RSS

Perdamaian di Aceh, Siapa yang paling berperan????

09 Oct

Pada saat Pemilu Presiden kemarin, masing-masing kandidat menganggap bahwa mereka memiliki peran dalam terciptanya perdamaian di Aceh. Jika anda bertanya pada saya, siapa yang paling berperan diantara ketiganya??  maka saya akan menjawab bahwa benar masing-masing kandidat memiliki peran dalam menciptakan perdamaian di Aceh, tetapi ada beberapa orang lagi yang berperan dalam menciptakan perdamaian di Aceh. Salah satunya adalah Farid Husain “the man behind scene”, yang ternyata tidak banyak diketahui orang, kalau beliau telah memberikan kontribusi yang besar dalam jalan menuju perundingan damai Malino I untuk menyelesaikan konflik Poso, perundingan Malino II untuk menyelesaikan konflik di Ambon dan Maluku, dan terakhir perundingan monumental RI-GAM di Helsinki yang akan mengakhiri 30 tahun konflik bersenjata di Aceh.

Farid Husain

Pak Farid saya minta untuk menjalin kontak. Harus berdialog langsung, tidak melalui perantara. Dulu CoHA kan lewat perantara, tidak berdialog langsung. Karena itu (kita) harus mencari kontak langsung. Harus diusahakan bagaimana berbicara langsung.

– Jusuf Kalla-

Semua langkah Farid itu saya laporkan kepada Presiden. Semua langkah yang saya ambil itu saya laporkan Presiden. Jadi,walaupun secara detail tidak diketahui langkah-langkahnya, tetapi secara umum langkah itu diketahui.

– Jusuf Kalla-

Menyelesaikan konflik di Aceh bukanlah perkara mudah, lebih dari 30 tahun telah tersimpan dendam dan kecurigaan antara masyarakat Aceh terhadap Republik ini, sehingga penyelesaian konflik yang ada membutuhkan suatu usaha yang maksimal untuk mencapainya (terlepas setelah perjanjian Helsinki, masih terjadi gangguan keamanan di Aceh, tetapi inti dari perjanjian itu tercapai yaitu Aceh tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia).

Tulisan ini saya buat untuk memberi informasi kepada publik tentang siapa saja yang berperan dalam perdamaian di Aceh sekaligus penghormatan kepada beliau-beliau, sebuah cerita tentang beberapa orang yang mewujudkan terciptanya perdamaian di Aceh, tentang seseorang yang masuk keluar hutan untuk menemui pimpinan GAM, cerita tentang beberapa orang yang tidak pernah muncul ke publik bahkan mungkin diketahui publik saat mengenang perjanjian Helsinki yang membawa perdamaian di Aceh, tentang orang-orang yang bahkan tidak diperbicangkan oleh media ketika media ramai membahas debat calon Presiden saat pemilu kemarin, tentang siapa yang paling berperan saat perdamaian Aceh. Sebagian tulisan ini adalah tulisan saudara Farid Husain dalam bukunya yang berjudul To See the Unseen (yang sayang nya sangat susah dicari) dan sebagian diambil dari sumber-sumber yang dapat dipercaya..

Pertengahan tahun 2003, ketika aceh bergolak kembali dan darurat sipil diberlakukan (dimana peraturan itu ditandatangani oleh Menko Polkam). JK mencoba menawarkan solusi lain kepada Presiden Megawati, yaitu melalui jalan damai.  Saat itu Mega menyetujui usulan JK, dan memerintahkan untuk segera menjalankan. Namun saat itu JK menginginkan perintah tertulis tapi tidak mau diberikan oleh Mega. JK kemudian meminta Farid Husain untuk mencari solusi bagi perdamaian di Aceh.

Sejak saat itulah Farid terlibat dalam proses perdamaian Aceh, hal itu dimulai dengan membuka kontak -kontak dengan pihak GAM secara informal, salah satunya adalah di suatu rumah makan khas Aceh, di kawasan Benhil, Jakarta. Dari usaha untuk membuka kontak-kontak dengan pihak GAM itulah, kemudian Farid memetakan kelompok mana saja yang memiliki pengaruh di GAM, secercah harapan muncul ketika seseorang bernama  Mahyuddin yang kemudian menjadi kunci bagi Farid untuk menyelesaikan konflik di Aceh. Pertemuan pertama mereka berdua dilangsungkan di rumah di JK, di Makassar, setelah pertemuan pertama itulah mulai dapat dilihat titik terang untuk menjalin kontak-kontak denga tokoh GAM. Pada titik ini Farid mencoba untuk membangun kepercayaan (trust) antaranya dirinya sebagai perwakilan (tidak resmi(pemerintah pada saat itu memiliki komitmen untuk tidak berunding dengan GAM)) pemerintah dan petinggi GAM.

Mahyuddin
Mahyuddin

Untuk menjalin kontak dengan para petinggi GAM bukanlah hal yang mudah, dalam pendekatan-pendekatan itu Farid didalam bukunya seringkali kecewa, dipermalukan dan dilecehkan, tetapi ia menganggap semua itu adalah tantangan tugas, ibarat pacaran katanya kalau ditolak satu-dua kali atau tidak diterima pulang saja dulu kemudian besok datang lagi, termasuk rencana pertemuan dengan petinggi GAM di Swedia yang beberapa kali ditunda. Maka untuk itu Farid mencoba membangun jalur komunikasi dengan petinggi GAM melalui keluarga dari mereka yang masih berada di Indonesia, agar terbangun rasa percaya.

Kontak tingkat tinggi pertama terjadi ketika Farid dan Mahyuddin yang baru pulang dari Swedia untuk menemui petinggi GAM (pertemuan yang kembali gagal) mampir ke Amsterdam, tidak disengaja didapatkan informasi bahwa salah satu panglima GAM yakni Sayid Mustafa berada disana. Pertemuan berlangsung dengan cukup panas karena Sayid berkata-kata dengan nada marah setiap menyinggung tindakan pemerintah RI di Aceh, tetapi Farid dengan gayanya yang lugas berhasil menenangkan keadaan dan pembicaraan berlangsung dengan baik. Keesokan harinya JK yang baru pulang dari Kuba akan singgah di Amsterdam, hal ini tidak disia-siakan oleh Farid untuk mempertemukan keduanya. Pembicaraan ini kemudian dilaporkan kepada Presiden Megawati.

Pintu menuju perdamaian Aceh yang lain terbuka ketika pada Desember 2003, Juha Christensen (yang telah dikenal Farid sebelumnya) menemui Farid (yang mewakili kantor Menko Kesra), untuk membicarakan mengenai penawaran produk yang dibutuhkan kantor Menko Kesra. Diakhir pembicaraan, Juha menawarkan Farid untuk dapat bertemu dengan petinggi GAM di Swedia, sejak saat itu dibangun pula komunikasi yang intens dengan Juha agar dapat bertemu dengan Petinggi GAM.

juha-christensen
juha-christensen

Ketika nama Juha muncul ke publik, banyak orang bertanya siapa dia?? bahkan ada beberapa orang yang mengatakan mengapa melibatkan pihak asing dalam perundingan dengan GAM?? Juha didalam buku tersebut mengatakan bahwa sejak tahun 2000, ia sudah menganalisis konflik Aceh. Pada 3 Juni 2003, ia membaca disebuah koran yang menyatakan bahwa para petinggi GAM bermukim di Swedia, dan merekalah yang mempunyai pengaruh atas konflik yang ada, Mulai saat itulah Juha membangun kontak dengan para petinggi GAM, pada saat itu pula lah ia mengetahui ada kelompok kecil d pemerintahan Megawati yang berkeinginan mencari cara baru untuk melanjutkan dialog dengan GAM. Pada Desember 2003, ia berdiskusi dengan Ahmad Fauzi Gani (Dubes Indonesia untuk Finlandia) tentang siapa yang harus dihubungi, ia disarankan untuk bertemu dengan JK. Dari situlah pertemuan dengan Farid terjadi pada bulan Desember 2003.

Sabtu 11 Februari, Farid (saat itu sebagai Deputi Menko Kesra) sebelum berangkat ke Iran, menuju ke Swedia melalui Finlandia untuk bertemu dengan petinggi GAM, sore itu, Farid yang menunggu di restoran diluar sebuah hotel menunggu Juha yang sedang bernegoisasi dengan Petinggi GAM untuk bertemu dengannya. Menjelang tengah malam Farid,yang tidak sabar berpindah menuju lobby hotel, melihat Juha dan 4 petinggi GAM (Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah dan satu orang lainnya) keluar dari lift. Tetapi dari sorot mata mereka, terlihat bahwa ke empat orang itu tidak sedang ingin bertemu dengan Farid. Pertemuan untuk ketiga kalinya yang gagal, membuat Farid emosi dan memarahi Juha karena pertemuan didepan mata gagal kembali. Kegagalan mempertemukan Farid dan petinggi GAM ternyata membekas pada diri Juha, maka pada malam itu ia mengontak Tapani Ruokanen, agar sudi mempertemukan Farid dengan Martti Ahtisaari . Martti Ahtisaari, merupakan mantan Presiden Finlandia dan berpengalaman menjadi penengah konflik diberbagai negara. Pertemuan dengan Martti Ahtisaari, menurut Farid perlu dilaporkan kepada JK, karena hal itu akan melibatkan institusi lain sebagai penengah konflik, yang kemudia disetujui oleh JK.

Martti Ahtisaari
Martti Ahtisaari

Pada hari Minggu keesokan harinya pukul 9 malam, Juha dan Farid menemui Martti dirumahnya di Helsinki. Pertemuan yang tidak lazim karena Martti biasanya tidak menemui tamu di hari minggu, tetapi permintaan dari Tapani membuat Martti melakukan hal diluar kebiasaannya. Menurut Farid dalam bukunya, ketika pertemuan pertama tersebut, ia dan Juha sama-sama belum pernah bertemu Martti tetapi dengan kemampuan diplomasinya Farid mampu menyakinkan Martti untuk bersedia menjadi penengah antara pihak GAM dan pemerintah Indonesia. Di kemudian hari Juha mengatakan bahwa pertemuan dengan Martti tersebut merupakan satu tahap penting menuju perundingan damai antara Pemerintah Indonesia dan GAM.

Pada tanggal 5 Maret 2004, Jk bertemu dengan Juha dan Farid di kantor Menko Kesra, dan meminta mereka bedua untuk tetap intens melakukan komunikasi untuk mengusahakan terjadinya perdamaian di Aceh. Pada bula-bulan itu, kondisi politik di Jakarta sudah memanas, Sby sebagai Menko Polkam pada itu telah mengundurkan diri dan berencana untuk mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pilpres tahun 2004. Pada bulan-bulan berikutnya, kegiatan pilpres makin banyak menyita kalangan pemerintaha Megawati, termasuk Sby-JK yan maju sebagai calon Presiden, sehingga untuk sementara upaya merintis perdamaian Aceh terabaikan, bahkan Presiden Megawati sendiri yang memerintahkan agar upaya itu dihentikan terlebih dahulu. Setelah Pemerintahan baru dibawah Sby-JK, usaha menuju perundingan damai semakin diintensifkan melalui peran Juha dan Farid yang saling menghubungi kubu pemerintah Indonesia dan GAM melalui jalur informal.

Banyak orang mengatakan bahwa peristiwa tsunami tanggal 26 Desember 2004 merupakan awal terjadinya keinginan dari pihak pemerintah Indonesia dan GAM untuk berdamai. Saya kira hal itu salah karena telah ada upaya sebelumnya yang dilakukan oleh Juha dan Farid untuk menciptakan perundingan antara kedua belah pihak. Kemudian pada tanggal 23 Desember 2004, telah ada kesepakatan antara kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan dan menyetujui Martti sebagai penengah. Tetapi saya kira terjadinya tsunami merupakan blessing disguise, yang semakin membuat kedua belah pihak semakin yakin untuk menuju meja perundingan. Selain itu pemerintahan baru dibawah Sby-JK juga menyiaratkan untuk dapat menghentikan konflik Aceh. Hal inilah yang membuat banyak petinggi GAM setuju untuk berunding dengan pemerintah Indonesia.

Menurut Farid, salah satu bagian tersulit dalam perundingan Aceh adalah saat ia harus menemui salah satu Panglima GAM, Sofyan Dawood di belantara hutan Aceh. Hal ini disebabkan ketika bulan Juni 2005, saat perundingan mendekati titik terang, JK ingin memastikan bahwa perundingan Helsinki akan dipatuhi oleh sayap militer GAM yang masih bersembunyi dihutan, sebab menurut JK percuma perundingan dilakukan jika ternyata tidak dipatuhi oleh pimpinan militer GAM. Setelah perjalan yang lama dan berganti-ganti kendaraan, serta perasaan was-was disepanjang perjalanan, yang detail perjalanannya bisa anda baca di buku atau di  website ini, akhirnya Farid bisa bertemu dengan Sofyan, dimana pada pertemuan tersebut, Farid diyakinkan oleh Sofyan bahwa sayap militer GAM akan mengikuti hasil perundingan di Helsinski.

Meja Perundingan

Perundingan yang dilangsungkan diperpustakaan Konigstedt Mansion, dimulai tanggal 27 Januari 2005. Dimana pada perundingan ini delegasi Indonesia diwakili oleh Menkuhham Hamid Awaluddin (ketua delegasi), Menkominfo Sofyan Djalil, Deputi Menko Polkumkan Usman Basjah serta Direktur HAM, Kemanusiaan dan Sosial Budaya I Gusti Agung Wesaka Pudja. Sementara dari pihak GAM adalah Malik Mahmud (Perdana Menteri GAM), Zaini Abdullah (Menlu dan Menkes), Bakhtiar Abdullah (jubir), Nur djuli dan Nurdin Abdul Rahman (intelektual GAM) serta Damien Kingsburry sebagai penasihat.

 dari kiri ke kanan: Mr. Usman Basyah, Mr. I Gusti Agung Wesaka Pudja, Mr. Farid Husain, Mr. Sofyan Djalil, Mr. Hamid Awaludin, Mr. Martti Ahtisaari, Mr. Malik Mahmud, Dr. Zaini Abdullah, Mr. Nur Djuli, Mr. Bakhtiar Abdullah, Mr. Nurdin Abdul Rahman
dari kiri ke kanan: Mr. Usman Basyah, Mr. I Gusti Agung Wesaka Pudja, Mr. Farid Husain, Mr. Sofyan Djalil, Mr. Hamid Awaludin, Mr. Martti Ahtisaari, Mr. Malik Mahmud, Dr. Zaini Abdullah, Mr. Nur Djuli, Mr. Bakhtiar Abdullah, Mr. Nurdin Abdul Rahman, ?

Perundingan putaran pertama (27-29 Januari 2005) ini tidak menghasilkan kesepakatan apapun. Walaupun media massa menyatakan perundingan ini kan gagal, tetapi Juha dan Farid berusaha untuk menyelamatkan perundingan dengan jalan membahas masalah tersebut secara informal setelah perundingan pertama selesai.

Secara total perundingan di Finlandia berlangsung selama 24 hari. Putaran pertama 27-29 Januari, Putaran kedua 21-23 Februari, Putaran ketiga 12-16 April, Putaran keempat 26-31 Mei, Putaran kelima 12-17 Juli dan penandatangan perundingan pada 15 Agustus 2005. Perundingan yang terjadi seringkali mengalami deadlock, sehingga seringkali diperlukan pertemuan informal diluar meja perundingan yang berlangsung pada saat makan dan istirahat.

Perundingan mulai mendapat secercah harapan pada putaran ketiga ketika pihak GAM mulai bersedia membahas soal-soal substantif dan lebih sedikit mengulang retorika masa lalu.

Posisi Damien sebagai penasihat GAM sejak awal sudah menjadi sorotan bagi delegasi Indonesia, terlebih ketika keberadaannya membuat perundingan menjadi jalan ditempat, bahkan alot. Bahkan Martti pun merasa Damien sebagai suatu persoalan. Hal itu tidak menjadi masalah lagi ketika Damien dipertemukan dengan JK di Jakarta.

Didalam sebuah sumber yang lain juga dinyatakan bahwa patut dicatat, peran Jusuf Kalla dalam perundingan itu, seperti kata satu Juru Runding GAM, M Nur Djuli, “sangatlah besar”. Terutama saat dialog terancam buntu, misalnya saat membahas soal sensitif, seperti partai lokal. Pada akhirnya, “Kalla memberi lampu hijau, sehingga perundingan bisa jalan terus,” ujar Nur Djuli. Kalla memang sangat terlibat., semua perunding RI, terutama Menteri Hamid Awaludin, kerap melaporkan jalannya dialog itu kepada sang Wakil Presiden. Kelenturan Kalla juga terlihat dengan cara dia membuat keputusan. Kalla lebih peduli pada hasil, pada tujuan, asalkan cara itu tak berlawanan dengan prinsip.

Tentu saja semua tindakan Kalla itu dilaporkannya ke SBY selaku Presiden RI. Kalla melakukan berbagai zig-zag, tapi pada akhirnya keputusan akhir berada di tangan SBY. Terutama untuk naskah perjanjian pada perundingan itu turut dikoreksi SBY kata per kata. Terutama berkaitan kerangka bernegara dan konstitusi. Menurut Nur Djuli, TNI melunak karena SBY meyakinkan mereka perundingan ini akan berhasil. Dan, pemberontakan bersenjata akan berhenti. “Tanpa persetujuan SBY sebagai Presiden RI, tidak mungkin MoU di Helsinki itu akan diteken oleh menteri utusan Pemerintah RI,” kata Nur Djuli.

Tetapi menurut JK, dalam proses perjanjian damai itu dirinya terpaksa bagaikan berjalan sendiri, karena setiap masalah yang dirundingkan dalam perdamaian “pemimpin” dan “presiden” menolak menandatanganinya, seperti soal partai lokal. “Coba periksa, tak ada tanda tangan siapa pun kecuali tanda tangan saya di dalam perjanjian perdamaian Helsinki itu. Saya pernah minta untuk ditandatangani soal pendirian partai lokal, akan tetapi presiden tidak mau. Akhirnya, saya yang menandatangani dengan segala risiko. Dan itu saya lakukan setelah 10 kali membacakan Surat Yasin bersama istri saya,” paparnya.

Saya tidak akan memasuki wilayah dimana JK dan SBY mengambil peran dalam perundingan damai, karena  niat saya adalah untuk memberi informasi kepada publik adanya tim yang terdiri dari orang-orang yang sangat tulus dan ikhlas seperti Farid dan Juha. Mengenai keterlibatan JK anda bisa membaca tulisannya sekitar perundingan Aceh didalam  blognya , Sementara peran Sby bisa anda cari dari keterangan beliau dimedia massa. Waktulah yang akan menjawab siapa diantara keduanya yang memiliki perang sangat penting dalam perdamaian di Aceh.

Disela-sela perundingan, tercatat Farid bertemu dengan beberapa orang yang berpengaruh di GAM, salah satunya adalah Irwandi Yusuf (Gubernur NAD sekarang).

Perundingan yang berlangsung selama 6 putaran, diawali pada 27 Januari 2005 dan diakhiri dengan penandatanganan MOU pada 15 Agustus 2005. Pada setiap itu pulalah berdasarkan keterangan anggota delegasi, Juha dan Martti, Farid selalu hadir dan berusaha menembus batas-batas personal demi menjaga agar situasi panas dan buntu tak menyurutkan tekad para negosiator untuk mencari solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, baik didalam ruang perundingan maupun disela-sela rehat.

The final test for Farid Husain was to act as a troubleshooter to save what could be a historical deal.

As the talks were almost deadlocked on July 15, he disappeared from the ambassador’s house where the delegates rested or chatted with journalist.

It turned out he had gone to the city to meet a GAM representative. The next day, the parties had an accord

The Jakarta Post, August 9, 2005

Saya kira perundingan Aceh yang paling murah yang kita lakukan. Karena tidak ada anggarannya, dari Negara. Istri saya yang menjadi bendahara . dr. Farid merangkap segala macam, karena dia yang paling muda. dan saudara Hamid yang akan tercatat dalam sejarah, karena fotonya ada di situ waktu penandatangan perjanjian damai.

Saya kira perundingan Aceh yang paling murah yang kita lakukan. Karena tidak ada anggarannya, dari Negara. Istri saya yang menjadi bendahara . dr. Farid merangkap segala macam, karena dia yang paling muda. dan saudara Hamid yang akan tercatat dalam sejarah, karena fotonya ada di situ waktu penandatangan perjanjian damai.

So.. jika anda bertanya pada saya siapa yang paling berperan dalam perdamaian di Aceh?? Maka saya akan menjawab bahwa beliau-beliau yang telah saya sebut tadi, memiliki peran yang sangat signifikan dalam mewujudkan perdamaian di Aceh. Tidak mungkin memilih satu yang terbaik, karena bila salah satu tokoh memilih untuk tidak terlibat dalam perdamaian di Aceh, maka mungkin ceritanya akan lain…

Tetapi dari penelusuran cerita ini saya menemukan fakta bahwa duet Farid Husain dan Jusuf Kalla ternyata telah menyelesaikan 3 konflik secara low profile…  Saya cuma bisa mengatakan.. Terima kasih pak, bukan hanya untuk perdamaian di Aceh, tapi juga di Poso dan Ambon… juga untuk nama-nama lain yang membantu terciptanya perdamaian diwilayah konflik diseluruh Indonesia.. yang tidak dapat disebut satu-persatu..

* dr. Farid Wadjdi Husain, Sp.B (K) pada tahun 2008 tercatat sebagai Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes

aling berperan diantara ketiganya??  maka saya akan menjawab bahwa benar masing-masing kandidat memiliki peran dalam menciptakan perdamaian di Aceh, tetapi ada beberapa orang lagi yang berperan dalam menciptakan perdamaian di Aceh. Salah satunya adalah Farid Husain “the man behind scene”, yang ternyata tidak banyak diketahui orang, kalau beliau telah memberikan kontribusi yang besar dalam jalan menuju perundingan damai Malino I untuk menyelesaikan konflik Poso, perundingan Malino II untuk menyelesaikan konflik di Ambon dan Maluku, dan terakhir perundingan monumental RI-GAM di Helsinki yang akan mengakhiri 30 tahun konflik bersenjata di Aceh.

Farid Husain

Pak Farid saya minta untuk menjalin kontak. Harus berdialog langsung, tidak melalui perantara. Dulu CoHA kan lewat perantara, tidak berdialog langsung. Karena itu (kita) harus mencari kontak langsung. Harus diusahakan bagaimana berbicara langsung.

– Jusuf Kalla-

Semua langkah Farid itu saya laporkan kepada Presiden. Semua langkah yang saya ambil itu saya laporkan Presiden. Jadi,walaupun secara detail tidak diketahui langkah-langkahnya, tetapi secara umum langkah itu diketahui.

– Jusuf Kalla-

Menyelesaikan konflik di Aceh bukanlah perkara mudah, lebih dari 30 tahun telah tersimpan dendam dan kecurigaan antara masyarakat Aceh terhadap Republik ini, sehingga penyelesaian konflik yang ada membutuhkan suatu usaha yang maksimal untuk mencapainya (terlepas setelah perjanjian Helsinki, masih terjadi gangguan keamanan di Aceh, tetapi inti dari perjanjian itu tercapai yaitu Aceh tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia).

Tulisan ini saya buat untuk memberi informasi kepada publik tentang siapa saja yang berperan dalam perdamaian di Aceh sekaligus penghormatan kepada beliau-beliau, sebuah cerita tentang beberapa orang yang mewujudkan terciptanya perdamaian di Aceh, tentang seseorang yang masuk keluar hutan untuk menemui pimpinan GAM, cerita tentang beberapa orang yang tidak pernah muncul ke publik bahkan mungkin diketahui publik saat mengenang perjanjian Helsinki yang membawa perdamaian di Aceh, tentang orang-orang yang bahkan tidak diperbicangkan oleh media ketika media ramai membahas debat calon Presiden saat pemilu kemarin, tentang siapa yang paling berperan saat perdamaian Aceh. Sebagian tulisan ini adalah tulisan saudara Farid Husain dalam bukunya yang berjudul To See the Unseen (yang sayang nya sangat susah dicari).

Pertengahan tahun 2003, Presiden Megawati meminta JK (Menko Kesra saat itu) untuk menyelesaikan konflik Aceh dengan jalan damai. JK kemudian meminta Farid Husain untuk mencari solusi bagi perdamaian di Aceh. Sejak saat itulah beliau terlibat dalam proses perdamaian Aceh, hal itu dimulai dengan membuka kontak -kontak dengan pihak GAM secara informal, salah satunya adalah di suatu rumah makan khas Aceh, di kawasan Benhil, Jakarta. Dari usaha untuk membuka kontak-kontak dengan pihak GAM itulah, kemudian Farid memetakan kelompok mana saja yang memiliki pengaruh di GAM, secercah harapan muncul ketika seseorang bernama Mahyuddin yang kemudian menjadi kunci bagi Farid untuk menyelesaikan konflik di Aceh. Pertemuan pertama mereka berdua dilangsungkan di rumah di JK, di Makassar, setelah pertemuan pertama itulah mulai dapat dilihat titik terang untuk menjalin kontak-kontak denga tokoh GAM. Pada titik ini Farid mencoba untuk membangun kepercayaan (trust) antaranya dirinya sebagai perwakilan (tidak resmi(pemerintah pada saat itu memiliki komitmen untuk tidak berunding dengan GAM)) pemerintah dan petinggi GAM.

Mahyuddin
Mahyuddin

Untuk menjalin kontak dengan para petinggi GAM bukanlah hal yang mudah, dalam pendekatan-pendekatan itu Farid didalam bukunya seringkali kecewa, dipermalukan dan dilecehkan, tetapi ia menganggap semua itu adalah tantangan tugas, ibarat pacaran katanya kalau ditolak satu-dua kali atau tidak diterima pulang saja dulu kemudian besok datang lagi, termasuk rencana pertemuan dengan petinggi GAM di Swedia yang beberapa kali ditunda. Maka untuk itu Farid mencoba membangun jalur komunikasi dengan petinggi GAM melalui keluarga dari mereka yang masih berada di Indonesia, agar terbangun rasa percaya.

Kontak tingkat tinggi pertama terjadi ketika Farid dan Mahyuddin yang baru pulang dari Swedia untuk menemui petinggi GAM (pertemuan yang kesekian kalinya yang gagal) mampir ke Amsterdam, tidak disengaja didapatkan informasi bahwa salah satu panglima GAM yakni Sayid Mustafa berada disana. Pertemuan berlangsung dengan cukup panas karena Sayid berkata-kata dengan nada marah setiap menyinggung tindakan pemerintah RI di Aceh, tetapi Farid dengan gayanya yang lugas berhasil menenangkan keadaan dan pembicaraan berlangsung dengan baik. Keesokan harinya JK yang baru pulang dari Kuba akan singgah di Amsterdam, hal ini tidak disia-siakan oleh Farid untuk mempertemukan keduanya. Pembicaraan ini kemudian dilaporkan kepada Presiden Megawati.

Pintu menuju perdamaian Aceh yang lain terbuka ketika pada Desember 2003, Juha Christensen (yang telah dikenal Farid sebelumnya) menemui Farid (yang mewakili kantor Menko Kesra), untuk membicarakan mengenai penawaran produk yang dibutuhkan kantor Menko Kesra. Diakhir pembicaraan, Juha menawarkan Farid untuk dapat bertemu dengan petinggi GAM di Swedia, sejak saat itu dibangun pula komunikasi yang intens dengan Juha agar dapat bertemu dengan Petinggi GAM.

juha-christensen
juha-christensen

Ketika nama Juha muncul ke publik, banyak orang bertanya siapa dia?? bahkan ada beberapa orang yang mengatakan mengapa melibatkan pihak asing dalam perundingan dengan GAM?? Juha didalam buku tersebut mengatakan bahwa sejak tahun 2000, ia sudah menganalisis konflik Aceh. Pada 3 Juni 2003, ia membaca disebuah koran yang menyatakan bahwa para petinggi GAM bermukim di Swedia, dan merekalah yang mempunyai pengaruh atas konflik yang ada, Mulai saat itulah Juha membangun kontak dengan para petinggi GAM, pada saat itu pula lah ia mengetahui ada kelompok kecil d pemerintahan Megawati yang berkeinginan mencari cara baru untuk melanjutkan dialog dengan GAM. Pada Desember 2003, ia berdiskusi dengan Ahmad Fauzi Gani (Dubes Indonesia untuk Finlandia) tentang siapa yang harus dihubungi, ia disarankan untuk bertemu dengan JK. Dari situlah pertemuan dengan Farid terjadi pada bulan Desember 2003.

Sabtu 11 Februari, Farid (saat itu sebagai Deputi Menko Kesra) sebelum berangkat ke Iran, menuju ke Swedia melalui Finlandia untuk bertemu dengan petinggi GAM, sore itu, Farid yang menunggu di restoran diluar sebuah hotel menunggu Juha yang sedang bernegoisasi dengan Petinggi GAM untuk bertemu dengannya. Menjelang tengah malam Farid,yang tidak sabar berpindah menuju lobby hotel, melihat Juha dan 4 petinggi GAM (Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah dan satu orang lainnya) keluar dari lift. Tetapi dari sorot mata mereka, terlihat bahwa ke empat orang itu tidak sedang ingin bertemu dengan Farid. Pertemuan untuk ketiga kalinya yang gagal, membuat Farid emosi dan memarahi Juha karena pertemuan didepan mata gagal kembali. Kegagalan mempertemukan Farid dan petinggi GAM ternyata membekas pada diri Juha, maka pada malam itu ia mengontak Tapani Ruokanen, agar sudi mempertemukan Farid dengan Martti Ahtisaari . Martti Ahtisaari, merupakan mantan Presiden Finlandia dan berpengalaman menjadi penengah konflik diberbagai negara. Pertemuan dengan Martti Ahtisaari, menurut Farid perlu dilaporkan kepada JK, karena hal itu akan melibatkan institusi lain sebagai penengah konflik, yang kemudia disetujui oleh JK.

Martti Ahtisaari
Martti Ahtisaari

Pada hari Minggu keesokan harinya pukul 9 malam, Juha dan Farid menemui Martti dirumahnya di Helsinki. Pertemuan yang tidak lazim karena Martti biasanya tidak menemui tamu di hari minggu, tetapi permintaan dari Tapani membuat Martti melakukan hal diluar kebiasaannya. Menurut Farid dalam bukunya, ketika pertemuan pertama tersebut, ia dan Juha sama-sama belum pernah bertemu Martti tetapi dengan kemampuan diplomasinya Farid mampu menyakinkan Martti untuk bersedia menjadi penengah antara pihak GAM dan pemerintah Indonesia. Di kemudian hari Juha mengatakan bahwa pertemuan dengan Martti tersebut merupakan satu tahap penting menuju perundingan damai antara Pemerintah Indonesia dan GAM.

Pada tanggal 5 Maret 2004, Jk bertemu dengan Juha dan Farid di kantor Menko Kesra, dan meminta mereka bedua untuk tetap intens melakukan komunikasi untuk mengusahakan terjadinya perdamaian di Aceh. Pada bula-bulan itu, kondisi politik di Jakarta sudah memanas, Sby sebagai Menko Polkam pada itu telah mengundurkan diri dan berencana untuk mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pilpres tahun 2004. Pada bulan-bulan berikutnya, kegiatan pilpres makin banyak menyita kalangan pemerintaha Megawati, termasuk Sby-JK yan maju sebagai calon Presiden, sehingga untuk sementara upaya merintis perdamaian Aceh terabaikan, bahkan Presiden Megawati sendiri yang memerintahkan agar upaya itu dihentikan terlebih dahulu. Setelah Pemerintahan baru dibawah Sby-JK, usaha menuju perundingan damai semakin diintensifkan melalui peran Juha dan Farid yang saling menghubungi kubu pemerintah Indonesia dan GAM melalui jalur informal.

Banyak orang mengatakan bahwa peristiwa tsunami tanggal 26 Desember 2004 merupakan awal terjadinya keinginan dari pihak pemerintah Indonesia dan GAM untuk berdamai. Saya kira hal itu salah karena telah ada upaya sebelumnya yang dilakukan oleh Juha dan Farid untuk menciptakan perundingan antara kedua belah pihak. Kemudian pada tanggal 23 Desember 2004, telah ada kesepakatan antara kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan dan menyetujui Martti sebagai penengah. Tetapi saya kira terjadinya tsunami merupakan blessing disguise, yang semakin membuat kedua belah pihak semakin yakin untuk menuju meja perundingan. Selain itu pemerintahan baru dibawah Sby-JK juga menyiaratkan untuk dapat menghentikan konflik Aceh. Hal inilah yang membuat banyak petinggi GAM setuju untuk berunding dengan pemerintah Indonesia.

Menurut Farid, salah satu bagian tersulit dalam perundingan Aceh adalah saat ia harus menemui salah satu Panglima GAM, Sofyan Dawood di belantara hutan Aceh. Hal ini disebabkan ketika bulan Juni 2005, saat perundingan mendekati titik terang, JK ingin memastikan bahwa perundingan Helsinki akan dipatuhi oleh sayap militer GAM yang masih bersembunyi dihutan, sebab menurut JK percuma perundingan dilakukan jika ternyata tidak dipatuhi oleh pimpinan militer GAM. Setelah perjalan yang lama dan berganti-ganti kendaraan, serta perasaan was-was disepanjang perjalanan, yang detail perjalanannya bisa anda baca di buku atau di  website ini, akhirnya Farid bisa bertemu dengan Sofyan, dimana pada pertemuan tersebut, Farid diyakinkan oleh Sofyan bahwa sayap militer GAM akan mengikuti hasil perundingan di Helsinski.

Meja Perundingan

Perundingan yang dilangsungkan diperpustakaan Konigstedt Mansion, dimulai tanggal 27 Januari 2005. Dimana pada perundingan ini delegasi Indonesia diwakili oleh Menkuhham Hamid Awaluddin (ketua delegasi), Menkominfo Sofyan Djalil, Deputi Menko Polkumkan Usman Basjah serta Direktur HAM, Kemanusiaan dan Sosial Budaya I Gusti Agung Wesaka Pudja. Sementara dari pihak GAM adalah Malik Mahmud (Perdana Menteri GAM), Zaini Abdullah (Menlu dan Menkes), Bakhtiar Abdullah (jubir), Nur djuli dan Nurdin Abdul Rahman (intelektual GAM) serta Damien Kingsburry sebagai penasihat.

 dari kiri ke kanan: Mr. Usman Basyah, Mr. I Gusti Agung Wesaka Pudja, Mr. Farid Husain, Mr. Sofyan Djalil, Mr. Hamid Awaludin, Mr. Martti Ahtisaari, Mr. Malik Mahmud, Dr. Zaini Abdullah, Mr. Nur Djuli, Mr. Bakhtiar Abdullah, Mr. Nurdin Abdul Rahman
dari kiri ke kanan: Mr. Usman Basyah, Mr. I Gusti Agung Wesaka Pudja, Mr. Farid Husain, Mr. Sofyan Djalil, Mr. Hamid Awaludin, Mr. Martti Ahtisaari, Mr. Malik Mahmud, Dr. Zaini Abdullah, Mr. Nur Djuli, Mr. Bakhtiar Abdullah, Mr. Nurdin Abdul Rahman, ?

Perundingan putaran pertama (27-29 Januari 2005) ini tidak menghasilkan kesepakatan apapun. Walaupun media massa menyatakan perundingan ini kan gagal, tetapi Juha dan Farid berusaha untuk menyelamatkan perundingan dengan jalan membahas masalah tersebut secara informal setelah perundingan pertama selesai.

Secara total perundingan di Finlandia berlangsung selama 24 hari. Putaran pertama 27-29 Januari, Putaran kedua 21-23 Februari, Putaran ketiga 12-16 April, Putaran keempat 26-31 Mei, Putaran kelima 12-17 Juli dan penandatangan perundingan pada 15 Agustus 2005. Perundingan yang terjadi seringkali mengalami deadlock, sehingga seringkali diperlukan pertemuan informal diluar meja perundingan yang berlangsung pada saat makan dan istirahat.

Perundingan mulai mendapat secercah harapan pada putaran ketiga ketika pihak GAM mulai bersedia membahas soal-soal substantif dan lebih sedikit mengulang retorika masa lalu.

Posisi Damien sebagai penasihat GAM sejak awal sudah menjadi sorotan bagi delegasi Indonesia, terlebih ketika keberadaannya membuat perundingan menjadi jalan ditempat, bahkan alot. Bahkan Martti pun merasa Damien sebagai suatu persoalan. Hal itu tidak menjadi masalah lagi ketika Damien dipertemukan dengan JK di Jakarta.

Didalam sebuah sumber yang lain juga dinyatakan bahwa patut dicatat, peran Jusuf Kalla dalam perundingan itu, seperti kata satu Juru Runding GAM, M Nur Djuli, “sangatlah besar”. Terutama saat dialog terancam buntu, misalnya saat membahas soal sensitif, seperti partai lokal. Pada akhirnya, “Kalla memberi lampu hijau, sehingga perundingan bisa jalan terus,” ujar Nur Djuli, Jumat pekan lalu.

Kalla memang sangat terlibat. Semua perunding RI, terutama Menteri Hamid Awaludin, kerap melaporkan jalannya dialog itu kepada sang Wakil Presiden. Kelenturan Kalla juga terlihat dengan cara dia membuat keputusan. Kalla lebih peduli pada hasil, pada tujuan, asalkan cara itu tak berlawanan dengan prinsip.

Tentu saja semua tindakan Kalla itu dilaporkannya ke SBY selaku Presiden RI. Kalla melakukan berbagai zig-zag, tapi pada akhirnya keputusan akhir berada di tangan SBY. Menurut Nur Djuli,  TNI melunak karena SBY meyakinkan mereka perundingan ini akan berhasil. Dan, pemberontakan bersenjata akan berhenti. “Tanpa persetujuan SBY sebagai Presiden RI, tidak mungkin MoU di Helsinki itu akan diteken oleh menteri utusan Pemerintah RI,” kata Nur Djuli.

Tetapi menurut JK, dalam proses perjanjian damai itu dirinya terpaksa bagaikan berjalan sendiri, karena setiap masalah yang dirundingkan dalam perdamaian “pemimpin” dan “presiden” menolak menandatanganinya, seperti soal partai lokal. “Coba periksa, tak ada tanda tangan siapa pun kecuali tanda tangan saya di dalam perjanjian perdamaian Helsinki itu. Saya pernah minta untuk ditandatangani soal pendirian partai lokal, akan tetapi presiden tidak mau. Akhirnya, saya yang menandatangani dengan segala risiko. Dan itu saya lakukan setelah 10 kali membacakan Surat Yasin bersama istri saya,” paparnya.

Mengenai peran lebih lanjut dari JK dan Sby, saya tidak akan berkomentar lebih banyak. Saya kira anda bisa menilai sendiri. Siapa yang bekerja dan siapa yang mendapat hasil jerih payah dari orang lain. Untuk lebih lanjut mengenai peran JK anda bisa membaca didalam  blognya , Sementara untuk Sby anda bisa membaca melalui berita di media massa. Waktu akan menjawab siapa diantara mereka berdua yang lebih berperan soal perdamaian Aceh.

Disela-sela perundingan, tercatat Farid bertemu dengan beberapa orang yang berpengaruh di GAM, salah satunya adalah Irwandi Yusuf (Gubernur NAD sekarang).

Perundingan yang berlangsung selama 6 putaran, diawali pada 27 Januari 2005 dan diakhiri dengan penandatanganan MOU pada 15 Agustus 2005. Pada setiap itu pulalah berdasarkan keterangan anggota delegasi, Juha dan Martti, Farid selalu hadir dan berusaha menembus batas-batas personal demi menjaga agar situasi panas dan buntu tak menyurutkan tekad para negosiator untuk mencari solusi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, baik didalam ruang perundingan maupun disela-sela rehat.

The final test for Farid Husain was to act as a troubleshooter to save what could be a historical deal.

As the talks were almost deadlocked on July 15, he disappeared from the ambassador’s house where the delegates rested or chatted with journalist.

It turned out he had gone to the city to meet a GAM representative. The next day, the parties had an accord

The Jakarta Post, August 9, 2005

Diakhir perundingan JK mengatakan, saya kira perundingan Aceh yang paling murah yang kita lakukan. Karena tidak ada anggarannya, dari Negara. Istri saya yang menjadi bendahara . dr. Farid merangkap segala macam, karena dia yang paling muda. dan saudara Hamid yang akan tercatat dalam sejarah, karena fotonya ada di situ waktu penandatangan perjanjian damai.

So.. jika anda bertanya pada saya siapa yang paling berperan dalam perdamaian di Aceh?? maka saya akan menjawab bahwa beliau-beliau yang telah saya sebut tadi, memiliki peran yang sangat signifikan dalam mewujudkan perdamaian di Aceh. Tidak mungkin memilih satu yang terbaik, karena bila salah satu tokoh memilih untuk tidak terlibat dalam perdamaian di Aceh, maka mungkin ceritanya akan lain… Tetapi saya salut dengan duet Farid Hussain dan Jusuf Kalla yang telah menyelesaikan 3 konflik secara low profile (hampir 4, jika perundingan damai yang akan dilakukan tidak sengaja dibocorkan kepada media)  Saya cuma bisa mengatakan.. Terima kasih pak, bukan hanya untuk perdamaian di Aceh, tapi juga di Poso dan Ambon…

* dr. Farid Wadjdi Husain, Sp.B (K) pada tahun 2008 tercatat sebagai Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Depkes

 
Comments Off on Perdamaian di Aceh, Siapa yang paling berperan????

Posted by on October 9, 2009 in Catatan Pribadi

 

Tags: , , ,

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: