampai sekarang? Untuk menjawabnya saya akan menggunakan sudut pandang sipil dan mliter.

Dari sudut pandang sipil, kita melihat posisi Singapura (Changi) sebagai airport penghubung (hub) penerbangan jarak jauh di dunia membuat mereka harus mengawasi wilayah tersebut secara terus menerus, karena wilayah MTA 1 merupakan final approach sebelum landing di Changi, lalu mengapa tidak diserahterimakan kepada bandara Hang Nadim? Seperti yang anda dapat baca diberita sebelumnya, Hang Nadim tidak memiliki peralatan (radar) yang cukup, yang dapat memantau pergerakan pesawat diwilayah tersebut. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali hak mengontrol wilayah itu adalah modernisasi radar di Hang Nadim yang tidak bisa ditunda-tunda.

Dari sudut pandang militer, saya sangat menyayangkan mantan menteri pertahanan 2001-2004 dan menhan Juwono Sudarsono yang tidak secara tegas mengambil alih wilayah itu karena perjanjian itu sudah berakhir sejak 2001. Lalu dimana TNI?? TNI AL secara teratur mengusir kapal angkatan laut Singapura yang melakukan latihan di MTA 2. Tetapi TNI AU terlihat gamang mengusir latihan angkatan udara di MTA 1 dikarenakan pada saat Indonesia diembargo oleh Amerika Serikat, Singapura menjadi pasar gelap spare part peralatan tempur kita (hal inilah yang membuat F-16 TNI AU tetap dapat terbang).

Tetapi dimana pun, yang namanya tentara hanya melaksanakan perintah. Semua ini berpaling kembali pada kemauan politik pemerintah untuk menyelesaikan hal itu. Saya yakin, jika Presiden memerintahkan TNI untuk mengambil alih dan mengusir angkatan perang dari Singapura diwilayah MTA 1 dan 2, maka TNI akan mematuhinya.

Tentang ancaman Singapura, yang akan menembak jatuh jika ada pesawat yang melintas, saya kira hanya gertak sambal. Karena menurut pengakuan ATC Hang Nadim, pernah ada pesawat militer dari Amerika serikat yang melintas diwilayah itu dibiarkan. Karena sesungguhnya ada prosedur tetap yang hampir sama disemua negara ketika menghadapi penerbangan gelap, dimana pesawat yang melanggar tersebut pertama-tama akan diusir keluar atau dipaksa turun oleh pesawat tempur, jika ternyata “membandel” baru akan ditembak jatuh. Prosedur langsung ditembak jatuh hanya diberlakukan jika dalam keadaan perang. Apakah Indonesia dan Singapura sedang berperang?? Saya yakin Singapura tidak berani menembak jatuh pesawat kita yang melintas di MTA.

Untuk lebih menunjukkan keseriusan, maka sebaiknya ada pergerakan pasukan, bisa dari Pekanbaru atau Iswahyudi ke lanud Ranai atau Hang Nadim untuk mengcover wilayah itu. Sehingga pesawat sipil dan militer kita mempunyai keberanian untuk melintas diwilayah itu. Juga sebagai cara berjaga-jaga jika pesawat kita melintas di daerah tersebut dan RSAF meng-scramble pesawatnya, maka TNI AU dapat meng-scramble pesawatnya dengan alasan Singapura menerobos wilayah udara Indonesia.

Selain itu rencana untuk memperpanjang MTA dengan perjanjian DCA, yang memberi hak bagi Indonesia untuk melakukan ekstradisi sebaiknya tidak dilanjutkan. Karena lebih banyak ruginya bagi Indonesia daripada yang akan didapat, karena jika ekstradisi itu dilakukan maka citra singapura sebagai “surga” keuangan no 2 didunia dibawah Swiss akan runtuh seketika. Maka saya yakin-seyakinnya bahwa Singapura tidak akan pernah mengekstradisi koruptor dan dana yang dilarikan ke Singapura.

Wilayah MTA 1 dan 2, merupakan wilayah yang sangat kecil dibanding luas wilayah Indonesia. Tapi dimana harga diri kita kalau kita ingin pulang ke rumah sendiri, disuruh jalan memutar oleh tetangga kita.

 
4 Comments

Posted by on March 31, 2009 in Catatan Pribadi, Dephan RI, TNI

 

Tags: , ,

4 responses to “Permasalahan MTA dengan Singapura yang tak kunjung selesai

  1. sakha

    May 14, 2009 at 11:25 pm

    Yuph…Bravo Indonesia, sudah saatnya anggaran dana u Militer ditambah. Kekuatan Ekonomi dan Sosial sdh lebih baik, saatnya anggaran TNI d tambah setidaknya 7-10 persen. Ini mendesak dilakukan. Pasti akan ada protes, tapi kalau tdk d naikkan TNI akan semakin payah..!!!
    Setidaknya, jumlah pesawat tempur dan Kapal tempur d tambah. Untuk TNI AD dan Kpolisian masih bs d kompromikan. Kasihan benar negara ini.

    Bravo Militer Indonesia…
    Bravo KOSTRAD !!! Bravo TonTaipur !!!

     
  2. joxin

    June 5, 2009 at 8:28 am

    Untuk keamanan bumi pertiwi indonesia yang sangat luas ini,baiknya pertahanan alutsista d tingkatkan,agar harga diri bangsa indonesia tidak d remehkan oleh bangsa lain,,seperti malingsia yang menginginkan ambalat..singapura yang ingin memperluas perbatasannya..maju TNI maju negriku,kami rakyat indonesia d belakangmu

     
  3. Ruston

    July 29, 2009 at 12:54 pm

    Sebagai bangsa yg besar sudah saatnya indonesia bangun dari tidur panjangnya. Buktikan pada dunia bahwa indonesia punya jatidiri punya kekuatan yg tangguh. Hidupkan industri2 militer dalam negri agar menjadi penggentar negara lain yg angkuh. Bravo tni ku

     
  4. roi

    February 8, 2010 at 10:31 am

    hallo indonesia,sebaiknya pemerintah harus segera merealisaikan pencabutan perjanjian mta & dca “itu sangat melanggar kedaulatan NKRI”kami sgt mengharapkan utk tdk memberikan toleransi berupa wilayah kesatuan yg dipinjamkan kepada negara tetangga yg sewaktu2 dpt merobek2 kekuatan NKRI….itu sebuah ancaman yg sngt serius dimasa yg akan datang,apalagi ada larangan2 aneh buat dari s’fore>>sebaiknya s’fore di isolasi dari wilayah tersebut.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: