RSS

Belum Menimbulkan Efek Gentar

07 Oct

by : Koesworo Setiawan
Selain masih jauh dari kebutuhan minimum, pengelolaan anggaran TNI juga belum efektif.

PANGLIMA TNI Jenderal Djoko Santoso memastikan, perayaan HUT TNI ke-64, hari ini, akan berlangsung bersahaja. Kebijakan ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap bencana gempa bumi dahsyat 7,6 skala Richter di Sumatera Barat, beberapa waktu silam.

“Tanpa mengurangi makna dan kekhidmatannya, HUT tahun ini diselenggarakan dengan sederhana,” kata Djoko Santoso, seusai memimpin geladi bersih HUT TNI, Sabtu (3/10), di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Upacara HUT TNI ke-64 rencananya dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Upacara yang akan diselenggarakan di Plasa Mabes TNI itu melibatkan 1.904 personel ketiga matra dan taruna-taruna dari akademi militer.

Peringatan HUT TNI akan lebih dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi. “Peringatan ini sekaligus sebagai wahana untuk mawas diri, guna melihat sejauh mana tugas pengabdian kepada bangsa telah dilaksanakan,” katanya.

Penyelenggaraan HUT TNI secara sederhana, bukan kali ini saja dilakukan. Beberapa tahun sebelumnya, peringatan pun berjalan bersahaja. Tampaknya, selain sebagai cermin keprihatinan terhadap saudara sebangsa yang terkena musibah, kesederhanaan juga refleksi dari kondisi TNI yang masih jauh dari mamadai.

Dari sisi anggaran, anggaran TNI jauh dari ideal. Pada tahun anggaran 2009, porsi anggaran TNI Rp33,6 triliun, sedikit turun dari tahun 2008 yang Rp36,4 triliun sebagai dampak krisis keuangan dunia. Dilihat dari persentase terhadap pendapatan domestik bruto (PDB), besaran angka itu terlihat memprihatinkan.

Pada 2008, angkanya berkisar 0,7 persen dari PDB. Sedangkan 2009 menurun menjadi 0,6 persen dari PDB. Padahal, idealnya, untuk membangun gugus kekuatan yang efektif hingga memiliki efek penggentar (detterence), anggaran militer idealnya 2 persen dari PDB.

Tak Sebanding Tetangga
Minimnya anggaran membuat proses pembangunan postur TNI yang kuat, masih menyisakan berbagai persoalan. Para pengamat sering menggambarkan postur militer di Indonesia, sebagai negara terbesar dalam jumlah penduduk dan wilayah di Asia Tenggara, harusnya melebihi Singapura.

Namun, Singapura ternyata memiliki anggaran pertahanan lebih besar, sekitar 238 persen, dibanding Indonesia, meski pendapatan domestik bruto (PDB) Singapura hanya 41,83 persen dibanding Indonesia. Anggaran pertahanan Singapura tercatat 5,3 persen dari PDB-nya.

Tahun 2010, anggaran akan dinaikkan Rp5-6 triliun, sementara Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono berharap kenaikannya bisa Rp7-10 triliun. Juwono selalu menyatakan bahwa untuk membangun kekuatan minimum saja, TNI butuh setidaknya Rp100 triliun per tahun. Kurangnya anggaran membuat program peremajaan dan pergantian alat utama sistem persenjataan tua berjalan lambat.

Tahun 2008, kata Juwono, sebenarnya anggaran pertahanan naik sekitar 12 persen dibandingkan dengan tahun 2007. Hanya, itu lebih banyak untuk gaji dan kenaikan uang lauk-pauk prajurit. Sedangkan untuk keperluan operasional sama saja. Bahkan, karena krisis ekonomi global, bebannya bertambah berat.

“Kami sudah menghitung dengan cermat karena anggaran ini sangat minim, hanya 30 persen dari yang minim diperlukan. Sebetulnya kami perlu Rp100 triliun atau sekitar US$11 miliar untuk negara seluas dan sebesar Indonesia,” kata Juwono.

Juwono membandingkan anggaran Singapura yang wilayahnya jauh lebih kecil daripada Indonesia mencapai US$4,4 miliar. “Jadi, teman-teman di mabes, tiap angkatan dan tiap satuan, betul-betul menjalankan fungsi yang sangat vital. Yaitu, menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dengan anggaran yang sangat minimum,” katanya.

Dengan anggaran hanya 36 persen dari kebutuhan minimal, kata Juwono, akan banyak pengurangan nyata. TNI akan mengalami minimum essential force dan minimum essential fund. “Tapi, prajurit kita man for man, saya yakin, paling baik di Asia Tenggara,” katanya.

Pengamat militer DR Edy Prasetyono menuturkan, sekalipun TNI mensyaratkan jumlah artileri untuk TNI AD, misalnya, harus 4.362 unit, toh dengan jumlah itu, kemampuan dukung serang TNI AD masih berada di bawah rata-rata negara Asia Pasifik, termasuk Thailand dan Vietnam.

Padahal, kalau dibangun dengan visi internasional, idealnya TNI harus menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara, baik dari segi jumlah alat utama sistem persenjataan, personel militer, maupun efektivitas komposisinya.

Anggaran pertahanan memang tidak bisa lepas dari situasi ekonomi global. Sebab, alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI masih mengandalkan negara lain. Dengan begitu, TNI juga harus menghitung ulang belanja alutsista pada 2008.

Anggaran dan Kecelakaan
Minimnya anggaran militer, dikaitkan dengan tingginya frekuensi kecelakaan alat utama sistem persenjataan yang dialami TNI. Terutama kecelakaan yang menimpa sejumlah pesawat TNI AU.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan kecelakaan pesawat TNI sering terjadi akibat minimnya anggaran untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista). Jusuf Kalla menyatakan ini terutama terkait kecelakaan pesawat Hercules di Magetan, Jawa Timur.

Wakil Presiden menyatakan kecelakaan pesawat TNI sering terjadi akibat minimnya anggaran untuk alat utama sistem senjata. “Ini memang akibat kita tidak memberi porsi anggaran yang cukup untuk alutsista kita. Apalagi Hercules yang kepentingannya bukan hanya untuk perang tapi juga untuk masa damai,” tuturnya.

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, akibat TNI kekurangan dana, maka biaya perawatan dan operasional alat pertahanan menjadi tidak ideal. Menurutnya, biaya perawatan yang seharusnya berkisar 20-25 persen dari anggaran keseluruhan, sekarang kurang dari 10 persen.

Namun Mabes TNI membantah maraknya kecelakaan alutsista, terutama pesawat TNI, lantaran kurang optimalnya alokasi anggaran untuk perawatan sarana dan peralatan TNI. “TNI menolak jika maraknya kecelakaan pesawat TNI dikaitkan dengan minimnya alokasi anggaran,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Marsda Sagoem Tamboen Mei silam.

Menurut Sagoem, perawatan selalu dilakukan TNI meski anggaran yang selama ini diterima sedemikian terbatas. Anggota Komisi I DPR Periode 2004-2009 Yuddy Chrisnandi meminta, insiden Magetan menjadi pelajaran dalam peningkatan proyeksi anggaran bagi TNI.

Sumber: Jurnas

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2009 in TNI

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: