RSS

Apa yang terjadi sebenarnya di lebanon??

05 Aug

Hari ini Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan mengenai anggota TNI yang tergabung dalam IndoBatt yang bertugas dalam misi UNIFIL di Lebanon. Hal ini bermula ketika muncul sebuah video yang diupload beberapa jam setelah terjadi kontak tembak-menembak antara tentara Lebanon dan tentara Israel, dengan judul yang cukup bombastis….

Kemudian kantor berita Al Manar menurunkan berita, yang salah satunya tertulis
On Tuesday, Al-Manar television aired images of two Indonesian soldiers, presumably from UNIFIL, leaving the site of the skirmish in a shared taxi.

Polemik menjadi semakin panjang ketika beberapa media luar menampilkan foto pasukan IndoBatt yang tengah berlindung dari tembakan, bukan membantu mengusir tentara Israel. Berita ini kemudian dijadikan referensi oleh beberapa media di Indonesia, walaupun kemudian dibantah oleh Panglima TNI bahwa kedua anggota IndoBatt tersebut tidak melarikan diri dari lokasi kontak tembak menembak.

Tetapi berita yang tidak utuh tersebut, telah terlanjur dipublikasikan dan menyebabkan semacam image bahwa, anggota TNI yang tergabung dalam IndoBatt melarikan diri lah, gampang paniklah, tidak membantu tentara Lebanon lah dan lain-lain…

Baik, saya akan mencoba untuk merangkum informasi yang dapat dipertanggung jawabkan yaitu hasil diskusi sepanjang malam di formil kaskus, sumber:  Formil Formil , keterangan resmi IndoBatt , Pralangga

Apakah video kedua anggota Indobatt tersebut benar?? Ya video itu benar, tapi video tersebut tidak menceritakan secara detail tentang keadaan saat itu.
Dari Sumber: The National didapat informasi bahwa:

UN officials say a small contingent of Unifil troops from an Indonesian battalion were on the scene when the first shots were fired by Lebanese army soldiers. An Israeli military unit was removing a tree from an area near the international line of demarcation, known as the Blue Line.

The Indonesian troops had attempted to stop any escalation in the fighting, but when the exchanges grew heavy, they were ordered to retreat or find cover. Hizbollah’s Al Manar television showed images on Tuesday night of stunned and dehydrated Indonesian peacekeepers being attended to by local medics and helped into a taxi, in a village near the fighting.

Milos Strugar, Unifil’s senior political adviser, told Israel’s Army Radio yesterday that the Israeli military had followed agreed-upon protocol and “informed Unifil that it was going to conduct maintenance works” along the border.

Tensions were already high early Tuesday morning, several UN and Unifil sources said. Unifil initially had asked the Israeli military to delay the tree removal because they were unclear as to what exactly was to take place, but the IDF denied this request. At around 7am, Unifil informed the Lebanese army about the Israeli plan to prune or cut down the tree. Two hours later, the Lebanese military officials replied, saying they would not approve the work.

Not long after the tree-cutting began at mid-morning, a patrol of Lebanese soldiers began to trade verbal insults with the Israeli soldiers doing the tree-cutting work. Indonesian soldiers tried to intervene with the Lebanese soldiers, but the situation only intensified. Unifil officials said that they believe the first shot was fired by a Lebanese army sniper, but the investigation of the exact origins of the firefight was continuing.

“Maybe we’ll never know,” said the UN official. “Was it an exchange of AK-47 fire and then the sniper shot, or did the sniper fire first? All we know is that from the moment the IDF saw there was a casualty, they decided to engage.”

UN peacekeepers did not escape the confrontation unscathed. Al Manar TV reported that in some cases, villagers attempted to block Unifil vehicles from fleeing the combat zone, demanding that they return and fight. But current and former Unifil officials said that at that point in the conflict, it was out of peacekeepers’ hands.

Hal itu diperkuat dengan foto-foto sebagai berikut

Hal Ini diperkuat dengan video (perhatikan mulai menit 1:20), karena alasan tertentu video tersebut tidak dapat ditampilkan disini, tetapi anda bisa melihat video tersebut di http://www.youtube.com/watch?v=_dSrcWIHDCI

Laporan resmi dari IndoBatt menyatakan.
Kompi A Indobatt telah melakukan segala upaya prosedural se-maksimal mungkin untuk meredakan situasi. Upaya negosiasi kedua pihak di lapangan yang dimediasi oleh Indobatt dan Liaison Officer (LO) dari markas UNIFIL, telah dilakukan selama kurang lebih 4 (empat) jam. Demi meredakan ketegangan yang terjadi, Danki A Indobatt Kapten Inf Fardin Wardhana mengambil resiko meloncati pagar pengaman jalan, kemudian turun mendekat ke area Blue-Line yang belum sepenuhnya bersih oleh ranjau (UXO), dengan mengibar-ngibarkan bendera PBB dan berdiri di tengah-tengah kedua belah pihak yang sedang berhadap-hadapan dengan bersenjata lengkap (pointing). Bukan hanya itu saja, anggota Tim Kompi A Indobatt yang saat itu berjaga-jaga di Observation Post (OP) tersebut, seluruhnya membantu dengan mengibarkan bendera sambil mengangkat tangan serta meminta kepada kedua pihak agar dapat menahan diri dan dapat mencari kata sepakat mengenai pemotongan pohon cemara tersebut.

Menurut keterangan yang diperoleh dari saksi mata Lettu Inf Arief Widyanto, selaku Perwira Force Protection Indobatt yang saat itu berada di tempat kejadian, dijelaskan bahwa situasi menjadi makin menegangkan dan sangat tidak terkendali saat salah satu pihak melepaskan tembakan. Tembakan tersebut selanjutnya memicu terjadinya kontak tembak antara IDF dan LAF. Sesuai prosedur, prajurit Indobatt melakukan tindakan taktis mencari tempat perlindungan di sekitar lokasi kejadian saat terjadi baku tembak antara LAF dan IDF. Sesuai dengan perintah Komando, prajurit Indobatt kemudian melaksanakan pengunduran diri mencari posisi berlindung yang aman dan menunggu perintah lebih lanjut. Baku tembak ini melibatkan dua pesawat Heli Apache dan 3 (tiga) Tank ”Markava” IDF, yang melepaskan tembakan ke arah kedudukan pasukan LAF.

Situasi pertempuran yang makin hebat dan membahayakan personel Unifil dalam hal ini Indobatt, memaksa Markas Komando Sektor Timur Unifil mengambil keputusan dan memerintahkan Komandan Indobatt untuk menarik personel Indobatt yang berada di lokasi kontak tembak ke posisi yang lebih aman sambil tetap memonitor keadaan. Dalam proses penarikan pasukan tersebut, personel Kompi A Indobatt terpecah menjadi dua kelompok yang terpisah satu sama lain karena gencarnya tembakan yang dikeluarkan oleh kedua pihak dalam pertempuran tersebut. Satu kelompok ke arah Al-Adaisse dan kelompok yang lain ke arah Kafer Kela. Dari hasil pengecekan personel, didapati masih ada dua personel yang belum diketahui keberadaannya dan putus kontak dengan induk pasukan.

Selama satu jam lebih, keberadaan dua prajurit tersebut ternyata masih berada di lokasi peristiwa kontak senjata. Kedua prajurit Indobatt ini, terjebak dalam kontak senjata kedua belah pihak dan hanya bisa berlindung di balik bangunan tanpa dapat malakukan pengunduran dari daerah pertempuran. Setelah kontak tembak sedikit mereda Kopda Zulkarnain dan Praka Oksa berusaha mencari pasukan kawan ke arah Kafer Kela yang merupakan Area of Responsibility (AoR) Spain Battalion. Kedua prajurit ini tidak bertemu dengan satupun anggota Peacekeeper yang diharapkan berada di pos pengamatan Spainbatt, karena telah ditarik mundur oleh Komando Atas.

Dari keterangan kedua prajurit tersebut, mereka memutuskan untuk menuju ke arah Fatima Gate, persimpangan jalan dimana terdapat OP (Observation Post) Spainbatt lainnya. Sama seperti kejadian pada pos sebelumnya, mereka tidak menemukan satupun anggota UN yang siaga di tempat tersebut. Dalam keadaan putus hubungan komunikasi dengan pasukan induk serta tanpa mengetahui situasi terakhir, mereka menerima bantuan salah satu masyarakat Lebanon yang bersedia mengantarkannya ke markas Indobatt UN Posn 7-1 desa Adshit Al-Qusayr yang berjarak 15 Km dari Fatima-Gate.

sementara dari pralangga didapatkan informasi kejadian sebagai berikut

Pagi itu hari Selasa 02 Agustus 2010 jam 0900 saya melintas Panorama point sebuah pos UN yang sangat strategis dan termasuk dalam daftar Hot Spot yang dikendalikan oleh Prajurut Kompi A Indobatt. Daerah ini merupakan perbatasan langsung antara wilayah Lebanon dan Israel yang hanya dipsahkan oleh pagar yang disebut Technical Fence. Saya berempat menuju Brigade Sektor Timur dalam rangka CIMIC meeting untuk melaporkan perihal proyek-proyek dan program kerja CIMIC Indobatt ke G-9/CIMIC Brigade.

Pada saat melintas itu kami menyaksikan sebuah strada UN milik Indobatt berada dalam posisi memisah antara kedudukan Lebanese Armed Forces (LAF) dan Technical Fence dengan Israel Defence Force yang berada di kedudukan pos seberang. Sepertinya semua sedang menunggu sesuatu. Saya inisitif kontak ke sentral komunikasi Indobatt melalui HT menanyakan kira-kira kawan-kawan menunggu apa koq kayaknya tegang. Akhirnya kami mendapat jawaban bahwa mereka menunggu Crane Pemotong Pohon yang datang dari Israel.

Pada saat itu Indobatt mendapat perintah dari Tactical Operation Centre (TOC) Brigade Sektor Timur untuk melaksanakan tugas pengawasan dan pengawalan terhadap rencana Israel untuk menebang pohon-pohon yang kebetulan tumbuh hampir rapat dengan Technical Fence. Pohon-pohon ini dianggap menggangu kinerja Technical Fence dan sekaligus mengganggu observasi Pasukan Israel.

Proses menunggu crane itu sebenarnya dimulai sejak pukul 0800 pagi dan pasukan Indobatt baru berjumlah 11 prajurit. Di sisi lain, LAF memberikan batas waktu pemotongan antara pukul 0900 hingga 1200 siang hari. Setelah menunggu dengan siaga penuh selama lebih dari 3 jam akhirnya crane itu datang terlambat pada pukul 1230. Jumlah pasukan Indobatt sudah mencapai 36 prajurit dan langsung dipimpin oleh Danki A Kapten INF Fardin dan Wadanki Kapt INF Makdum.

Ketika crane datang terlambat sebenarnya LAF sudah mengokang senjata mereka, jumlah pasukan LAF pun juga semakin besar dan menyatakan keberatan jika pemotongan itu dilanjutkan karena sudah melewati batas waktu sesuai kesepakatan. Rekan-rekan prajurit Indobatt yang berada diposisi terus berteriak-teriak agar pemotongan itu tidak dilanjutkan karena sudah melewati batas waktu kesepakatan. Namun demikian IDF tidak peduli dan terus melanjutkan pemotongan tersebut hingga mulut crane melewati pagar Technical Fence.

Seluruh pasukan LAF telah mengambil posisi tiarap dan membidik, Kapten INF Fardin dan Kapt INF Makdum meloncati pagar besi untuk turun kebawah padahal daerah yang dia turuni adalah lading ranjau dan UXO. Dia dan seluruh pasukan terus berteriak-teriak dan melambai-lambaikan bendera UN menghalau dan mengatakan agar pemotongan itu dihentikan. Tetapi sekali lagi IDF tidak peduli dan meneruskan proses pemotongan itu.

Tidak lama setelah itu Mayor Hussein yang menkomandoi LAF memerintahkan untuk menembak ke udara. “Dar..” – tembakan satu kali itu rupanya langsung direspon dengan berondongan senapan mesin Israel.

Kawan-kawan Indobatt masih tetap pada posisi sambil terus mengibarkan bendera UN dan berteriak: “Cease Fire-cease fire…!!!” tetapi teriakan itu kalah dengan rentetan senapan otomatis dari kedua pihak hingga tidak lama berselang tank Markava Israel memuntahkan mortar 120 mm menghantam pos LAF yang berada 100 m sebelah kanan posisi rekan-rekan prajurit Indobatt.

Perintah pengunduran pasukan diterima dari Komandan Satgas agar seluruh prajurit Indobatt mencari perlindungan terdekat dan kembali ke POS UN terdekat. Posisi berbanjar 36 prajurit bukan posisi mudah untuk mencari perlindungan. 36 prajurit tercerai-berai, empat mobil strada Indobatt digunakan perlindungan oleh LAF, sehingga prajurit Indobatt harus mencari perlindungan lain.

Lebih dari tiga kali dentuman 120 mm mortar, dilanjutkan dengan tembakan bantuan udara dari Sebuah Helicopter Apache Israel menhantam sisi atas bukit diatas posisi perlindungan rekan-rekan Indobatt. Belum cukup dengan tembakan bantuan, disebarlah bom fosfor yang dengan dahsyatnya membakar apa saja yang diatas tanah. Tidak cukup dengan Apache, jet tempur mulai masuk dengan tembakan kaliber 12,7 mm menyebar butiran peluru ke beberapa bangunan yang berdiri di atas bukit.

Serangan dahsyat itu berlangsung selama kurang lebih 1 jam.

Komandan terus mengadakan kontak dengan Kapt INF Fardin untuk mengetahui berapa jumlah personil terakhir. Diperoleh jawaban bahwa dua orang hilang. Berita hilangnya dua prajurit Indobatt ini disisi lain menyebabkan urungya Israel membombardir seluruh wialyah perbukitan Addaisse. Israel tidak ingin serangan mereka menyebabkan kerugian nyawa maupun materiil pasukan Internasional. Kami tahu hal ini karena Perwira LNO (Liaison Branch) berpangkat Mayor dari Portugal, yang kebetulan berhasil lolos dari pertempuran dan mengungsi ke Markas Indobatt.

Perwira Menengah ini masih dengan suara bergetar dan tangan yang gemetar menunjukkan posisi kedua prajurit dipeta berdasarkan kotak terakhir dengannya di lokasi insiden. Kemudian dengan menggunakan telpon genggamnya dia berkomunikasi dengan pihak Israel memberikan informasi posisi terakhir dua orang prajurit Indobatt ini.

Akhirnya diketahui bahwa kedua prajurit Indobatt tersebut telah berhasil mengundurkan diri ke arah Kafer Kela posisi terdekat outpost Batalyon Spanyol. Namun demikian rupanya semenjak terjadinya letusan pertama, Brigade Sektor Timur telah memerintahkan seluruh pasukan UNIFIL ditarik dari posisi masing-masing untuk kembali ke markas dan melaksanakan prosedur kontingensi. Mengetahui bahwa outpost Batalyon Spanyol sudah ditarik mundur, kedua prajurit ini berinisiatif untuk terus mengundurkan diri ke arah outpost kedua Batalyon Spanyol yang berada di Fatima Gate.

Setelah berjalan melambung mengikuti kontur bukit sejauh lebih dari 3 KM, mereka mencapai posisi outpost kedua Spanyol di Fatima Gate. Namun demikian mereka tidak menemukan satupun pasukan kawan karena semua personil sudah ditarik mundur.

Pada saat itu melintas sebuah kendaraan warna merah yang di kemudikan oleh seseorang yang mengenal prajurit Indobatt. Pengemudi ini adalah kawan binaan Indobatt yang juga bekerja memungut sampah di Markas Indobatt di Adshit Al Qusayr. Mengetahui dua orang prajurit Indobatt kelelahan ditawarkan kepadanya minuman jus dan air mineral. Tidak disadari bahwa pertemuan mereka ini diliput oleh stasiun TV Al Manar.

Meskipun pengemudi sudah melarang Media ini untuk meliput peristiwa ini mereka tetap saja memaksa untuk melakukan kegiatannya. Mengetahui situasi semakin tidak kondusif pengemudi ini segera meminta kedua prajurit Indobatt masuk ke mobil yang dia kemudikan dan mengantarkan keduanya kembali ke Markas Indobatt UN POSN 7-1 Adhsit AlQusayr.

Sungguh diluar dugaan semua pihak bahwa pengunduran yang telah susah payah ditempuh dan kedekatan dengan penduduk Lebanon yang diliput Al Manar justru dipelintir sebagai skandal terburuk untuk menjatuhkan UNIFIL sekaligus Indobatt. Malam itu disiarkan keseluruh Lebanon bahwa Dua Prajurit TNI Kabur dari Medan Tugas dengan Menggunakan Taksi.

Bahkan bila kita membandingkan dengan ROE dari UNIFIL, dimana saat terjadi kontak tembak menembak pasukan IndoBatt harus kembali ke markas.. Tapi seorang teman disana mengatakan
Selama Rifle Gunshots , dalam deru peluru IDF Sniper Group , anggota kita masih punya niat untuk beridiri DI TENGAH2 dan KIBARKAN BENDERA UN….
Cuma untuk hentikan tembak menembak pertama kali …

Bagi saya yang membaca hal ini, bukan rasa malu terhadap kedua prajurit tersebut malah rasa bangga semakin besar terhadap mereka berdua.

Kemudian ada foto yang cukup mengganggu bagi saya, yang mengesankan bahwa pasukan IndoBatt bersembuyi :

hal tersebut dapat dijelaskan: Doktrin menghadapi serangan antara Militer dan Sipil berbeda
Kalo kami militer bilamana ada tembakan kaliber besar seperti kemarin sudah pasti akan berlindung dan menghindari tempat konsentrasi tembakan , dalam ops militer tehnik ini digunakan untuk melaksanakan serangan lambung dan counter attack.

Semoga penjelasan ini dapat membantu, menjernihkan apa yang terjadi kemarin….
Bagi saya pribadi apa yang dilakukan oleh pasukan IndoBatt pada hari itu, merupakan suatu kebanggaan…tetapi penilaian anda terhadap mereka, tergantung bagaimana anda memaknai apa yg mereka lakukan hari itu….

 
9 Comments

Posted by on August 5, 2010 in TNI

 

Tags: , ,

9 responses to “Apa yang terjadi sebenarnya di lebanon??

  1. malindo

    August 6, 2010 at 2:09 am

    Hakikat di medan tidak sama dgn apa yg difantasikan atau dibukukan.

    Sebaiknya hal ketenteraan dijauhkan sama sekali daripada media dan masyarakat awam yang tidak faham realiti di perbatasan.

    Inilah salah satu aspek negatif daripada penglibatan tentera dgn bidang bukan ‘combatant’. Pada mata awam, tentera adalah insan kasar yg bersenjatakan senapang dan bom, gunanya utk berperang dan menembak peluru dan bom. Hakikatnya, tentera masa kini sudah mula berfungsi dalam pelbagai bidang yg tak konvensional.

     
  2. malindo

    August 6, 2010 at 2:22 am

    Tentu tidak masuk akal bagi rakyat biasa apabila pasukan khusus Malaysia dan Indonesia boleh bergabung dlm latihan gabungan bersama, di saat pelbagai isu di antara kedua-dua negara dihangatkan di internet, media, warung kopi, jalanan malah dalam parlimen.

    Inilah contoh perbezaan ketara pemikiran di antara golongan tentera, rakyat biasa, media dan ahli politik.

     
  3. niecknieck

    August 20, 2010 at 8:06 am

    makanya media itu jangan asal menyebarkan berita tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi kasian mereka2 yang harusnya berjasa malah menjadi korban

     
  4. papeda bungkus

    August 28, 2010 at 8:56 pm

    Tetapi kenapa keberpihakan TNI terhadap tentara Libanon bisa terjadi disana? Kenapa TNI tidak mencoba untuk menenangkan/menghentikan tentara Libanon dari pada hanya berusaha menghentikan tentara Israel. Tentara Israel tidak berniat menyerang Libanon, tetapi tentara Libanon lah yang berniat menyerang Israel. TNI spertinya kurang cocok di tempatkan di daerah konflik Libanon-Israel, karena keberpihakannya. Lebih cocok TNI di daerah konflik yang tidak berbau SARA!

     
  5. Riadi

    February 7, 2011 at 3:59 am

    Salut buat TNI…..gw yg baca aja sampai merinding….

     
  6. joko

    February 17, 2011 at 3:54 pm

    media hanya mengejar rating……

     
  7. penengah

    August 2, 2011 at 3:43 pm

    Tetapi kenapa keberpihakan TNI terhadap tentara Libanon bisa terjadi disana? Kenapa TNI tidak mencoba untuk menenangkan/menghentikan tentara Libanon dari pada hanya berusaha menghentikan tentara Israel. Tentara Israel tidak berniat menyerang Libanon, tetapi tentara Libanon lah yang berniat menyerang Israel. TNI spertinya kurang cocok di tempatkan di daerah konflik Libanon-Israel, karena keberpihakannya. Lebih cocok TNI di daerah konflik yang tidak berbau SARA! <<<

    siapa yg koment gini??
    apa gak baca dengan bijak?
    karena israel yang awalnya tidak ingin mendengarkan permintaan IDF, jadi yg diutamakan ya israel, dengan maksud kiri2 seperti ini.
    jangan di lanjutkan lagi pemotongannya, krn Libanon akan menyerang, krn perjanjiannya udah lewat.
    jadi salah kalo TNI berpihak

     
  8. kabdg

    October 26, 2011 at 3:57 am

    kita tidak perlu menyalahkan tni kita beginilah, begitulah coba kita renungkan apa kita sendiri anggup untuk melaksanakan tugas seperti mereka di sana, sedangkan kita disini cuma duduk manis dan menjelek jelekan mereka!

     
  9. jtxmisc

    June 12, 2015 at 8:52 pm

    mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: