RSS

Apa yang salah dengan super tucano???

02 Mar

Super tucano

Tadi pagi, bbrp teman mengabari untuk membuka web Seputar Indonesia , dan membaca artikel yang judulnya “DPR Kritik Rencana Pembelian Tucano” awalnya saya mengira hanya sebuah kritik anggota komisi tentang rencana pembelian pesawat ini. Tetapi ada yang harus dijelaskan kepada anggota yang bersangkutan, karena ada beberapa komentar beliau yang sepertinya sedikit “aneh”. Ini adalah  jawaban saya atas artikel tersebut…

Berikut adalah cuplikan artikel tersebut
Nggak tanggung-tanggung, yang saya dengar SuperTucano yang akan dibeli itu 12 unit,” katanya di Jakarta kemarin. Bagi Fayakhun, bukan hanya soal jumlah pembelian yang menjadi masalah. Lebih dari itu, soal fungsi,kegunaan,dan tujuan pembelian SuperTucano juga jadi masalah.“Kenapa harus Tucano,” tanya politikus muda partai beringin itu. Dia menjelaskan, secara fungsional, SuperTucano tidak cocok untuk melakukan pengawasan perbatasan.

Justru pesawat Oviten Bronco yang saat ini dimiliki TNI lebih fungsional dalam melakukan pengawasan perbatasan. ”Jadi seharusnya kalau mau beli pesawat untuk mengawasi perbatasan yalebih baik yang semodel dengan Oviten Bronco, tinggal hunting. SuperTucano itu mesin pesawatnya jadul meski keluaran baru dan nggak cocok untuk pengawasan perbatasan,”tandasnya.

Fayakhun menambahkan, ketimbang membeli pesawat, lebih baik membeli alat komunikasi dan sensor untuk perbatasan. Secara prinsip,alat komunikasi dan sensor lebih praktis dan fungsional dalam melakukan pengawasan perbatasan. ”Kebanyakan kan penebangan liar. Itu kan masuknya dari darat. Begitu alat beratnya masuk wilayah kita,itu sensor sudah bekerja,” tandasnya.

Jawaban saya:
-Nggak tanggung-tanggung, yang saya dengar SuperTucano yang akan dibeli itu 12 unit

Kalau yang bapak permasalahkan adalah jumlah pesawat, saya juga ikut permasalahkan mengapa hanya 16 unit (dari berita yang saya dapatkan Tucano yang ingin dibeli TNI AU adalah 16, mengapa bapak ini bilang 12??) atau 1 skuadron, mengapa tidak 2 atau 3 skuadron sekaligus?? ada perbatasan dengan malaysia yang harus dijaga, begitu pula dengan perbatasan dengan papua nugini. Itu kalau ingin berbicara tentang negara lain yang memiliki perbatasan negara di darat, bagaimana dengan laut kita yang luas?? perlukah dijaga??

-Lebih dari itu, soal fungsi,kegunaan,dan tujuan pembelian SuperTucano juga jadi masalah.“Kenapa harus Tucano,” tanya politikus muda partai beringin itu. Dia menjelaskan, secara fungsional, SuperTucano tidak cocok untuk melakukan pengawasan perbatasan.

untuk menjawab soal ini, saya kira teman saya sudah menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti yang kira-kira berbunyi:
walaupun pesawat tersebut masih menggunakan teknologi mesin baling-baling, namun bukan berarti menjadikan pesawat tersebut obsolete atau jadul.
alasan penggunaan baling-baling pada pesawat tersebut adalah dikarenakan pabriknya mendisain fungsi pesawat tersebut adalah untuk keperluan latih dasar hingga lanjut, anti greliya, hingga patroli perbatasan. Karena hal tersebut, teknologi baling-baling yang dipilih untuk dapur pacu pesawat tersebut, karena pada dasarnya untuk memenuhi tugas-tugas tersebut tidak dibutuhkan kecepatan tinggi (seperti yang diberikan oleh mesin jet), namun lebih di butuhkan daya jangkau yang jauh, daya tahan terbang yang lama, dan biaya operasional yg relatif murah.

-Justru pesawat Oviten Bronco yang saat ini dimiliki TNI lebih fungsional dalam melakukan pengawasan perbatasan.

oviten bronco?? maksud anda ov-bronco??? saya rasa sebagai anggota komisi 1 anda pasti sudah tahu bahwa bronco kita sudah digrounded sejak tahun 2007. dan sejak saat itu kita tidak punya pesawat COIN

– Jadi seharusnya kalau mau beli pesawat untuk mengawasi perbatasan ya lebih baik yang semodel dengan Oviten Bronco, tinggal hunting.

semodel dengan bronco?? ntah mengapa saya tidak mampu mencari padanan bronco selain super tucano….

– SuperTucano itu mesin pesawatnya jadul meski keluaran baru dan nggak cocok untuk pengawasan perbatasan,”tandasnya.

dari situs airforce technology didapatkan informasi bahwa mesin super tucano menggunakan mesin Pratt and Whitney Canada PT6A-68/3. benar mesin PT6 adalah mesin yang dikembangkan sejak tahun 60an, tapi apakah anda membaca tulisan 6Q-68/3 dibelakang PT6?? yang artinya mesin ini merupakan pengembangan dari mesin pT6 yang sudah melegenda…. lagipula mesin ini baru disertifikasi awal2 tahun 2000an, yang artinya mesin ini masih baru.. klo info yang saya baca disitus Airfarmer maka akan menemukan banyak pesawat yang menggunakan mesin ini. apakah industri pesawat2 tersebut mau menggunakan mesin PT6 jika mesin ini tidak bagus??

-Fayakhun menambahkan, ketimbang membeli pesawat, lebih baik membeli alat komunikasi dan sensor untuk perbatasan. Secara prinsip,alat komunikasi dan sensor lebih praktis dan fungsional dalam melakukan pengawasan perbatasan.

okey… Indonesia membeli alat komunikasi dan sensor, kemudian terdetect lah ada penyeludup lalu apa gunanya, klo itu terletak ditengah hutan diperbatasan??? apa gunanya alat pendeteksi klo engga ada alat pemukul?? super tucano inilah alat pemukulnya…

”Kebanyakan kan penebangan liar. Itu kan masuknya dari darat. Begitu alat beratnya masuk wilayah kita,itu sensor sudah bekerja,” tandasnya.

penerbangan liar atau penebangan liar??? penebangan liar masuk ranah kepolisian (komisi 3), penerbangan liar masuk ranah TNI (komisi 1).

tambahan informasi, dont judge this plane from it’s cover…. karena informasi yang ada menyebutkan bahwa pesawat super tucano yang akan dimiliki TNI-AU ini memiliki spesifikasi:

Cockpit
The all-glass cockpit is fully night vision goggle compatible. Brazilian AF ALX aircraft are equipped with avionics systems from Elbit Systems Ltd of Haifa, Israel, including a head-up display (HUD), advanced mission computer, navigation system and two 6in x 8in colour liquid crystal multi-function displays.
“The pilot is protected with Kevlar armour.”

The head-up display with 24° field of view and the advanced weapon delivery system are integrated through a MIL-STD-1553B data bus. The pilot is provided with a handson throttle and stick (HOTAS) control.

The pilot is protected with Kevlar armour and provided with a zero/zero ejection seat. The clamshell canopy, hinged at the front and rear and electrically activated, is fitted with a de-icing system and features a windshield capable of withstanding, at 300kt, the impact of a 4lb bird. A Northrop Grumman onboard oxygen generation system (OBOGS) is installed.

Weapons
The aircraft is fitted with two central mission computers. The integrated weapon system includes software for weapon aiming, weapon management, mission planning and mission rehearsal. Onboard recording is used for post mission analysis.

The aircraft has five hardpoints for carrying weapons, and is capable of carrying a maximum external load of 1,500kg. The aircraft is armed with two wing-mounted 12.7mm machine guns with a rate of fire of 1,100 rounds a minute and is capable of carrying general-purpose bombs and guided air-to-air and air-to-ground missiles. Brazilian AF aircraft will be armed with the MAA-1 Piranha short-range infrared guided air-to-air missile from Orbita.

The two seat AT-29 is fitted with a forward-looking infrared AN/AAQ-22 SAFIRE turret on the underside of the fuselage. The SAFIRE thermal imaging system supplied by FLIR Systems is for targeting, navigation and target tracking. The system allows the aircraft to carry out night surveillance and attack missions.

Navigation
The aircraft is equipped with an advanced laser inertial navigation and attack system, a global positioning system (GPS) and a traffic alerting and collision avoidance system (TCAS).
“The Super Tucano has five hardpoints for carrying weapons.”

Engine
The EMB-314 Super Tucano is powered by a PT6A-68A turboprop engine, developing 969kW. The power plant is fitted with automatic engine monitoring and control. The ALX aircraft has a more powerful engine than the EMB-314. The ALX’s Pratt and Whitney Canada PT6A-68/3 turboprop engine, rated at 1,600shp, drives a Hartzell five-bladed constant speed fully feathering reversible pitch propeller.

The fuel capacity is 695l, which gives a range of over 1,500km and endurance of 6hrs 30mins. The aircraft has a cruising speed up to 530km/h with a maximum speed of 560km/h.

mohon maaf sebelumnya karena blog ini jarang diupdate karena kesibukan saya…

 
32 Comments

Posted by on March 2, 2010 in Catatan Pribadi, TNI AU

 

Tags: , ,

32 responses to “Apa yang salah dengan super tucano???

  1. ipasha96

    March 5, 2010 at 3:44 am

    Setuju bro..jelas sekali dari pernyataannya kalau anggota dewan yang katanya terhormat ini sama sekali tidak mengerti akan ucapannya. Super Tucano lebih jadul dari Bronco ?? Kemana aja pak selama ini hehehehehe

     
  2. christamam Herry

    March 6, 2010 at 5:10 am

    iya,
    saya juga dah nulis tanggepan di wp-nya Ir. Fayakhun Andriadi, M.Kom, Anggota Komisi I DPR RI 2009-2014, Fraksi Partai Golkar, Fungsionaris DPP Partai Golkar 2009 – 2015, penggemar RC, fanatik ama angka 2000 dan gamer Winning Eleven itu
    ngga tau apa disetujuin buat ditampilin atau ngga

    tapi ngakak aja sih baca komentar Ir. Fayakhun Andriadi, M.Kom, Anggota Komisi I DPR RI 2009-2014, Fraksi Partai Golkar, Fungsionaris DPP Partai Golkar 2009 – 2015, penggemar RC, fanatik ama angka 2000 dan gamer Winning Eleven itu. mengenaskan sekali pengetahuan anggota komisi I itu.

     
  3. hassan

    March 6, 2010 at 11:26 pm

    DPR asbun aja..

    itu super tucano yg paling cocok utk kantong dan biaya perawatan..

    bronco udh selesai cerita.. kalo terbang lagi ya jatuh semua..

    yg jadul apanya pak DPR ? jgn taunya terima duit dari makelar utk batalkan proyek dan mengalihkan tender..

    jgn samakan sepeda roda dua dgn motor roda dua..

    udah beli nya sedikit.. pelit nya minta ampun..
    indonesia ini luasnya minta ampun.. jgn hambat alat2..

    emangnya yg mau nyetir pesawat itu DPR atau TNI ??
    DPR serasa yg mau tentukan.. tapi ujung2nya yg di gugus depan adalah pilot, seharusnya lebih dengar pilot daripada DPR golkar.. dari dulu udh terbukti golkar bikin hancur negara.. sejak alm harto.. diam aja deh

     
  4. bluerider6089

    March 7, 2010 at 1:17 am

    ya begitu memang,….

    komentar “orang2” yang terbiasa mau meng Goal kan tender Proyek dia !!!!

    Klo sensor memang menurut si Fayakhun ini efektif, nanti pas terdeteksi pelanggaran ( apabila sudah ada, ) MAKA SURUH SAJA DIA MENGEJAR KE TENGAH HUTAN BORNEO SANA !!!!!

    BICARA DI MEDIA LOGIKA GA DI PAKE ! SERASA BICARA DI TERAS RUMAH BARENG KOMUNITAS MOBIL REMOTE CONTROL DIA !

     
  5. Fayakhun Andriadi

    March 7, 2010 at 4:36 am

    saya perlu klarifikasi :

    – … mau membeli Tucano 12 unit ….
    : sewaktu media mewawancarai seusai raker dgn menhan dan Pang TNI, saya mengucapkan bahwa “media memberitakan dephan hendak membeli 16 unit Tucano ….” jadi saya katakan 16 (bukan 12) silakan di cek di rekaman wartawan ybs.

    Jumlah 16 ini saya ketahui dari media massa, krn hingga saat ini pihak Dephan belum pernah mengajukan ke Komisi 1. Berdasarkan jawaban staf Panglima TNI, proses saat ini adalah sdh melewati wanjaktu, yaitu menetapkan “kebutuhan” dan menyusun “spek tek”. Jadi tidak etis bila merek sdh disebutkan secara dini, menjadi tendensius.

    – “Kenapa harus Tucano? ”
    selagi TNI sdg menyusun kebutuhan dan spek tek, adalah tdk etis sdh menyebutkan merek tertentu.

    bila mempelajari “ancaman” menurut Buku Putih Dephan, diantaranya : ancaman kekuatan militer negara tetangga yg meningkat pesat, ancaman infiltrasi militer asing, ancaman kejahatan lintas batas, dan juga ancaman pencurian sumber kekayaan alam baik di darat dan di laut.

    Mari amati kekuatan udara negara tetangga (singapura, malaysia, brunei, papua nugini dan australia), bahwa skuadron tempur mereka sdh canggih spt singapore (f15, f16, ah64, dst) lalu malaysia (Sukhoi30, Mig29, f18), dan australia (f18, hawk, f111, uav), sehingga diperlukan pesawat tempur yg bersifat interseptor dengan kemampuan yang mampu mengungguli kemampuan musuh. Apakah “Tucano” mampu?

    untuk ancaman pencurian ska darat, diperlukan interceptor yaitu helikopter, baik yg bersifat tempur (apache, tiger,dsb) dan helikopter angkut serbu (blackhawk, superpuma, dsb). sehingga bila sensor perbatasan mengirim sinyal adanya pelanggaran perbatasan, lalu pos terdekat dengan alkom yang memadai melaporkan hasil pemantauan visual, helikopter tempur dan heli angkut bisa langsung berangkat untuk melakukan penyergapan.

    untuk ancaman pencurian ska laut,kita punya cn235 yg didesain khusus untuk tni al.

    dan jangan lupa bahwa kita sudah memiliki 1 skuadron sukhoi27 dan sukhoi30, yang mampu terbang pelan dan ampuh dalam menjalankan misi interceptor. Justru lebih baik anggaran digunakan untuk memperbanyak jumlahnya, dan memperbanyak senjata/rudal yg diperlukan. ketika pada th 2003 kita membeli sukhoi tanpa senjata, apakah itu layak?
    kita bisa melakukan spt india, membeli sukhoi dalam jumlah banyak sekaligus membeli lisensinya sehingga diproduksi sendiri dalam negeri. Bangsa Indonesia sdh harus mandiri.

    Saya tidak ada interest apapun thd urusan “Tucano” ini. Interest saya adalah :
    – Bangsa Indonesia dgn keterbatasan anggaran, harus optimal dalam menegakkan kedaulatan NKRI dan disegani oleh negara-negara tetangga.
    – Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang mandiri dalam kemampuan alutsista nya. Lebih baik uang yg banyak itu dipercayakan kpd Putra-Putri terbaik Indonesia, demi menjaga wibawa ibu pertiwi nya.
    – Jangan jadi bangsa yang “tanggung”. daripada beli sesuatu dengan alasan murah (ingat fenomena motor cina motcin), lebih baik beli yang bagus, yang sesuai dengan kebutuhan, lebih tahan lama, dan menyusun prioritas secara matang.

    Mari kita bersama-sama berbuat yang terbaik untuk bangsa Indonesia tercinta. jangan hanya sekedar bicara, bicara tdk menghasilkan apa2, namun lakukan apapun yang bisa kita lakukan sesuai dengan peran kita masing2. demi kejayaan bangsa.

    Semoga Tuhan YME melindungi Bangsa Indonesia dan memberikan kekuatan bagi kita semua. amin.

     
  6. blue_danube

    March 7, 2010 at 5:19 am

    jawaban normatif, pak fayakhun.. saya tidak melihat adanya jawaban yang seharusnya didapat oleh kami…
    tidak pada tempatnya membandingkan EMB-314 dengan Su-30 dan F-15…. sungguh menggelikan, pak…
    karena fungsi keduanya beda…

    anda ingin mengganti OV-10 dengan yang SEJENIS kan? pilihan udah ada.. KO-1 dan EMB-314… so? mau cari apalagi?

    kita punya berapa skadron heli di perbatasan, pak? mana yang lebih mudah, mengirim 1 flight EMB-314 untuk menggempur soft target di perbatasan, atau memobilisasi 1 flight Mi-35 dan Mi-17 beserta tentaranya?

    anda pengen menghemat anggaran kan? anda pasti tau berapa duit yang harus dikeluarkan TNI untuk menerbangkan 1 sorti Su-30… coba bandingkan dengan biaya menerbangkan EMB-314…

    silakan dicermati…

     
  7. mick_jager

    March 7, 2010 at 5:31 am

    comment Fayakhun Andriadi :
    Kalo F35 dll itu memang harus diimbangi sukhoi atau dll….
    Tapi untuk kebutuhan di darat diperlukan super tucano untuk menggantikan bronco…. Soalnya maling2 itu belum sempat TNI AU turun yang di senayan udah pada kenyang….. Ya bagi mereka nggak perlu lah super tuccano.

     
  8. Global Hawk UAV

    March 7, 2010 at 5:50 am

    setuju dengan juragan blue_danube
    buat Ir. Fayakhun Andriadi, M.Kom, Anggota Komisi I DPR RI 2009-2014, Fraksi Partai Golkar, Fungsionaris DPP Partai Golkar 2009 – 2015, penggemar RC, fanatik ama angka 2000 dan gamer Winning Eleven, ayo dong join ke KASKUS FORMIL (http://www.kaskus.us/forumdisplay.php?f=140) dan mari kita berdiskusi bersama🙂

     
  9. k98

    March 7, 2010 at 5:59 am

    Pak Fayakhun,
    klo utk melawan separatis/gerilyawan di hutan2 harus pake pesawat COIN spt Tucano yg bisa terbang rendah dan lambat bukannya F16 & Sukhoi…:D
    dan Tucano jarak terbangnya lebih jauh drpd helikopter..:)

     
  10. Eko PrasT

    March 7, 2010 at 6:30 am

    Alhamdulillah apabila benar yg memberi klarifikasi d atas adalah bnr Ir.Fayakhun Andriadi, M.IKom pribadi, mari kita brdiskusi trbuka pak, inilah wahana yg msh mungkin bagi rkyat & wakilnya utk brdiskusi trbuka.

    Mngenai kuantitas pesawat yg salah sebut di media, biarlah mnjadi mslh redaksional saja, apabila mmg bnr tdk sesuai dgn yg sudah bpk ucapkn ktika wawancara.

    Tanpa maksud mngurangi rasa hormat sdkitpun, tanggapan bapak sejujurnya cukup menggelitik bagi sy, dsini kapasitas sy bukan sbg seorang tentara ato aparat TNI pak, sy hanya seorang pgawai swasta yg mncintai TNI & NKRI.

    Apabila merujuk komentar bpk ttg prkembangan pswt intrceptor negara tetangga, kapasitas pswat TS (tempur sergap) kita skrg memang jauh dr mencukupi, brmodal 7 TS tipe Su27+Su30 & few F-16 kuno kita, utk negara yg seluas NKRI ini, kita sudah jauh ktinggalan. Oleh karena itu kita memerlukan backup brupa psawat TT (tempur taktis), saat ini kita ada Hawk109/209, meskipun sbnarnya psawat ini tdk cocok utk fungsi ini. Sbg cntoh, perlu brp lama Sukhoi trbang dr Makassar k Saumlaki apabila ada intrcept dsana?Apa mampu Hawk209 kita d Pekanbaru mghadapi intrcept F-18 RMAF?Sungguh miris.

    Menyikapi Super Tucano yg dibandingkn dgn OV-10, kdua psawat ini setipe pak, fungsi pswat ini adalah utk COIN (counter-insurgency), bkn sbg psawat intrceptor sperti yg bpk bcarakan, tdk pantas membandingkn dia dgn pswt intrceptor ato mnjadikanx intrceptor. Super Tucano sudah jelas2 jauh lbh canggih dr OV-10, bgaimana bisa anda blg OV-10 msh lbh baek? Super Tucano ini lbh co2k utk kgiatan patroli target darat d border & bs mnjadi light bomber, membawa rudal udara-darat pun bisa asal dipandu laser, dia jg pnya kemampuan air-to-air dgn membawa AIM-9 yg jg bisa dbawa F-16 kita.

    Apabila kita mengganti fungsi border patrol aircraft trutama d Kalimantan dgn “sensor”, lantas sensor apa yg akan kita pakai pak?Infrared?Ultrasound?CCTV?Satelit?Tlg ungkapkan detail ide bpk.
    Ide bpk sbnarnya ckup bagus, memanfaatkn tknologi, tp dr pngamatan sy, sensor yg layak utk border macam Kalimantan adalah imagery satellite yg dlengkapi survei video yg bisa mencakup sluruh wilayah 24jam penuh, utk yg lain, sprtinya rentan thd pencurian, damage, dll. Lantas, apakah pasti sensor itu lbh murah? Mhn dpertimbangkn juga, ada brp skadron heli tempur yg kita miliki? Brp panjang border kita? Apabila mnganut ide anda hybrid antara heli tempur & sensor, apa tdk trlalu lama jeda antara dtection & action? Mhn dktahui, heli hanya efektif apabila “udara” sudah dkuasai, apabila kita cm send heli tanpa air support & udara msh blm safe, thats called suicide pak. Thats why multirole COIN aircraft memegang fungsi sangat penting pak.

    1 point lg, sbgai seorg wrga negara yg sgt mncintai negarax NKRI, knp kita tdk riset psawat setipe Super Tucano saja utk kmandirian kdepan? Fyi, dulu IPTN pernah bkin prototype pswat propeler, tp tdk ada kelanjutan smp skrg ktika sudah brubah mjd PTDI. N250 yg “terbunuh” krn krisis moneter ’98 pun tak ada kbar, kalau bpk mmg cinta tanah air bpk, mhn hidupkan kmbali riset psawat d PTDI.

    Eko Prasetyo

     
  11. cbtendo

    March 7, 2010 at 8:36 am

    pak fayakhun,
    pertama, mohon diperhatikan bahwa tucano yang hendak dibeli itu akan menggantikan tugas ov-10 bronco, yaitu sebagai pesawat serang darat yang digunakan sebagai pendukung pasukan darat. sedari jaman ov-10, pesawat tersebut tidak digunakan untuk melawan pesawat negara lain, jadi, kenapa harus menari pesawat yang bisa melawan pesawat negara lain?🙂

    kedua, untuk sensor, boleh kita tau sensor seperti apa yang ada di pemikiran bapak?

    ketiga, tentang pemakaian sukhoi untuk melakukan tugas ov-10/tucano, itu seperti mengendarai mobil formula 1 untuk dipakai sehari-hari di jakarta pak..🙂
    itu terlalu cepat untuk dapat melakukan strafing (menembak kanon ke musuh di darat)… apabila pesawat terlalu cepat, maka pilot hanya memiliki waktu yang sangat sedikit untuk membedakan kawan dan lawan.. kalau tidak percaya, bisa dipraktekan dengan pesawat RC, toh di jakarta sudah ada yg memiiliki pesawat RC dengan menggunakan jet..🙂
    selain itu, penggunaan sukhoi utk tugas bronco/tucano itu sangatlah tidak efisien pak, sukhoi tidak dirancang untuk terbang dalam kecepatan rendah dalam waktu yang lama..
    sukhoi dirancang untuk terbang ngebut ke pesawat musuh, tembak jatuh, dan pulang lagi… jadi tidak dirancang untuk hemat bahan bakar..🙂 tentunya anda ingin menekan biaya operasional toh?🙂

    keempat, mengenai “jangan hanya bicara, tapi melakuakan sesuatu”
    yah, inilah yang kami lakukan pak, kami berdiskusi (menyampaikan aspirasi) dengan anda.. kenapa begitu? yah.. karena kami yang bukan wakil rakyat ini tidak memiliki hak menyampaikan pendapat pada rapat2 DPR/komisi… apabila kami dapat ikut rapat dan menyampaikan aspirasi kami, saya yakin, kami akan datang ramai-ramai dan ikut berdiskusi untuk menentukan kebijakan pak.🙂

     
  12. cbtendo

    March 7, 2010 at 8:38 am

    maaf lupa, nama saya wisnu aditya pak, salam kenal..🙂

    @saudara aghost
    mohon menggunakan tata bahasa yng sopan pak, kita disini untuk berdiskusi dengan sehat..🙂

     
  13. wahyu

    March 7, 2010 at 10:43 am

    keponakan saya aja tahu kalo tucano lebih baik dari OV-10.

     
  14. luki

    March 7, 2010 at 11:24 am

    hehheheh.. koq sama ya? keponakan saya juga tau kalau tucano lebih baik dai OV-10🙂 anak-anak sekarang memang sudah terbuka wawasan dan analisanya, thanks to oom google.

     
  15. Troopers

    March 7, 2010 at 4:45 pm

    Yang mau pake kan TNI bukan anggota dewan, TNI lbh tau apa yg dia butuhkan. Karena mereka spesialisnya, udah pak stujuin aja dmi trjaganya Wilayah NKRI Kita…. Buatlah macan ini mengaum kembali…

     
  16. Istamar, M

    March 7, 2010 at 10:12 pm

    salam….
    saya sependapat dengan teman diatas bahwa tidak fair membandingkan dua kelas yang berbeda dengan parameter salah satu kelas. apa maksud abang fayakhun yang sekelas dengan OV-10 bronco ntu A-10 thunderbolt?

    kenapa super tucano? apa abang sudah mengetahui pesawat yang sekilas serupa misal : Pucara, trus yang terbaru AT-6B. saya sendiri tidak tahu bagaimana kabar pucara yang amat fenomenal dalam perang malvinas. untuk AT-6B jika ternyata ini yang keluar, apa amerika mau jual? trus soal mesinnya kan sama seperti mesin super tucano yang mesinnya sempat anda pertanyakan.

    F-18,F-16, Su-30 dst emang bisa buat serang darat, karena termasuk pesawat multi-mission. akan tetapi untuk penyerangan target darat tanpa bom berpemandu akan sangat sulit untuk dilaksanakan. pesawat ini mesti terbang sangat tinggi, agar memperoleh sudut tembakan yang tepat. beda halnya dengan pesawat yang memang dikhususkan serang darat (terutama buru tank). peran ini sebenarnya menurut saya lagi, dpat digantikan dengan Heli. akan tetapi, pesawat sayap putar (heli) sangat rawan dengan serangan RPG, Rudal, dan rotor belakang mati karena berbagai sebab. selain itu, kecepatan terbang untuk hit dan run masih kalah dengan pesawt sayap tetap.

    salam dari saya mahasiswa jogja.

     
  17. tri h

    March 8, 2010 at 12:58 am

    mari duduk bersama,berdiskusi dan dapatkan solusi terbaik untuk NKRI

     
  18. tri

    March 9, 2010 at 10:29 am

    kalo aku yg diserahi tuga mencari pesawat pilihanku cuma 2.tambahan sukhoi atau tambahan hawk versi terbaru.titik

     
  19. Basilix

    March 12, 2010 at 2:43 pm

    buat yg bilang mesin super tucano itu jadul, ni saya kasih pencerahan :

    Yang namanya Engine, umur pakainya lama… Masa produksi lama…
    Kadang melewati pesawat2nya, apalagi bila seri engine nya sudah mendunia.
    Lihat saja PT6… biar pesawat latih macem2, enginenya PT6… Dari generasi Mentor Charlie sampai Wong Bee, PT6 semua…
    CFM-56 contoh bagus tuh… Dia dikembangin dari tahun 60an… perancangan serius awal 70an… dipake pertama kali 1980…
    Hari ini, jumlah CFM-56 yang beredar di pasaran itu baru separuh dari jumlah yang dipesan total dari pertama kali dipasarin artinya, umurnya masih panjang… mungkin nanti bakal tambah banyak pesanan untuk varian2 terbaru. Untuk pengembangan dari nol sampe jadi saja perlu waktu 20 tahun lebih tuh, baru diproduksi untuk pesawat2 komersial….

    Makanya kalau dilihat, pabrik engine itu lebih sedikit daripada pabrik pesawat. Makanya kalau orang2 bilang
    “Indonesia perlu buat engine sendiri untuk CN-235, ga usah beli dari GE”
    saya selalu jawab…
    “mimpi yang indah dulu ya …

     
  20. budiman suwandi

    March 19, 2010 at 3:44 am

    saya tidak ngerti ttg pesawat, tapi kl boleh kasih saran harusnya DPR mengundang pengamat/pakar dirgantara, sehingga DPR bisa mendapatkan secara jelas kebutuhan TNI AU dan apa solusi.
    Undang pengamat/pakar yang netral (alias tidak bisa dibeli dengan uang), ada baiknya rekan-rekan yang mengerti dirgantara merekomendasikan nama-nama pengamat dirgantara tersebut.
    Kalo saran sih undang mantan KSAU yang bersih, karena pastilah mantan KSAU mengerti kebutuhan, terus kasih tahu ke dia budget nya berapa, suruh dia kasih rekomendasi ke DPR.
    Thanks

     
  21. javablanqons

    March 31, 2010 at 7:39 pm

    Mohon maaf sebelumnya kalau ada yang tersinggung dengan tanggapan saya.
    Saya tidak bermaksud membela siapapun, tetapi yang saya pahami dari diskusi ini sepertinya pak fayakhun lebih menekankan soal kebutuhan alutsista bagi TNI dari sudut pandang politik (TNI menghadapi ‘potensi ancaman’ dari negara tetangga) dengan membandingkan apa yang dimiliki TNI sekarang dengan apa yang dimiliki negara tetangga, sementara banyak rekan2 yang ‘terjebak’ mengkritisi dengan lingkup sebatas komentar pak fayakhun, atau hanya dengan lingkup ‘tucano sebagai pengganti oviten’ (yang dari awal dianggap pak fayakhun sebagai ‘nanggung dan buang uang’ karena membeli alutsista yang tidak sesuai dengan kebutuhan (politik) tersebut diatas. Maaf kalau saya keliru.
    Menurut saya, konsep pak fayakhun mengenai sistem sensor untuk pengamanan perbatasan ada titik temu dengan ‘pembelaan’ rekan2 terhadap super tucano. Silahkan lihat program SIVAM milik brasil, dimana super tucano menjadi salah satu ‘pemeran utamanya’.
    Suwun..

     
  22. Tatung

    May 28, 2010 at 8:22 pm

    Memilih Super Tucano sebagai pengganti OV-10 adalah pilihan terbagus dari yang terjelek.
    Terbagus karena memang setelah usainya perang vietnam para ahli perang tampaknya memilih strategi baru dalam penetrasi soft target. Ini terbukti dari penyelesaian Rusia dan Amrik di Afghan dan penyelesaian Amrik di di Irak.
    Di Afghan, Unutk memberikan dukungan pasukan darat Rusia dan Amrik tak lagi memakai pesawat sejenis VO-10 (mestinya bila perlu A-10 bisa disesuaikan)
    Mereka memakai kombinasi AH-64, F-15 dan pesawat nirawak, Ruski memakai Frogfot Su-25 dan heli Mi-24 Hind.
    Nyatanya memang peran OV-10 tak ada pengganti. Pucara, Super tucano, frogfot , Wongbee itu tak bisa disejajarkan dengan OV-10 bronco.
    Hanya Broncolah yang mampu menyapu soft target sekalian menebar/menjelundupkan dua orang pasukan elite misalnya (dlm hal ini TNI pernah mencoba). OV-10 saat dibeli dulu cockpitnya extra dilengkapi kaca antipeluru dll lagi pula bermesin ganda memberikan extra safety (mungkin alasan yang sama mengapa A-10 dan Frogfot juga bermesin ganda).

    Dengan dikandangkannya OV-10 tentu strategi berperang TNI harus berubah. Mungkin fungsi Mi-31 TNI-AD bisa digandakan, atau fungsi OV-10 dipindahkan ke Mi-31? Lho jadinya kan porsi TNI-AU berkurang, dalam kebingungan inilah mungkin markas TNI harus cepat mencarikan pengganti OV-10. dalam hal ini Pucara sudah tak layak untuk dibeli. Wongbee terlalu enteng. Frogfot sepertinya kurang ideal, A-10 is overkill. Hmm tinggallah si Tucano yang sebetulnya berkemampuan tak sepadan dibanding dengan OV-10. jadilah Tucano itu dipermak abis-abisan dengan menambah endurance, memperbaharui cockpit dst dst. Di Amerika latin sendiri Supertucano ini baru berpengalaman combating drug dan jaga perbatasan. Sungguhan pengalaman perang ianya belum punya.

    Memang menghajar soft target dengan Su-27 ya keterlaluan. Pak DPR itu pandai bicara tapi kurang pirsa.

     
  23. LoL

    August 1, 2010 at 11:23 am

    PAk,kalau super tocano jelek, ngapain US NAVY special ops punya rencana beli 100 buah ya? Blackwater pun punya 4.

     
  24. Yoi

    August 10, 2010 at 6:59 pm

    Utk bpk2 di DPR tolong donk pikirin bangsa Indonesia ini.. jgn cuma ngoceh aja tp gk bsa kasih solusi yang baik… klo ngomong dipikir dulu jgn asal ngucap.., Maju TNI…

     
  25. HUDA SC

    August 27, 2010 at 1:00 am

    Wouw……….,Ulasan yang sangat menarik tuk disimak,Thanks untuk Infonya,,,,,,

     
  26. Tatung

    September 5, 2010 at 5:19 pm

    menanggapi komentat pak LoL

    US NAVY ingin memesan tucano demi keperluan Tactical inteligence dan surveillence. And Reconnaisence. Dengan catatan tucano itu bukan dibeli tapi diLease. Kemungkinan langkah ini dipilih karena US sendiri 40 thn terakhir tak mengolah/mengembangkan pesawat ringan untuk kepentingan ISR, US saat itu sudah memikirkan ISR tanpa awak (predator dan global hawk) Dan ternyata teknologi predator bisa memenuhi syarat, buktinya banyak operasi ISR di afganistan dan irak yang dilakukan oleh predator yang juga melepas peluru kendali kesasaran (walau sering salah sasaran)

    Tucano itu dipilih US NAVY tentu dengan beberapa pertimbangan antara lain, benda ini kan sudah ada dipasaran, mereka tak perlu lagi mengevaluasi. Teknologi yang dimiliki Tucano secara kasarnya adalah teknologi pasaran, yang tak perlu dilindungi. Jadi seandai dalam keadaan terpaksa tucano tsb dioperasikan di Irak (oleh blackwater) atau Afganistan US tak akan kecolongan teknologi seandai pesawat itu harus ditinggalkan dengan tergesa-2 dan jatuh ke tangan lawan. Lain halnya seandai predator atau global hawk itu jatuh ketangan lawan. Wah paman sam bisa kebakaran jenggot.

    Sekarang yang kita tahu fungsi Tucano yang akan dibeli TNI-AU itu tentu lain sekali dengan yang difungsikan US NAVY, yah skala keuangannya juga lain.

    Yang perlu kita cermati: apakah 20-30 mendatang dibumi pertiwi ini masih akan muncul gerakan separatis yang harus diperangi dengan peralatan perang canggih? Mengapa kita tak berkesimpulan untuk meniadakan gerakan separatis dengan cara memperbaiki system ekonomi dan politik negara ini? Agar semua manusia yang ada dibumi pertiwi ini sungguh-2 merasa menjadi bagian dari rakyat yang bersedia menitikkan darahnya demi NKRI? Seandai impian ini terjadi, hampir bisa dipastikan fungsi tucano adalah untuk menyapu soft target yang datang dari halaman tetangga.

     
  27. hajiwan

    November 16, 2010 at 6:37 am

    Salam to all.

    I understand of the need getting Super tucano for very short distance air support. But somehow, I believe TNI-AU should get a jet engine besides of propeller aircraft for the said purposes.

    BaeHawk is the best choice since it is very capable to do air support attack and good enough to be agile from been lock by Anti-Air Sistem. Super tucano is propeller air craft, not good agile enough to do massive manuver from been lock by anti air system. More over, RSAF( Singpore), RAAF (Aussie). RTA (Thailand)and TUDM (Malaysia) already using jet power air craft for that kind of purposes.

    I believe TNI-AU already has Bae Hawk 100/200 (if I not mistaken), so it can be uses for the purposes. It make sense because Bae Hawk is not good enough for dogfight/long distance fight (using Beyond Visual Range Misile which used by RSAF, RAAF, RTAF and TUDM). Your SU30MK and Su27 will be suitable for air to air superiority.

    I understand on the nationalism but the effective of the asset once conflict happen and the safety of the pilot must be considered deeply. Just something to share..

     
  28. soekarnoismLEFT

    December 8, 2010 at 6:25 am

    akhirnya kelar juga debat ngalor ngidul pengganti OV-10 sebagai COIN/CAS… sudah positif untuk menghadirkan 1 skwadron super tucano (16 unit)..btw anggota komisi 1 yang menangani bidang alutsista kok banyakan katro’ yak nggak yang sipil ataupun yang mantan tentara komennya itu loh kagak ada yang cerdas😦

     
  29. Gabrick123

    December 25, 2010 at 6:35 am

    Maklum Lah Anggota Dewan yang terhormat sudah menunjukan kemampuanya… amit2 sangat terbatas dan memalukan… niatnya sok pinter.. tapi ternyata justru bikin malu ,saya sebagai rakyat sangat menyesal.. kanapa memilih dia… sebagai wakil rakyat… ternyata tak lebih dan tak kurang… kemampuanya beda2 tipis dengan.. bakul pecel…
    Kapan negara kita maju… ?
    Mohon dipirkan masak2 sebelum berlagak….

     
  30. Gabrick123

    December 25, 2010 at 6:42 am

    Sebaiknya pak fayakhun Gak Usah Sok Pinter deh… klo tidak menguasai bidangnya.. sebaiknya… Diam… ( Silent is Gold)… daripada di nilai Anggota dewan kok memiliki anggota sekelas penjual pecell…dari partai terkenal.. lagi… kan repot.. ya pak fayakhun.. maaaf nih… kritik membangun…

     
  31. Temon

    January 4, 2011 at 2:55 am

    Maksud hati memeluk gunung,apa daya tangan tak sampai.Hahahaha…Betul rekan grabrick123.Tukang pecel ngomong alutsista,ya gak nyambung lah.Fungsi intai ilegal logging kok disamakan ama fungsi intercept.
    dpr nya spt ini,aplg pemerintahnya.
    Belanja alutsista kayak belanja sembako,semuanya mo dibeli,akhirnya mo nyukupin 1 skuadron tempur aja ruetnya minta ampun.
    Mulai dr om harto ampe pak sby gt2 aja.
    Coba deh pikirin,klo gak salah,anggaran belanja alutsista 2010 hampir 20 trilyun. Atau hampir 2 milyar dolar.
    Apa gak bs beli sukhoi 20 unit.Kan gak nyampe 1 milyar dolar.
    Thn brktnya baru beli mbt,thn brktnya beli kapal perang.Kan urusannya jd simpel..Maksud saya yg awam ini,mbok belanjanya tiap thn anggaran py prioritas gt loh.Jgn tlalu kemaruk.Akhirnya spt ini jdnya.
    Saking pinternya para petinggi negeri ini jd akhirnya blo on.
    Buat para elit partai,nempatin wakilnya yg kompetensi dibidangnya dong.Jgn tukang becak disuruh balap F1

     
  32. soekarnoismLEFT

    January 4, 2011 at 1:25 pm

    @temon bukan kagak kebeli gan tapi emang disengaja direcokin supaya dapet komisi, kek kagak tau ajah kerjaan anggota D(H)ewan😀 asal ada lapak basah langsung ngerubung kek laler ijo sok sibuk padahal ujung2x nye minta doku

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: